Pacaran, boleh sejauh mana?

Kalau lagi nggak berantem, dua orang yang pacaran pasti menantikan waktu-waktu buat berdua. Malam Minggu atau hari-hari ketemuan selalu jadi saat yang menyenangkan. Rencana pun sudah mulai dibuat: Dari pakaian yang akan dipakai, tempat makan favorit, nyoba tempat makan baru, film yang bakal ditonton, atau tempat nongkrong untuk ngobrol-ngobrol. Kalau jalan di mall, atau bahkan di gereja, tangan mereka bergandengan, atau yang cowok merangkul bahu atau pinggang si cewek. Waktu makan, biasanya sepasang kekasih memilih duduk bersebelahan dibanding berhadapan. Seandainya duduk berhadapan pun, tangan mereka menyatu, saling berpegangan di atas meja. Waktu nonton film di bioskop, genggaman itu juga nggak dilepas. Malam hari, ketika sudah tiba saat untuk berpisah, si cowok atau si cewek akan memberikan kecupan sebagai tanda perpisahan sementara.

Keinginan untuk kontak fisik, normalkah?

Semua perilaku di atas memperlihatkan kepada kita bahwa kedekatan hati biasanya akan diikuti dengan keinginan untuk berdekatan secara fisik di antara sepasang kekasih. Timbulnya keinginan untuk berkontak fisik (catat: keinginannya) adalah hal yang normal, proses yang alami terjadi di dalam tubuh kita, karena hubungan seksual adalah puncak ungkapan kasih antar manusia sebagai pasangan yang telah melangsungkan pernikahan. Seorang kudus pernah mengatakan bahwa kasih mendambakan persatuan dengan yang dikasihinya.

Buat yang belum menikah, normal sih kalau punya keinginan untuk kontak fisik. Tapi pertanyaannya adalah, “Sejauh mana kontak fisik itu aman dilakukan pada masa pacaran?” Ada yang mengatakan, “Bebas-bebas aja, selama gak hamil.” Ada juga yang mengatakan, “Ya.. sebatas cium pipi atau bibir bolehlah, asal jangan lama-lama.”

Jadi, sampai sejauh mana bolehnya?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, pertanyaan yang harus dijawab dalam hati masing-masing adalah: Apa niat saya berkontak fisik dengan pasangan saya? Apakah pegangan, ciuman, belaian, pelukan, dan semua kontak fisik itu adalah untuk kesenangan saya, atau untuk kebaikan dia? Apakah dengan perilaku saya membawanya ke arah yang lebih baik? Apakah saya lebih mampu membawa dia lebih dekat dengan Tuhan?

Apa-apa yang ada di dalam hati sangat menentukan perilaku yang keluar dari diri kita. Kita bakal ngerasain tarikan-tarikan di dalam pikiran dan hati ke arah yang satu dan ke arah yang lain. Seperti sebuah pertempuan antara hati dan pikiran kita, begitu juga dengan tubuh kita. Hanya karena si cewek nggak hamil selama proses pacaran, bukan berarti hati keduanya tulus dan murni.

Cara supaya pacaran nggak “kebablasan”

Tarikan-tarikan dan pertempuran di dalam pikiran dan hati kita bisa berlangsung panjang, lama, dan butuh waktu sampai akhirnya kita bisa menguasai diri dan memilih apa yang baik dan benar. Supaya kamu bisa tetap saling melindungi, beberapa tips berikut ini dapat dipakai sebagai acuan atau patokan.

  1. Bayangkan orang tua atau Yesus ada di situ

Apapun yang akan kalian lakukan waktu lagi berduaan, bayangin kalau di ruangan itu ada orang tua atau Yesus duduk bersama kalian. Kita semua tahu bahwa Yesus selalu menginginkan yang terbaik. Bayangkan juga, bagaimana kalian ingin seorang laki-laki memperlakukan anak perempuan kalian.

  1. Stop ketika mulai berpikir mesum dan seronok

Semua dimulai dari pikiran. Ketika pikiran mesum itu mulai timbul, berhentilah. Terkadang, batasan waktu dari pikiran menuju tindakan sangatlah sempit, sehingga orang beralasan khilaf atau kebablasan. Padahal kita tahu, tidak ada istilah atau alasan untuk khilaf, karena pasti ada pemikiran ke arah sana sebelum perbuatan itu terjadi. Karenanya, ketika pemikiran mesum dan seronok itu timbul, maka harus dengan cepat kita mengatakan TIDAK.

  1. Hindari ciuman yang bernafsu

Pasangan dianjurkan tidak melakukan ciuman yang bernafsu, di bawah dagu, dan dalam posisi tiduran. Semakin sering sepasang kekasih melakukan kontak fisik di dalam hubungannya, hubungan tersebut akan semakin berada di dalam lingkaran kontak fisik. Setiap pertemuan dan ketika ada kesempatan (bahkan kesempatan dicari sampai dapat), yang ada di pikiran hanyalah kontak fisik tersebut. Ketika kontak fisik terjadi, maka tubuh kita cenderung menginginkan lebih dan lebih, sampai pusat “reward” di otak kita terpuaskan. Karenanya, pasangan perlu memagari dirinya dari kontak fisik satu dengan yang lain.

Yang tidak kalah penting: berdoalah!

Serius nih. Berdoalah! Biarkan Tuhan memberi roh penguasaan diri yang baik dan memberikan kemurnian hati dalam menjalani proses pacaran ini. Hanya dengan memiliki kemurnian hati, pasangan tidak akan melewati garis batas yang tidak diinginkan. Hanya dengan cinta yang sejati, maka kita dapat menginginkan yang terbaik untuk pasangan kita, bukan menggunakan tubuhnya untuk kesenangan kita semata.

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.” (Galatia 5:22-23)

About Lucia Luliana

Lucia Luliana menempuh pendidikan spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi di Universitas Indonesia. Dokter yang akrab dipanggil "Zhen" ini menjadi praktisi perkembangan anak-anak berkebutuhan khusus. Perjumpaan dengan Tuhan membawa perubahan dalam hati dan hidup Zhen, sehingga membuatnya ambil bagian dalam melayani Tuhan.

Dalam komunitas Domus Cordis, ia ambil bagian dalam bidang formasi orang muda. Zhen ingin berbagi lebih banyak lagi melalui tulisan-tulisannya, supaya orang muda juga melihat wajah Tuhan, dan ikut mengalami perubahan.





5 comments on Pacaran, boleh sejauh mana?

  1. Steven Liu says:

    amen

  2. Dina says:

    Awesome 😍

  3. berbahaya says:

    Daebak

  4. Pricilla says:

    Nice 😊

  5. Xavi says:

    Thanks.. Sederhana namun sangatlah bermanfaat. TYM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top