Post

Maunya Tuhan yang mana sih? Simak cara praktis berdasarkan metode diskresi St. Ignasius Loyola

Kita selalu mau hal yang terbaik dalam hidup kita. Kita juga tahu bahwa Tuhan lebih tahu soal yang terbaik. Masalahnya, kita suka bingung mendengar suara Tuhan, dan kita ingin mendapatkan tanda-tanda nyata, apakah itu ke kiri atau kekanan, sebelum kita melangkah. Kenyataannya tidak semudah yang kita harapkan. Dalam situasi seperti ini, iman kita berperan penting.

Beriman artinya mengetahui bahwa jika kita sudah berusaha yang terbaik untuk mengikuti kehendak Tuhan, dalam situasi apapun, Tuhan masih memegang kendali atas hidup kita, sehingga ketika kita mau melangkah, kita bisa melangkah dengan lega. Kita percaya kepada prinsip pentingnya, yaitu Tuhan yang menyertai kita, walaupun langkahnya belum terlihat jelas. Ibarat seseorang yang berpergian ke kota yang belum pernah dikunjungi sebelumnya dengan membawa sebuah peta. Kota itu sudah dipastikan ada, tetapi ini adalah kali pertama orang itu berkunjung dengan menggunakan peta tersebut. Ada rasa deg-degan, “Nyampe nggak yah?” Atau merasa, “Ini jalannya bener atau salah?” St. Paulus berkata, “… sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat,” (2 Korintus 5:7).

Belajar dari pengalaman-pengalaman Santo Ignatius Loyola mengenai diskresi (dalam bahasa Inggris, “discernment”), yaitu usaha untuk mengenali kehendak Tuhan melalui gerak-gerik batin kita, ada beberapa hal-hal praktis yang bisa kita rangkum dan praktikkan, supaya kita bisa menjadi manusia terbaik sesuai dengan panggilan kita masing-masing. Yuk, simak poin-poin di bawah ini yang akan membantu kita berjalan dalam kehendak Tuhan.

1. Keterbukaan

Waktu kita berdoa kepada Tuhan agar Ia menunjukkan yang terbaik, kita harus punya sikap terbuka dan tidak ada syarat. Artinya kita mungkin menginginkan suatu hal, tetapi kita tetap memilih untuk rela berganti pilihan ketika Tuhan menginginkan hal tersebut dikerjakan secara berbeda di dalam hidup kita. Sebagai contoh, jika kita berdoa untuk mendapatkan pekerjaan yang terbaik, walaupun kita mungkin berdoa agar diterima di dalam kota, kita perlu terbuka akan kemungkinan diterima di luar kota.

2. Keberanian

Seringkali kita takut untuk membuat pilihan tertentu karena tidak tahu apa yang akan terjadi di ujung jalan sana. Karena takut, kita membuat banyak syarat yang harus Tuhan penuhi. Kita perlu melepas kendali kehidupan kita, dan membiarkan Tuhan yang memegang kendali. Masalahnya, kadang kita selalu ingin memegang stir. Di sinilah kita harus berani melepaskannya, dan memberikannya kepada Tuhan.

3. Kemurahan hati

Untuk mengikuti kehendak Tuhan, kita membutuhkan kemurahan hati. Mungkin ada yang dikorbankan, tetapi itu semua harus dilakukan kalau kita mau dituntun Tuhan untuk menjadi yang terbaik. Sebagai contoh, kadang kita perlu memberikan waktu, tenaga, uang, ketika Tuhan memanggil kita untuk melayani anak-anak-Nya yang berkekurangan.

4. Kebebasan

Jiwa kita harus bebas untuk memilih.  Kadang, kita condong untuk memilih hal-hal tertentu, bukan dengan bebas karena tulus menginginkan hal tersebut, melainkan karena ada keterikatan atau ketakutan-ketakutan di belakang kita. Sebagai contoh, kita memilih pekerjaan karena alasan yang terutama gaji yang lebih besar, bukan karena kita memang menyukai pekerjaan tersebut, sebagai akibat dari ketakutan finansial yang sering membayangi kita.

St. Ignasius Loyola memberikan contoh tentang 3 tipe orang dalam mengambil keputusan:

  1. Orang yang terlalu banyak pertimbangan, akhirnya tidak atau telat memutuskan, karena sibuk dengan hal-hal yang lain selain dari Tuhan.
  2. Orang yang sibuk melakukan berbagai macam hal, tetapi hal yang terpenting luput dari perhatiannya atau tidak berani dikerjakan. Dikerjakan kalau mudah saja dan tidak banyak tantangan.
  3. Orang yang benar-benar bebas yang berani memutuskan sesuai kehendak Tuhan, biarpun itu bukan sesuai rencana dia awal mulanya. Jadilah orang yang seperti ini.

5. Rajin berdoa

Tak kenal maka tak sayang.  Kalau seseorang jarang berdoa, ia akan mengalami kesulitan untuk mengenal karakter Tuhan dan sifat-sifat-Nya. Sama halnya jika kamu jarang ngobrol dengan temanmu, kamu tidak akan bisa dekat dengan dia. Dengan semakin sering berdoa, seseorang akan mengenali sifat-sifat Tuhan dan kehendak-Nya yang Ia inginkan untuk kita jalani.

6. Tujuan

Ketika kita berdoa kepada Tuhan untuk memohon sesuatu, kita perlu tujuan yang jelas, sesuai dengan panggilan kita. Panggilan kita yang terutama adalah untuk mengenal dan mencintai Tuhan dengan segenap pikiran, hati, jiwa, dan kekuatan kita, dan mengasihi sesama seperti Tuhan telah mengasihi kita. Semuanya dalam hidup kita berputar pada prinsip ini. Jadi, ketika mendoakan sesuatu, kita perlu melihat apakah yang kita doakan sesuai dengan tujuan ini atau tidak. Sebagai contoh, kalau berdoa supaya menang lotre, kita harus berpikir, apakah hal itu untuk Tuhan dan sesama, atau bukan? Kalau hanya untuk diri kita sendiri, maka hal ini sudah jelas tidak sesuai dengan panggilan kita yang utama. 

7. Prioritas

Beberapa orang bingung dengan prioritas hidupnya karena masih belum mengerti akan tujuan hidupnya, seperti di poin nomor 6. Sebagai contoh, kadang orang suka berkata, “Nanti kalau sudah kaya dan sukses, baru saya mau melayani dan menyumbang banyak orang-orang miskin.” Orang ini tidak sadar bahwa prioritas pertama hidupnya adalah kaya dan kedua adalah amal, pelayanan, dan Tuhan. Padahal, kalau kita melihat poin no. 6 di atas, prioritas pertama adalah Tuhan, bukan diri sendiri menjadi kaya.  Jadi, prioritasnya harus diubah. Kita bisa beramal sambil bekerja untuk sukses, sehingga Tuhan selalu ada di nomor satu dalam segala sesuatu yang kita kerjakan.

