Neymar

Semua mata tertuju ke layar TV. Terlihat seorang pemain tergeletak. Orang-orang berjalan mendekat. Tiba-tiba sang pemain yang tergeletak itu terlihat tersentak-sentak, badan melengkung, berguling-guling. Serentak keluar makian-makian dari semua yang ada di sekitar saya. Dari mulut saya pun langsung mengalir keluar sederet nama binatang. Oh…

Tak lama sesudah itu, media sosial dibanjiri oleh lelucon sindiran. Banyak orang muak dengan kepalsuan Neymar. Ia seorang pemain yang baik, tetapi kelicikannya dalam bergaya seolah telah tersakiti secara mistik itu membuat banyak orang menertawakannya. Oh…

Di tengah tawa saat menyaksikan video, gambar, meme, tentang ulah Neymar itu, tiba-tiba saya terhenyak. Orang benci dengan kepalsuan semacam itu. Orang benci dengan kecurangan seperti itu. Orang terusik karena dengan kelihaian bermain drama seperti itu Neymar bisa memanipulasi keadaan sehingga wasit menjatuhkan hukuman bagi pihak yang tidak bersalah, dan sang pemain drama justru mendapat hadiah. Tegasnya, rasa keadilan banyak orang langsung tercabik-cabik. Sungguh tidaklah adil bahwa yang “berpura-pura menjadi korban” mendapat hadiah, sedangkan yang tidak bersalah justru mendapat hukuman.

Memainkan peran sebagai korban?

Jujur saja, memanipulasi keadaan dengan berpura-pura menjadi korban bukan hanya dilakukan oleh Neymar. Bukan hanya dilakukan oleh banyak pemain sepakbola yang memang telah dilatih untuk melakukan dive yang bisa terlihat alami. Bermain sebagai korban adalah strategi yang banyak digunakan orang. Ketika kesadaran ini muncul, saya tidak lagi melihat seorang Neymar yang sedang asyik berguling-guling dengan ekspresi menahan sakit luar biasa. Saya melihat diri saya sendiri dalam drama Neymar itu.

Bukankah demi keuntungan diri, kadang kita sengaja secara mahir berpura-pura menjadi korban? Kita menjerit iba karena telah dizalimi. Simpati dan bantuan pun datang mengalir. Bukankah untuk lari dari tanggung jawab, kadang kita mencoba melemparkan kesalahan pada pihak lain? Dengan itu kita terbebaskan dari hukuman atau konsekuensi tindakan kita. Ya, dalam skala yang berbeda-beda, dalam bentuk lapangan rumput yang berbeda-beda, dalam pertandingan yang berbeda-beda, kita kadang menjadi Neymar, atau bahkan lebih buruk.

Saya teringat akan peringatan Musa kepada bangsa Israel sebelum masuk ke Tanah Terjanji. Mungkin sudah bisa ditebak, bahwa mereka akan mudah tergoda untuk “bermain sebagai korban” (play victim). Dengan itu mereka bisa berdalih. Jika mereka tidak bisa setia kepada Tuhan, itu karena mereka telah menjadi korban keadaan.

Maka, kepada mereka Musa menegaskan bahwa perintah Tuhan itu tidak sulit, tidak terlalu jauh, tidak di atas langit, tidak di seberang laut. Mereka tidak bisa berdalih bahwa tidak ada yang bisa mengambilnya dari tempat yang jauh tak terjangkau itu. Ini yang akhirnya ditegaskan: “Tetapi firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan” (Keluaran 30:14).

Singkatnya, Musa mengingatkan mereka untuk tidak “bermain sebagai korban.” Jangan mencari-cari alasan dengan berujar, “Kami tidak mampu setia karena kami tidak mendapat informasi yang jelas, karena tidak ada guru yang mendampingi kami, karena Kitab Suci sulit dipahami, karena aturannya terlalu rumit, bla bla bla…”

Jangan menyalahkan siapa pun atau apa pun ketika kamu berada dalam keadaan terpojok! Jangan katakan, “Semua terjadi begitu saja di luar kendali saya,” tetapi akui dengan jujur, “Ya, saya telah memilih untuk melakukannya.” Jangan katakan, “Saya telah dijebak,” tetapi katakan, “Saya ikut andil dalam kesalahan ini.”

Kalau kamu jujur mendengarkan apa yang ada di hatimu, kamu pasti mampu hidup sebagai orang baik, tetap memilih yang baik, tetap setia pada ajaran Tuhan. Jika kamu terus jujur mendengarkan bisikan kebaikan dari Yesus, kamu bisa mengubah dunia. Di hadapan Tuhan, jangan berharap kamu bisa bersandiwara seperti Neymar!

About Tano Shirani

Tano Shirani adalah lulusan program teologi Santa Clara University, California, Amerika Serikat. Sudah sejak lama, ia memiliki mimpi untuk ikut melayani orang muda melalui tulisan-tulisan rohani. Tano telah menerbitkan buku Namaku Lazarus: Merangkul Bisikan Kerahiman (Kanisius, 2016) dan Pendosa Jadi Pendoa: Gejolak Pertobatan Tujuh Pemazmur (Kanisius, 2017). Di tengah kesibukan menulis, menerjemahkan, dan menyunting berbagai tulisan, Tano juga melatih penulis-penulis rohani dalam komunitas Domus Cordis. Ia gemar melahap buku, dan sungguh percaya akan the power of words untuk mengubah dunia dan perjalanan seluruh sejarah umat manusia.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top