Paradoks Cinta Sang Raja

Kalau perjalanan tahun liturgi adalah sebuah biografi, segera terlihat bahwa tokoh utama mengalami langkah-langkah yang sarat dengan paradoks kehidupan. Kisah diawali dengan persiapan menuju saat kelahiran. Hati manusia dipulihkan untuk kembali berani berharap. Perubahan besar akan dilakukan Allah. Manusia yang telah sangat melukai rencana indah Allah dituntun agar berani bermimpi besar bersama Allah. Apapun yang dianggap tidak mungkin bukanlah tembok pembatas bagi Allah untuk membuat pembalikan.

Betapa mengejutkan ketika saat kelahiran itu tiba.

Yang terlihat adalah gambaran yang serba rendah, lemah, tak berdaya. Kandang kotor, bayi mungil, gembala. Gema mimpi besar Allah bersama manusia dipertegas dengan tindakan pengosongan diri. Dari keabadian Allah memilih untuk mewujud dalam ruang terbatas seorang manusia. Agenda besar keberanian Allah untuk menaklukkan semua musuh dibuka dengan menyediakan hati untuk dianggap tak berdaya tanpa kilau pesona.

Sekian minggu pun berlalu.

Gema lagu syahdu telah lama sirna, kertas pembungkus hadiah telah berubah fungsi, warna merah dan hijau telah pupus tersimpan rapi. Mimpi besar Allah dilanjutkan. Hati manusia mulai kehilangan kesabaran. Sampai ke titik itu. Abu dioleskan di dahi, keriaan sukacita pesta dibatasi, hati diajak merunduk berkain karung. Empat puluh hari lebih, gerak merendah seolah tak terkendali. Lahir di kandang belum cukup hina, kini harus ditolak, diludahi, difitnah, jadi korban rekayasa perebutan kuasa, terpancang pada kayu kasar. Paku menembusi daging. Darah mendandani rasa malu.

Inikah mimpi besar Allah?

Belum habis pertanyaan di kepala, kisah tiba-tiba berbalik. Kematian bukan titik akhir. Gempa besar. Batu terguling. Kain kafan tertinggal. Makam kosong. Hanya terdengar, “Alleluya!” Ia bangkit. Menang. Hidup. Mimpi besar Allah belum berakhir. Paradoks kehidupan bergema riuh. Allah menjadi miskin agar manusia menjadi kaya dalam kemiskinan-Nya. Yang bersedia kehilangan nyawa demi Dia akan memperolehnya. Untuk jadi yang terbesar, harus jadi yang terkecil. Yang ingin memimpin harus melayani. Kejahatan takhluk tunduk pada pengampunan. Permusuhan lunglai tak berdaya kala bersapa dengan senyum tulus cinta kerahiman.

Langkah manusia terus berkisah.

Menjadi bagian dari kisah sang tokoh utama. Kisah yang sama terjadi. Rangkaian paradoks kehidupan menjadi pilihan lebih nyata. Seraya melihat dunia sekitar, hasrat menuju kesucian terancam ikut tercabik. Sampai kapan Allah menekan hati manusia agar terus bersabar? Sampai kapan pengampunan harus diberikan? Sampai kapan cinta harus membuat manusia tampak tak berdaya di mata dunia yang lihai mengelabui diri dengan poles dogma palsu?

Kini hati merunduk.

Biografi segera berakhir. Hari Raya Kristus Raja menjadi titik puncak di akhir rangkaian kalimat panjang penuh paradoks. Air mata. Darah. Hujat dan puji. Gaduh dan bisik. Mata manusia diajak melihat. Segalanya berakhir di titik ini. Apa pun yang menjadi bagian kisah kehidupan kita, di titik ini hanya ada satu kesimpulan: Ia adalah Raja Semesta Alam. Kemenangan bersama Sang Raja, itulah bingkai kisah tiap orang percaya. Gema berakhir dalam sebuah paradoks yang melukai hasrat ambisi. Yesus Kristus adalah Raja Semesta Alam, dan Ia mendaki menuju puncak dengan melangkah ke bawah. Itulah jalan paradoks kisah kehidupan kita. Saat kita mengagumi Ia sebagai Raja adalah saat untuk kembali menegaskan diri dan bersuara lantang:

“Aku ingin melangkah semakin rendah agar sampai ke puncak takhta Raja dan menerima mahkota kemenangan.”

About Tano Shirani

Tano Shirani adalah lulusan program teologi Santa Clara University, California, Amerika Serikat. Sudah sejak lama, ia memiliki mimpi untuk ikut melayani orang muda melalui tulisan-tulisan rohani. Tano telah menerbitkan buku Namaku Lazarus: Merangkul Bisikan Kerahiman (Kanisius, 2016) dan Pendosa Jadi Pendoa: Gejolak Pertobatan Tujuh Pemazmur (Kanisius, 2017). Di tengah kesibukan menulis, menerjemahkan, dan menyunting berbagai tulisan, Tano juga melatih penulis-penulis rohani dalam komunitas Domus Cordis. Ia gemar melahap buku, dan sungguh percaya akan the power of words untuk mengubah dunia dan perjalanan seluruh sejarah umat manusia.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top