Catatan akhir

Proses diskresi digunakan bukan untuk memilih good (baik) vs evil (jahat), tetapi untuk memilih mana yang good (baik) dan mana yang God (Tuhan), artinya dari antara dua pilihan yang baik itu, yang mana yang Tuhan kehendaki.

Namun, keberhasilan dari proses diskresi pertama-tama bukanlah mendapatkan jawaban pasti mengenai hal yang harus kita pilih. Terkadang, dalam prosesnya, kita menemukan bahwa kita masih memiliki banyak sekali keterikatan di dalam hidup, yang membuat kita tidak bebas untuk memilih. Jika kita menemukan hal-hal tersebut, kita bisa belajar untuk melepaskannya dengan bantuan rahmat Tuhan. Maka, diskresi berhasil ketika kita bisa membuat pilihan-pilihan yang menjadi respon cinta kita terhadap Tuhan, ketika diri kita bisa menjadi lebih dekat dengan Tuhan.

Silakan mencoba!

AskINSPIRE: Pacar Minta Ciuman

Ada pertanyaan yang masuk ke INSPIRE:

Bagaimana pendapatnya jika ada seorang laki-laki yang merasa sakit hati ketika pasangannya yang perempuan tidak mengizinkan ciuman di antara mereka? Perempuan itu sudah berkomitmen untuk tidak melakukan ciuman sejak dulu, dan komitmen tersebut juga sudah dikomunikasikan kepada pihak laki-laki. Pada akhirnya, perempuan itu memenuhi permintaan itu untuk menghilangkan rasa sakit hati prianya. Apakah laki-laki itu benar-benar mencintai perempuan itu? Karena ia sudah membuat wanita itu melanggar komitmennya sendiri demi dirinya.

Hi! Thanks untuk pertanyaanmu. Ada beberapa hal yang perlu dipahami terkait pertanyaanmu.

Memahami laki-laki dan hasrat terdalamnya.

Laki-laki yang merasa sakit hati karena keinginannya tidak dituruti itu mungkin saja ia merasa “powerless”, atau tidak berdaya, karena apa yang ia mau, tidak diperoleh. Mungkin saja egonya tersentil. Hal ini disebabkan karena, secara alamiah, hasrat terdalam di dalam hati laki-laki adalah untuk merasa mampu, berdaya, dan bisa mencapai sesuatu. Oleh karena itu, di dalam setiap hati laki-laki, ada sebuah “pertempuran” yang ingin ia menangkan. Jadi, wajar saja, laki-laki tidak suka untuk merasa kalah, tidak mampu, dan tidak berdaya.

Panggilan Tuhan untuk laki-laki.

Tuhan memanggil laki-laki untuk bertempur pada sebuah pertempuran untuk memperjuangkan apa yang benar, baik, dan indah. Sayangnya, dalam kasus ini, laki-laki tersebut bertempur untuk pertempuran yang keliru. Apa yang ia perjuangkan adalah hal yang bertentangan dengan apa yang benar, baik, dan indah. Kalau melihat dari kasus ini, secara nyata, pelanggaran sebuah komitmen untuk mencapai hal yang baik adalah sebuah hal yang tidak baik. Mungkin saja di awalnya, pasangan ini menganggap, bahwa “tidak berciuman” merupakan salah satu cara yang mereka sepakati untuk membantu menjaga kemurnian hubungannya, untuk mencegah kejatuhan pada dosa seksual yang lebih serius.

Apa motivasi dan maksud di balik ciuman yang dilakukan?

Dalam hal ini, sebenarnya, bukan ciumannya yang salah, tetapi apa maksud yang ada di balik ciuman itu. Kalau ciumannya adalah kecupan sayang secara singkat dan bertujuan untuk memberikan kasih tanpa ada udang di balik bakmi, itu harusnya tidak apa-apa. Dan kita tahu, bahwa kasih itu tidak pernah memaksa, dan tidak pernah tergesa-gesa. Jadi, kalau itu adalah ciuman yang bermotifkan kasih, harusnya kalau nggak diijinkan karena menjaga komitmen, ya harusnya cowoknya “woles aje, cyn.” Namun, kalau ada reaksi marah, bisa saja motif ciumannya berbeda, dan kemungkinan besar bermotifkan pemuasan diri, alias lust.

Membedakan antara love (cinta) dan lust (nafsu).

Lust sendiri bukanlah love. Lust adalah bentuk pemuasan hasrat seksual dengan cara yang abusive. Istilah abusive mungkin berlebihan, tetapi maksud yang dapat saya katakan, abusive itu berarti menggunakan sesuatu untuk pemuasan diri, tanpa mempedulikan dampak kerugian yang ditimbulkan bagi diri sendiri / orang lain / lingkungan sekitar. Dan lust ini merupakah salah satu dari 7 dosa maut.

Jadi, panggilan sebagai laki-laki adalah untuk memenangkan pertempuran yang benar, baik, dan indah. Bukankah lebih mulia untuk “mati” dalam pertempuran yang “worth our life”? Dan salah satu hal yang benar, baik, dan indah, adalah pertempuran untuk menjaga martabat seorang perempuan, yang memang pada dasarnya memberikan gambaran akan keindahan Tuhan. Oleh karena itu, sebagai laki-laki sejati, kita perlu memilih pertempuran yang worth our life, bukan pertempuran yang konyol, karena nanti malah jadi mati konyol.

Dan sebagai perempuan, panggilannya salah satunya adalah untuk menyingkapkan keindahan Tuhan yang sempurna, dan “diselamatkan” oleh laki-laki yang memperjuangkan martabat diri perempuan itu. Oleh karena itu, jangan mudah menyerah (give in) untuk hal yang akan merusak martabat dan keindahanmu yang sempurna dari Tuhan. Bukankah kemurnian itu indah, dan merupakan hal yang baik dan benar dan layak untuk diperjuangkan, hingga suatu saat nanti dapat diberikan kepada dia yang layak menerima hidupmu yang kamu berikan kepadanya?

Bagaimana kalau sudah pernah kebablasan? Apakah saya menjadi sudah tidak murni? Rahmat Tuhan selalu cukup untuk mengampuni dosa, dan memulihkan nilai kemurnian kita, asalkan kita bertobat dan berkomitmen untuk menjaga kemurnian ke depannya, karena setiap orang kudus (alias santo dan santa) punya masa lalu, dan setiap orang berdosa juga punya masa depan.

