Perlu jadi manja biar cowok tertarik?

Apa yang muncul di pikiranmu kalau mendengar kata “manja”? Cewek yang lagi bermanja-manja dengan pasangannya? Atau kelakuan yang kesannya terlalu tergantung dengan orang lain? Kalau kita ngintip Kamus Besar Bahasa Indonesia, manja punya dua arti. Arti (1) kurang baik adat kelakuannya karena selalu diberi hati dan dituruti semua kehendaknya; (2) sangat kasih, bermesra (kepada seseorang). Kedua arti ini sering kita lihat pada hubungan pasangan cowok dan cewek.

Waktu pertanyaan “apakah kamu suka dengan cewek yang manja” ditanyakan kepada 35 orang cowok, baik yang masih single (masih jomblo atau udah punya pacar) dan yang sudah menikah, hasilnya:

  • sebanyak 2,9% cowok menjawab “YA”,
  • sebanyak 3,7% menjawab “NGGAK”, dan
  • sebanyak 91,4% menjawab “YA, asal nggak berlebihan”

“YA, asal nggak berlebihan” menjadi jawaban terbanyak dari para cowok ini. Nah, yang nggak berlebihan itu seperti apa sih? Kesannya susah banget jadi cewek yang mempesona dan pas untuk cowok.

Ternyata yang mempesona cowok bukanlah kemanjaan cewek, karena kalau kemanjaan cewek memang disukai cowok, maka mereka akan menjawab “YA” dengan persentase terbanyak. Kemanjaan cewek belum tentu membuat cowok terpesona dan jatuh hati, malah bisa memberi kesan kalau kita ‘lebay’ dan di titik tertentu bisa menjadi gangguan bagi mereka, lalu membuat mereka berpikir kalau kita nggak mandiri.

So, kalau bukan kemanjaan, apa yang dapat menarik hati (attract) cowok terhadap cewek?

Cowok suka dengan ketelanjangan — bukan cuma telanjang secara fisik — cowok juga tertarik dengan cewek yang telanjang secara emosional. Ini yang kita kenal dengan istilah “vulnerable” (rentan, kesediaan untuk terluka). “Vulnerable” berarti menunjukkan dirimu apa adanya, terbuka tanpa takut akan ditolak atau dihakimi. Menelanjangi diri sendiri artinya kita menunjukkan bahwa inilah kita apa adanya dengan kekuatan dan kelemahan yang kita miliki. Ada pemikiran di masa sekarang yang mungkin mengekang cewek, yaitu kalau kita menunjukkan sisi lemah artinya kita bukan cewek yang kuat. Padahal kekuatan sejati terlihat dalam kemampuan kita mengekpresikan kesediaan untuk terluka. Butuh keberanian dan kerendahan hati untuk mau memperlihatkan sisi lemah kita.

Dengan melihat cewek yang “vulnerable”, cowok akan secara naluriah melindungi dan membuat zona aman untuk sang cewek. Bila cewek sudah terbuka dan telanjang secara emosional terhadap cowok, maka cowok akan merasa aman dan nyaman untuk berada bersama cewek tersebut. Menjadi “vulnerable” berarti berani untuk berbagi perasaan dan kebutuhan yang sebenarnya, bukannya berpura-pura menjadi pribadi yang lain supaya cowok menyukai kita.

Kita perlu untuk belajar untuk menjadi “vulnerable”, tetapi bukan supaya kita bisa membuat lawan jenis tertarik kepada kita. Juga bukan rumus supaya cowok terkesan dengan kita. Kita mau belajar menjadi “vulnerable” karena kesediaan untuk terluka itu adalah salah satu karakter cewek yang Tuhan berikan kepada kita. Kita bukannya mau menjadi manja, karena manja mempunyai arti yang nggak positif dan bukan karakter dasar kita sebagai cewek. Sifat manja lebih karena didapat dari faktor lingkungan dan kebiasaan, seperti dalam arti yang pertama dari KBBI.

Menjadi “vulnerable” memang bukan tanpa resiko. Dengan menjadi terbuka apa adanya, selalu ada celah untuk kita ditolak. Rasa ditolak memang bisa membuat kita terluka, dan tentu saja menyakitkan. Namun, di saat yang sama, kalau kita bisa menjadi “vulnerable” — terbuka, menjadi apa adanya dengan pasangan kita — akan ada kesempatan yang membuat hubungan menjadi lebih dekat dan bahagia. Kalau kita menolak menjadi “vulnerable”, pada saat yang sama, kita membuang juga kesempatan untuk menjadi lebih bahagia. Menjadi “vulnerable” adalah bagian dari mencintai dan dicintai dalam sebuah hubungan.

Sebagai cewek, kita belajar dari Bunda Maria.

Waktu tahu kalau dirinya akan mengandung oleh Roh Kudus, sebagai manusia mungkin ada rasa cemas dan takut akan ditolak oleh Yusuf, tunangannya, dalam diri Bunda Maria. Namun, dengan keberaniannya, Bunda Maria tetap menerima kehamilannya, berpikir secara positif dan menjadi “vulnerable” di hadapan Yusuf. Menjadi “vulnerable “ memang nggak mudah, tetapi dengan mengambil risiko ditolak oleh Yusuf itu pada akhirnya berbuah manis dan mereka menjadi keluarga Nazaret yang bahagia dan penuh berkat.

Let’s say NO to being manja and say YES to being VULNERABLE!

About Lucia Luliana

Lucia Luliana menempuh pendidikan spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi di Universitas Indonesia. Dokter yang akrab dipanggil "Zhen" ini menjadi praktisi perkembangan anak-anak berkebutuhan khusus. Perjumpaan dengan Tuhan membawa perubahan dalam hati dan hidup Zhen, sehingga membuatnya ambil bagian dalam melayani Tuhan.

Dalam komunitas Domus Cordis, ia ambil bagian dalam bidang formasi orang muda. Zhen ingin berbagi lebih banyak lagi melalui tulisan-tulisannya, supaya orang muda juga melihat wajah Tuhan, dan ikut mengalami perubahan.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top