Kalau kamu punya pertanyaan yang ingin kamu tanyakan ke INSPIRE,
silakan email ke info@letsinspire.co
#AskINSPIRE

Neymar

Semua mata tertuju ke layar TV. Terlihat seorang pemain tergeletak. Orang-orang berjalan mendekat. Tiba-tiba sang pemain yang tergeletak itu terlihat tersentak-sentak, badan melengkung, berguling-guling. Serentak keluar makian-makian dari semua yang ada di sekitar saya. Dari mulut saya pun langsung mengalir keluar sederet nama binatang. Oh…

Tak lama sesudah itu, media sosial dibanjiri oleh lelucon sindiran. Banyak orang muak dengan kepalsuan Neymar. Ia seorang pemain yang baik, tetapi kelicikannya dalam bergaya seolah telah tersakiti secara mistik itu membuat banyak orang menertawakannya. Oh…

Di tengah tawa saat menyaksikan video, gambar, meme, tentang ulah Neymar itu, tiba-tiba saya terhenyak. Orang benci dengan kepalsuan semacam itu. Orang benci dengan kecurangan seperti itu. Orang terusik karena dengan kelihaian bermain drama seperti itu Neymar bisa memanipulasi keadaan sehingga wasit menjatuhkan hukuman bagi pihak yang tidak bersalah, dan sang pemain drama justru mendapat hadiah. Tegasnya, rasa keadilan banyak orang langsung tercabik-cabik. Sungguh tidaklah adil bahwa yang “berpura-pura menjadi korban” mendapat hadiah, sedangkan yang tidak bersalah justru mendapat hukuman.

Memainkan peran sebagai korban?

Jujur saja, memanipulasi keadaan dengan berpura-pura menjadi korban bukan hanya dilakukan oleh Neymar. Bukan hanya dilakukan oleh banyak pemain sepakbola yang memang telah dilatih untuk melakukan dive yang bisa terlihat alami. Bermain sebagai korban adalah strategi yang banyak digunakan orang. Ketika kesadaran ini muncul, saya tidak lagi melihat seorang Neymar yang sedang asyik berguling-guling dengan ekspresi menahan sakit luar biasa. Saya melihat diri saya sendiri dalam drama Neymar itu.

Bukankah demi keuntungan diri, kadang kita sengaja secara mahir berpura-pura menjadi korban? Kita menjerit iba karena telah dizalimi. Simpati dan bantuan pun datang mengalir. Bukankah untuk lari dari tanggung jawab, kadang kita mencoba melemparkan kesalahan pada pihak lain? Dengan itu kita terbebaskan dari hukuman atau konsekuensi tindakan kita. Ya, dalam skala yang berbeda-beda, dalam bentuk lapangan rumput yang berbeda-beda, dalam pertandingan yang berbeda-beda, kita kadang menjadi Neymar, atau bahkan lebih buruk.

Saya teringat akan peringatan Musa kepada bangsa Israel sebelum masuk ke Tanah Terjanji. Mungkin sudah bisa ditebak, bahwa mereka akan mudah tergoda untuk “bermain sebagai korban” (play victim). Dengan itu mereka bisa berdalih. Jika mereka tidak bisa setia kepada Tuhan, itu karena mereka telah menjadi korban keadaan.

Maka, kepada mereka Musa menegaskan bahwa perintah Tuhan itu tidak sulit, tidak terlalu jauh, tidak di atas langit, tidak di seberang laut. Mereka tidak bisa berdalih bahwa tidak ada yang bisa mengambilnya dari tempat yang jauh tak terjangkau itu. Ini yang akhirnya ditegaskan: “Tetapi firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan” (Keluaran 30:14).

Singkatnya, Musa mengingatkan mereka untuk tidak “bermain sebagai korban.” Jangan mencari-cari alasan dengan berujar, “Kami tidak mampu setia karena kami tidak mendapat informasi yang jelas, karena tidak ada guru yang mendampingi kami, karena Kitab Suci sulit dipahami, karena aturannya terlalu rumit, bla bla bla…”

Jangan menyalahkan siapa pun atau apa pun ketika kamu berada dalam keadaan terpojok! Jangan katakan, “Semua terjadi begitu saja di luar kendali saya,” tetapi akui dengan jujur, “Ya, saya telah memilih untuk melakukannya.” Jangan katakan, “Saya telah dijebak,” tetapi katakan, “Saya ikut andil dalam kesalahan ini.”

Kalau kamu jujur mendengarkan apa yang ada di hatimu, kamu pasti mampu hidup sebagai orang baik, tetap memilih yang baik, tetap setia pada ajaran Tuhan. Jika kamu terus jujur mendengarkan bisikan kebaikan dari Yesus, kamu bisa mengubah dunia. Di hadapan Tuhan, jangan berharap kamu bisa bersandiwara seperti Neymar!

AskINSPIRE: Bagaimana Berhenti Pornografi tanpa Supresi (Ditekan/Dikekang)?

Ada pertanyaan yang masuk ke INSPIRE:

Terima kasih, Kak, atas video dan penjelasannya yang sangat bermanfaat sekali. Zaman sekarang, pornografi sudah menjadi jerat yang mematikan sekali untuk generasi ini. Saya juga seorang pecandu yang sedang berusaha lepas dari pergumulan ini, dan video Kakak membuat saya yakin bahwa saya bisa melaluinya. Namun, yang ingin saya tanyakan, Kakak bilang bahwa untuk berhenti nonton porno itu bukan disupresi (ditekan/dikekang). Jadi, kalau nggak disupresi, lalu bagaimana cara untuk berhenti?

Hi! Thanks untuk feedback baik darimu.

Untuk menjawab pertanyaanmu, sebetulnya dibutuhkan sesi yang lumayan panjang dan sedikit lebih mendalam. Saya coba jawab secara singkat:

1. Mesupresi berarti mengekang tindakan, padahal ada keinginan untuk mengkonsumsi pornografi.

Kalau kita supresi, suatu saat kita keinginan tersebut bisa meledak, atau malah keluar dalam bentuk adiksi yang lain. Jadi, sebetulnya sasaran kita bukanlah supresi, melainkan bagaimana kita bisa membebaskan hati kita dari keinginan untuk mengkonsumsi pornografi.

Langkah pertama yang bisa kita lakukan ketika keinginan itu muncul adalah dengan mempersembahkannya kepada Tuhan, yang bisa dilakukan dengan cara sesederhana berkata, “Tuhan, saat ini keinginan untuk mengkonsumsi pornografi muncul di dalam diriku. Aku mempersembahkan keinginan itu kepada-Mu. Terimalah, kasihanilah, dan bantulah aku ya, Tuhan!” Tuhan akan menerima persembahanmu itu dan menggantikannya dengan rahmat yang cukup bagimu.

2. Sikap hati yang tidak ingin mengkonsumsi pornografi itu pada dasarnya adalah sikap hati yang tidak menginginkan pemenuhan pemuasan diri.

Pemuasan diri yang seperti apa? Pemuasan diri melalui penyalahgunaan seks, atau juga tindakan-tindakan lain.

3. Dengan demikian, diperlukan pembentukan sikap hati yang benar.

Ada banyak cara yang bisa dilakukan, salah satunya adalah melatih pengendalian diri. Pengendalian diri, atau self-mastery itulah esensi dari berpantang atau berpuasa. Berpantang dan berpuasa, bahkan selepas masa puasa. Dan nggak harus puasa pornografi saja, bisa juga memilih puasa dari hal yang kita sangat inginkan, misalnya puasa gadget, puasa ngemil, puasa merokok, dan sebagainya. Tujuannya adalah untuk melatih pengendalian diri dan pengendalian keinginan.

Selain itu, untuk membentuk sikap hati supaya semakin baik, kita harus belajar dari hal-hal yang baik pula: semakin seringlah berdoa (Rosario sangat membantu lho), bacalah Kitab Suci, pahami ajaran Gereja Katolik yang benar mengenai seksualitas (kamu bisa cek teologitubuh.com), seringlah memeriksa batin dan menerima Sakramen Tobat, serta Sakramen Ekaristi. Mungkin kamu tidak menyadarinya, tetapi semakin sering kamu bersentuhan dengan hal-hal ini, kamu sebenarnya sedang membentuk hatimu supaya menjadi semakin murni.

4. Cara “pemuasan diri.”

Mengenai pemuasan diri, ada 3 (tiga) hal yang kita pikir kalau kita miliki atau peroleh, kita akan semakin puas, tetapi kenyataannya malah kita merasa semakin haus. Apa saja hal itu? Pada dasarnya adalah kekuasaan atau kekayaan, kehormatan, dan kenikmatan (coba lihat di 1Yoh 2:16).

Kalau hal tersebut di atas itu palsu, hal apa yang benar-benar bisa membuat manusia merasa puas? Yaitu yang berhubungan dengan mencintai dan dicintai dengan otentik. Jadi, kamu perlu berusaha mencari makna cinta yang sejati supaya bisa benar-benar happy.

(Kamu bisa menemukan topik-topik mengenai happiness atau topik terkait di Channel INSPIRE)

5. Menelusuri akar masalahnya.

Cara telusuri, apakah kamu pernah mengalami luka atau penolakan di masa lalu. Pengalaman saya sendiri, kecanduan pornografi saya dimulai ketika saya pernah mengalami perundungan (bullying), sehingga saya merasa nggak akan ada cewek yang mau sama saya. Karena kejadian itu, saya merasa seakan-akan cewek di balik pixel layar komputer itu menerima dan nggak akan pernah menolak saya. Padahal, semua itu adalah ilusi. Jadi, yang sebenarnya saya cari adalah pengalaman untuk diterima (the experience of being accepted), dan sungguh-sungguh dikasihi (truly loved), bukan pornografinya.

So, coba telusuri pengalaman masa lalu, dan coba berdamai dengan hal tersebut.

Kalau kamu punya pertanyaan yang ingin kamu tanyakan ke INSPIRE,
silakan email ke info@letsinspire.co
#AskINSPIRE

Menyesal Tidak Punya Makanan, Lalu Bertobat?

Ini kisah si anak bungsu dalam perumpamaan tentang anak yang hilang (Lukas 15:11-32). Sesudah dihabiskannya semua miliknya, ada bencana kelaparan. Ingin minta sisa makanan babi, tetapi tidak ada yang memberi. Lalu mendapat pencerahan. “Kalau gini caranya, mending gue pulang ke rumah bokap deh. Di sana pasti ada makanan. Gue gak bakalan kelaparan gini.

Anak ini menyesali sudah pergi dari rumah bapaknya, bukan karena ia ingat akan cinta bapaknya, bukan karena rindu pada kampung halamannya, bukan karena ingin bertemu kakaknya. Ia menyesal, karena gara-gara pergi dari rumah bapaknya, sekarang ia tidak punya makanan untuk membuatnya bertahan hidup.

Kisah ini memberi kabar gembira untuk saya. Seperti si bapak yang baik dalam perumpamaan itu, demikianlah Allah Bapa. Ia tidak memusingkan apakah penyesalan saya itu didasarkan pada sesuatu yang luhur, mulia, dalam, atau indah. Apapun penyesalan saya, jika itu membuat saya berbalik kepada Bapa Yang Maharahim itu, tidak akan ada ujian seleksi masuk di pintu gerbang. Tidak ada ujian kelayakan untuk bisa diampuni. Cukup bahwa saya sadar bahwa apa yang saya butuhkan sekarang, yang tidak bisa saya peroleh dengan usaha saya sendiri, hanya bisa diberikan oleh Bapa yang menanti saya di rumah.

Gara-gara merahasiakan dosa, kamu tidak lagi bisa tidur nyenyak. It’s ok kalau kamu menyesali dosamu karena kamu udah lama pengen banget bisa tidur nyenyak. It’s ok berkata dalam doamu, “Bapa, aku menyesal atas dosaku yang udah bikin aku nggak bisa tidur nyenyak. Aku mengakuinya supaya aku bisa tidur nyenyak lagi.” Gara-gara kamu menyimpan dendam kamu jadi punya macam-macam sakit psikosomatis. It’s ok kalau kamu menyesali dosamu karena kamu pengen bisa sehat lagi. It’s ok berkata dalam doamu, “Bapa, aku menyesal karena gara-gara aku menyimpan dendam, aku jadi sakit macem-macem gini. Aku mengakuinya, dan aku melepaskan dendamku, supaya aku bisa pulih lagi.”

Jangan menunggu sebuah pencerahan istimewa, seolah harus ada “tanda ajaib” dari langit, baru kamu menyesal dan bertobat. Selidikilah, apa yang telah hilang, dan kamu merindukannya untuk bisa memperolehnya kembali, dan hanya Bapa yang bisa memberikannya kepadamu.

Meskipun demikian, yang penting adalah kesungguhan batin sesudah itu. Si anak bungsu ingin bisa makan, maka ia pulang ke rumah bapaknya. Dambaannya hanyalah cukup makan. Karena tidak ingin kelaparan lagi, ia berencana untuk tetap di rumah bapaknya itu. Kalau perlu, ia bekerja sebagai salah satu karyawannya. Si anak bungsu tidak berpikir, “OK deh, sekarang gue pulang, daripada gue mati kelaparan. Entar kalau udah gak ada bencana lagi, gue bakalan pergi lagi.

Inilah inti penting dalam penyesalan si anak bungsu. Ia bertekad untuk tidak pergi lagi dari rumah bapaknya. Ini juga yang harus ada dalam penyesalan kita. Keinginan untuk memperoleh kembali yang hilang dan yang hanya bisa diberikan oleh Bapa harus disertai dengan tekad untuk tidak lagi sengaja menghilangkannya.

“Aku sungguh merasakan betapa pedihnya kehilangan itu, dan aku bertekad, dengan bantuan rahmat Tuhan, untuk tidak membiarkan diriku kehilangan itu lagi.” Itulah penyesalan. Jadi, it’s ok menyesal karena kamu sekarang tidak punya makanan, asalkan kamu juga bertekad untuk tidak lagi cari makan di tempat di mana sedang ada bencana kelaparan.

Apakah Dosaku Membuat Doaku Nggak Dijawab?

Kehebohan zaman now. Haruskah dilarang menggunakan headset yang menyumbat kedua telinga ketika berkendara? Menurut hak tiap orang, sebenarnya boleh-boleh saja. Namun, menurut pertimbangan keamanan si pengemudi, si pengendara, dan orang-orang lain di sekitar, hal ini bisa menjadi sangat berbahaya. Kalau kedua telinga dibisingkan oleh suara dari gawai, pengendara bisa nggak mendengar klakson, atau teriakan, atau peringatan.

Tertutup oleh bising.

Meskipun saya bukan pengguna headset—karena saya lebih senang berkontak dengan suara apa pun yang ada di sekitar saya—kehebohan itu mengingatkan sikap hati saya. Betapa seringnya saya menuduh bahwa Allah diam saja, padahal Ia sudah berusaha berbicara, tetapi kedua telinga saya diserap oleh sekian banyak bising kehidupan. Bukan Allah yang nggak berbicara, tetapi sayalah yang nggak mendengar suara-Nya.

Dua ayat kembali bergema: “. . . Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Roma 5:8), dan “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita” (1Yohanes 4:10). Tegasnya, dosa kita nggak pernah mengurangi kemampuan Allah untuk memberikan cinta-Nya kepada kita, tetapi pasti mengurangi kemampuan kita untuk menerima cinta-Nya.

Seperti headset itulah dosa kita. Allah berbicara, Allah menjawab doa kita, Allah ingin memberikan yang baik kepada kita, tetapi telinga batin kita tersumbat oleh hal-hal lain yang membuai kita.

Yang bisa kamu lakukan kalau doamu nggak dijawab.

So, kalau kamu merasa Allah nggak menjawab doamu, langkah pertama adalah memeriksa diri secara jujur. Ada kemungkinan Allah sudah menjawab doamu, tetapi dosamu membuatmu tuli, buta, tertutup.

Langkah kedua adalah memeriksa isi doamu. Satu ayat lagi: “Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu nggak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu” (Yakobus 4:3). Jika dalam doamu itu kamu menyampaikan permohonan hanya demi kepentinganmu sendiri dan bahkan mungkin akan merugikan orang lain, ubahlah permohonan doamu.

Kadang ada situasi yang nggak mudah. Ada berita bahwa kantormu akan memecat banyak pegawai. Kamu segera berdoa, agar kamu nggak termasuk yang dipecat. Artinya, biarlah orang lain saja yang dipecat. Pusing kan? Nah, dalam situasi seperti ini yang penting kamu tulus dalam doamu. Selanjutnya, itu tugas Allah untuk memutuskan apa yang ingin Ia berikan kepadamu.

Namun demikian, bisa jadi masih ada langkah ketiga yang harus kamu ambil. Kamu sudah melepas dosa, seperti headset tadi, yang menyumbat telinga batinmu, dan doamu nggak berpusat pada kepentingan diri, tetapi doamu nggak juga dijawab. Kalau ini yang terjadi, mungkin memang Allah bermaksud melatih otot imanmu untuk semakin kuat dan bersedia bertahan dalam kesabaran. Jadi, langkah ketiga adalah: terus berdoa, terus berserah, terus memohon.

Setelah ini, kamu akan semakin mampu mendengar, melihat, dan menerima, dan karenanya doamu menjadi perjalanan iman. Pengalamanmu akan Allah menjadi sangat personal. Pada akhirnya, entah doamu dijawab sesuai keinginan, atau berbeda, atau bahkan berlawanan sama sekali, pengalaman personal akan Allah itu menjadi bekal berharga.

Kamu berdosa atau nggak, kamu berdoa atau nggak, Allah selalu mencintaimu. Dosamu nggak menyebabkan doamu tak dijawab, tetapi dosamu membuatmu nggak mampu menerima jawaban Allah atas doamu. Seperti headset tadi, dosa membuatmu tuli.

Dosa: Melakukan Kejahatan atau Tidak Melakukan Kebaikan?

PADA AWALNYA

Tanah diambil. Dibentuklah tubuh. Dihembusi nafas. Jadilah ia hidup. Dari adamah (“tanah”) dibentuklah adam (“manusia”). Karena nafas ilahi, manusia menjadi hidup. Manusia itu dibuat tidur lelap. Simbol keadaan pasif. Tidak terlibat dalam apa yang sedang terjadi. Satu tulang rusuk diambil. Dibangunlah sebuah tubuh. Terjaga dari tidur, manusia pertama mengenali, “Ini dia. Tulang dari tulangku. Daging dari dagingku,” (Kej 2:23). Artinya, “Ini dia, tubuh yang dibentuk dari tubuhku yang telah dihidupkan oleh hembusan nafas ilahi.”

Keduanya telanjang. Tak ada rasa malu. Keduanya sepenuhnya terserap dalam ketakjuban akan seluruh ciptaan. Hanya sikap hati menerima. Tak ada hasrat untuk mengambil. Hanya sikap hati terbuka. Tak ada gejolak untuk merampas. Hanya sikap hati berserah pada cinta. Tak ada dambaan untuk menggunakan yang lain demi diri sendiri. Sepenuhnya dipuaskan oleh cinta Sang Pencipta.

JATUH DALAM DOSA

Tiba-tiba ada suara. Ular licik menipu. “Kamu pasti ingin jadi seperti Allah. Iya kan?” Perempuan itu lupa. Ia diciptakan dari tubuh yang sudah dipenuhi hidup ilahi. Ia sudah penuh daya ilahi. Ia sudah menjadi seperti Allah. Tidak ada lagi yang perlu ditambahkan. Tapi, apa daya. Buah terlarang sungguh menggiurkan. Muncul gejolak. Cukup sudah. Saatnya mengambil apa yang memang memikat mata, menawan hati, mencengkeram fantasi.

Itulah DOSA. Mengambil apa yang tidak diberikan oleh Allah.

Manusia pertama ada bersama perempuan itu. Ialah yang menerima kuasa untuk menamai tiap jenis binatang. Yang bertubuh panjang meliuk-liuk itu dikenal sebagai “ular,” karena manusia pertama itulah yang menamainya “ular.” Manusia itulah yang memberinya identitas sebagai “ular.” Ia masih punya kuasa. Kalau ia mau, ia bisa mengubah nama binatang itu. Tragisnya, ia lupa akan semua itu. Ia hanya diam.

Itulah DOSA. Memilih diam saat harus memperjuangkan kebenaran.

Kedua manusia itu, laki-laki dan perempuan itu, sama-sama berdosa dengan cara mereka sendiri. Hawa berdosa dengan MENGAMBIL. Adam berdosa dengan BERSIKAP DIAM. Ada dosa “perbuatan” (commission), ada dosa “kelalaian” (omission). Hawa “melakukan” kejahatan. Adam “tidak melakukan” kebaikan. Itulah dua sisi dosa pertama. Itulah yang kita sadari kembali di awal Ekaristi: “Saya mengaku . . . , saya telah berdosa, . . . dengan perbuatan dan kelalaian . . .

SETELAH DOSA

Kemampuan “melihat” langsung tercemar. Kini mata manusia memandang manusia lain dengan gejolak hasrat untuk “mengambil” demi kepuasan diri. Lahirlah rasa malu. Tubuh telanjang harus ditutupi. Rantai dosa dalam bentuk “perbuatan” dan “kelalaian” juga kita lanjutkan.

KITA DI ZAMAN INI

Di masa Prapaskah, banyak orang memusatkan perhatian pada pertobatan dalam arti tidak lagi melakukan kejahatan. Namun, tidak banyak orang menaruh perhatian pada pertobatan dalam arti melakukan apa yang baik yang selama ini belum dilakukan. Banyak yang lebih menghayati pertobatan dengan memandang “perbuatan” Hawa, tetapi sedikit yang memandang “kelalaian” Adam.

Melakukan kejahatan dan tidak melakukan kebaikan adalah sama-sama dosa. Jadi, kalau kamu mau, cobalah bentuk pertobatan ini:

Kurangi satu perbuatan jahat, dan tambah dua tindakan baik.

Jika hari ini kamu bisa tidak marah satu kali, lakukan dua perbuatan penuh cinta dengan menyapa dua orang yang selama ini tidak kamu sapa. Jika hari ini kamu bisa tidak mengumpat di jalan satu kali, lakukan tindakan penuh cinta dengan menolong dua orang. Semoga dengan itu jumlah kebaikan menjadi lebih banyak dalam daftar perbuatan kita.

Susahnya Berdoa “Terjadilah Kehendak-Mu”

Mendapat kabar yang mengejutkan, Maria berkata, “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut kehendak-Mu.” Di taman Getsemani, sadar bahwa sengsara dan maut menanti-Nya, Yesus berdoa, “Janganlah terjadi menurut kehendak-Ku, tetapi menurut kehendak-Mu, ya Bapa.” Kepada para murid, Yesus mengajarkan doa yang di dalamnya memuat kata-kata, “Jadilah kehendak-Mu, di atas bumi seperti di dalam surga.”

Lebih dari dua ribu tahun sesudah itu semua, hari ini kita harus merunduk malu. Hati kita tidak sepenuhnya bisa ikut mengucapkan kata-kata itu.

Mengapa sulit berdoa “Terjadilah kehendak-Mu”? 

Sebab pertama terletak dalam pikiran kita. Entah bagaimana, kita sudah punya banyak praduga tentang Tuhan. Kehendak Tuhan sudah dianggap sebagai sesuatu yang arahnya adalah membuat hidupku lebih berat. Tuhan akan menuntut ini dan itu dariku. Banyak hal harus diubah. Hidupku akan menderita, karena yang kuinginkan tidak selalu terpenuhi.

Beberapa orang mengusulkan hal praktis. Ubahlah ucapan Thy will be done menjadi Thy love be done, dari “Terjadilah kehendak-Mu” menjadi “Terjadilah cinta-Mu.” Sudah beberapa tahun ini saya mencoba, dan efeknya luar biasa.

Perlahan-lahan, kehendak Tuhan tidak lagi saya anggap sebagai sesuatu yang membebani. Sebaliknya, dengan menempatkan semua itu dalam kerangka cinta Tuhan, hati saya menjadi lebih terbuka. Di sinilah salah satu kuncinya. Kita akan menyadari bahwa tanpa cinta Tuhan dalam diri saya, betapa malangnya saya! Jika saya menolak Tuhan yang rindu mewujudkan cinta-Nya pada saya, betapa menyedihkan hidup saya!

Sebab kedua adalah keterikatan pada keinginan untuk mengontrol segalanya. Dengan kontrol, kita merasa nyaman karena kita bisa memastikan dan memprediksi keadaaan. Akhirnya kita enggan berdoa “Terjadilah kehendak-Mu,” karena kita takut kehilangan kontrol tersebut. Jangan-jangan, segalanya menjadi serba tidak pasti.

Meskipun mengaku sebagai manusia modern, jauh di dalam lubuk hati, kita adalah konservatif sejati yang tidak ingin ada banyak kejutan baru dalam hidup ini.

Karena ingin segalanya serba pasti, kita tak lagi berdoa, “Terjadilah kehendak-Mu.” Sementara itu, sebagai manusia modern, kita tahu bahwa berinovasi berarti berjalan dalam ketidakpastian. Di sinilah terletak sebuah ironi yang sangat menggelikan. Semakin kita terjebak dalam hasrat akan kepastian—sehingga menolak berdoa “Terjadilah kehendak-Mu”—semakin kita lumpuh dan tak lagi berinovasi.

Kehendak-Nya adalah Cinta-Nya

Tak bisa diragukan, Tuhan selalu mampu menemukan cara baru untuk mencintai manusia, untuk membarui perjanjian kudus yang telah dilanggar dan untuk mengampuni dan memberi kesempatan baru. Tidak ada yang bisa menyaingi kemampuan Tuhan yang pada dasarnya adalah Ahli yang tak pernah berhenti berinovasi. Anehnya, karena terobsesi pada hasrat untuk mengontrol agar bisa bebas berinovasi, kita justru memutuskan diri dari Sang Inovator Agung itu.

Ketika kehendak Tuhan saya samakan dengan cinta Tuhan, saya justru lebih merindukannya.
Ketika kehendak Tuhan saya samakan dengan inovasi Tuhan, saya justru lebih merindukannya.

Berdoa “Terjadilah kehendak-Mu” berarti berdoa “Terjadilah cinta-Mu.” Dengan ini, kita menyediakan diri untuk sungguh dicintai Tuhan.
Berdoa “Terjadilah kehendak-Mu” berarti berdoa “Terjadilah inovasi-Mu.” Dengan ini, kita membuka diri untuk diikut sertakan dalam daya inovasi Tuhan yang tak kunjung sirna.

Jadi, jika kita memilih untuk tidak berdoa “Terjadilah kehendak-Mu” berarti kita memilih untuk tidak dicintai oleh Tuhan. Kita memilih untuk menjadi orang bodoh yang ingin segalanya pasti sehingga lumpuh dan tak lagi berinovasi.

Apa pilihanmu?

3 Tips Keuangan Saat Pacaran

Karena begitu senang, ingin menghabiskan waktu bersama pacar, atau ingin membuatnya senang, kita menghujani mereka dengan banyak perhatian dan hadiah. Karena jatuh cinta, kita juga bisa terburu-buru memikirkan mengenai kemungkinan hidup bersama dengannya. Namun, supaya tidak berlebihan, berikut tiga tips yang perlu kamu ingat:

1. Jangan menghabiskan terlalu banyak uang demi pacar.

Meskipun kamu berniat baik ingin menyenangkan pacarmu, atau ingin menikmati hiburan yang kalian sukai bersama, kalian tetap harus tetap bijaksana dalam mengeluarkan uang. Apalagi kalau hal tersebut di luar kemampuan masing-masing.

Untuk cowok, kalau memang mampu, silakan membayar bagian untuk berdua, tetapi itu bukan keharusan. Nggak perlu sok atau gengsi mau bayarin semua kalau memang di luar kemampuanmu. Selain itu, kamu juga perlu berhati-hati dengan cewek yang maunya semua dibayarin dan dia nggak bertanggung jawab, misalnya dia pesan banyak sekali makanan dan nggak dihabiskan hanya karena bukan dia yang bayar. Untuk cewek yang sudah berniat untuk menjalankan hubungan yang serius, kamu perlu melihat apakah cowokmu memiliki kemampuan untuk menyediakan kebutuhan keluarga. Berhati-hatilah dengan cowok yang pas masih pacaran udah pinjem duit ceweknya, maunya dibayarin.

Pada intinya, kedua pihak harus sama-sama bertanggung jawab dengan uang dan jangan menganggap remeh pengeluaran satu sama lain. Ingatlah juga bahwa kamu mendapatkan apa yang kamu toleransikan. Kalau selama masa pacaran, kamu sudah sering sekali meminjangkan uang kepada pacarmu, atau kamu toleransi sikapnya yang sering buang-buang uang, ketika menikah, dia juga akan bersikap seperti itu.

2. Bicarakan mengenai keuangan.

Dalam proses pengenalan, kamu bukan hanya belajar untuk mengenalnya sebagai pribadi, tetapi juga dari sisi pengelolaan keuangan, apalagi kalau kalian mau menjalani hidup bersama dalam perkawinan kelak. Kalau dia belum mau membicarakannya, mungkin dia belum terlalu serius dalam hubungan yang kalian jalani, atau dia belum bisa memikirkan hal tersebut. Kamu perlu waspada terhadap pasangan yang demikian.

(Baca juga: 5 Tipe Kepribadian dalam Mengelola Uang)

Selain bertanya tentang keuangan, dengarkan juga jawabannya. Kalau jawabannya adalah sesuatu yang nggak bisa kamu terima, diskusikanlah hal itu. Jangan hanya karena dia cantik, cakep, atau kamu merasa malu, kamu malah batal membicarakannya dengan serius. Juga nggak perlu khawatir disebut matre atau bagaimana, karena keuangan adalah salah satu fakta dalam hidup dan aspek dalam kehidupan berumah tangga. Jangan sampai, karena kamu menunda untuk membicarakannya, kamu malah berantem sama pasanganmu ketika sudah menikah.

“Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.” (Luk 14:28-30)

3. Tidak perlu buka tabungan bersama ketika masih pacaran.

Apalagi kalau kalian masih berada di tahap-tahap awal pacaran. Alih-alih membuka tabungan bersama, kamu bisa memotivasi satu sama lain untuk menabung. Ide kreatif lain, kamu bisa membuat semacam proyek bersama supaya masing-masing bisa mencapai target finansial yang sudah dibuat.

Apa yang sudah ditabung, jangan dihabiskan hanya untuk nonton atau makan, tetapi belajarlah bersama untuk melakukan investasi sesuatu target finansial. Dari sini, kamu juga bisa belajar bagaimana cara pasanganmu memikirkan sesuatu: apakah si dia mengerti tentang pengelolaan finansial, apakah ia tertarik tentang investasi, atau jangan-jangan ia maunya main-main saja. Kamu pun bisa melihat kedewasaan pasanganmu dari hal-hal seperti ini.

So, ini dia tiga tips keuangan untukmu yang lagi menikmati indahnya masa-masa pacaran. Semoga kamu tetap bisa bertanggung jawab dan membangun kebiasaan baik dalam mengelola keuanganmu.

 

 

5 Tipe Kepribadian dalam Mengelola Uang

Setiap orang memiliki caranya yang unik dalam memikirkan dan mengelola uang. Pasangan Bethany and Scott Palmer, penasihat keuangan dan pengarang dari The 5 Money Personalities: Speaking the Same Love and Money Language, menemukan 5 tipe kepribadian yang menunjukkan bagaimana kamu mengelola keuanganmu.

Dengan mengetahui kepribadian ini, kita bisa mengenali bagaimana sikap kita terhadap uang, membantu kita dalam perencanaan keuangan jangka panjang, serta menghindari kecerobohan finansial yang mungkin terjadi, berdasarkan bagaimana kamu memikirkan dan menangani uang.

Tipe 1: The Savers (Penghemat)

Penghemat mendapatkan rasa semangat dari sebuah penawaran, dan merasa bangga kalau mereka bisa menghabiskan lebih sedikit uang daripada orang lain untuk apa yang mereka inginkan. Hal ini bukan berarti bahwa mereka pelit—mereka hanya senang ketika mengetahui bahwa mereka tidak membayar dengan harga penuh untuk sebuah tas yang sama. Kamu punya teman yang berbelanja hanya pada saat ada diskon, atau tante yang senang mengumpulkan kupon seolah-olah itu adalah pekerjaannya? Mungkin mereka adalah para Penghemat.

Dorongan untuk berhemat tersebut menunjukkan bahwa mereka biasanya tidak membelanjakannya secara impulsif—walaupun sebuah penawaran yang bagus mungkin bisa mendorong mereka—dan karena mereka sangat berhati-hati dengan pengeluaran, biasanya mereka dapat dipercaya dengan uang mereka. Hal tersebut tidak berarti Penghemat selalu membuat keputusan yang tepat dan menyeluruh. Kesenangan mereka terhadap sebuah tawaran masih bisa mengarahkan mereka pada pengeluaran yang tidak perlu (maksud saya, siapa yang tidak pernah mengalami penyesalan karena dengan impulsif membeli diskon “murah”?), dan mereka mungkin saja mencari investasi yang terlalu aman daripada berfokus pada pertumbuhan yang seharusnya.

Isu terbesar untuk Penghemat ini mungkin terjadi dalam hubungan mereka dengan orang lain. Karena mereka sedikit lebih banyak mencemaskan tentang uang, fokus terhadap tanggung jawab itu juga bisa berarti mereka bisa terobsesi dengan tujuan keuangan mereka—hingga bisa mengorbankan kehidupan mereka, dan bahkan sampai pada titik yang terendah. Jika Penghemat menjalin hubungan dengan seseorang yang bahasa cintanya adalah memberi hadiah, mereka mungkin dapat mengosongkan tangki cinta pasangan mereka.

Tipe 2: The Spender (Pemboros)

Orientasi seorang Pemboros terarah untuk menghasilkan kenangan indah dan hidup saat ini. Mereka mendapatkan sensasi dari membeli sesuatu yang baru, dan jika ada sebuah masalah, perjalanan ke toko adalah apa yang mereka butuhkan untuk menyelesaikannya. Sisi baiknya, mereka suka menunjukkan secara langsung pada orang lain bahwa mereka peduli melalui tanda-tanda lahiriah, dan senang menjamu orang lain. Mereka adalah temanmu yang selalu membelikan sesuatu bagi kelompokmu, atau pulang ke rumah dengan sesuatu yang membuat mereka mengingatmu. Perhatian dan kemurahan hati membuat Pemboros menjadi orang-orang yang menyenangkan kalau kamu berada di sekitar mereka, dan sangat penuh kasih!

Tentu saja, ada kelemahannya. Kerelaan untuk membeli sesuatu untuk memenuhi setiap keinginan, atau keputusan sekejap untuk membayar tagihan, juga menjadi bagian dari pemborosan. Yang lebih buruk lagi, karena Pemboros seringkali tidak menyadari kecenderungan mereka, mereka mungkin terkejut melihat tagihan kartu kredit mereka di penghujung bulan. Jika mereka tidak ingin mengurus pengeluaran mereka, mereka bisa menemukan diri mereka terjebak dalam hutang, dan lebih buruk lagi, menjadi bersikap defensif dan berbohong kepada pasangan mereka.

Hal tersebut tidak berarti Pemboros ditakdirkan untuk menjalani masa penuh hutang atau harus selalu berada dalam kekangan, tapi jika kamu seorang Pemboros, kamu mungkin harus berhenti sejenak sebelum menggesekkan kartu kredit untuk menutupi tagihan lainnya, atau secara sadar pilihlah dan tentukan kehidupan sosial yang membantumu menghindari godaan-godaan yang mahal.

Tipe 3: The Risk Taker (Pengambil Risiko)

Pengambil Risiko menyukai ide dan kemungkinan baru. Mereka adalah temanmu yang selalu siap mencoba sesuatu yang baru, entah itu liburan yang jauh atau hidangan paling aneh di menu. Mereka adalah pengusaha dan visioner. Mereka mendengarkan dan mempercayai intuisi mereka, dan dengan demikian dapat bergerak cepat pada kesempatan yang tampaknya baik saat mereka muncul.

Kegembiraan akan hal baru dan tidak diketahui juga bisa menjadi sedikit kekurangan. Mereka bisa menjadi buta terhadap tanda bahaya dalam skema investasi baru, karena mereka sangat senang dengan potensi yang mungkin terjadi, dan dorongan impulsif mereka untuk berpetualang dapat menyebabkan masalah dalam pengeluaran, jika tidak diimbangi dengan perencanaan dan kepatuhan terhadap anggaran. Pengambil risiko juga cenderung tidak sabar dan tidak sensitif—mereka mungkin membuat keputusan impulsif tanpa berkonsultasi dengan orang lain atau mengabaikan perspektif orang lain —yang berisiko membuat teman-teman dan keluarga mereka merasa sebal atau sakit hati terhadap mereka.

Tipe 4: The Security Seeker (Pencari Keamanan)

Pencari Keamanan dapat tergambar dari namanya: perencana yang hati-hati, yang mementingkan keamanan dan stabilitas. Mereka menemukan keamanan dengan memastikan mereka tidak meninggalkan sesuatu tanpa ada hasil. Kalau temanmu adalah Pencari Keamanan, ia akan suka meneliti setiap pilihan dengan saksama sebelum membuat keputusan, dan tidak akan menggunakan kartu kredit mereka sampai mereka tahu bahwa mereka sudah cukup menabung untuk menutupi biaya tersebut. Jangan keliru mengartikan kecenderungan mereka ini sebagai sesuatu yang membosankan. Mereka siap untuk berpetualang, asalkan bisa membuat anggaran untuk itu!

Titik lemah dari Pencari Keamanan adalah jika mereka menyerah pada ketakutan finansial mereka. Kecenderungan mereka untuk meneliti dan merencanakan dapat membuat mereka senantiasa meneliti tanpa pernah membuat keputusan. Mereka juga bisa membiarkan pertanyaan-pertanyaan “bagaimana jika…” membuat mereka terlalu pesimis dalam kebutuhannya, mencekik rasa petualangan dan kreativitas mereka, bahkan juga pasangan mereka.

Tipe 5: The Flyer

Mereka yang memiliki kepribadian ini adalah orang-orang yang tidak biasa karena, “mereka tidak terlalu memikirkan uang—sama sekali. Mereka tidak cemas akan hal tersebut, tidak menghabiskan energi mereka untuk itu, mereka sama sekali tidak memiliki respon emosional terhadap uang.” Mereka cenderung memprioritaskan hubungan dengan orang lain ketimbang uang, mereka tidak dimotivasi oleh insentif, dan pada umumnya mereka senang dengan kehidupan mereka. Selama mereka masih bisa membayar tagihan mereka, mereka tidak peduli dengan saldo pensiun mereka.

Sementara sikap santai seperti itu mungkin bagus untuk tekanan darah mereka, hal ini tidak berarti mereka tidak materialistis. Jika mereka memiliki kecenderungan lain yang lebih impulsif dalam kepribadian mereka mengelola uang, ketidaktertarikan mereka terhadap keuangan dapat menyebabkan masalah besar. Karena tipe ini tidak khawatir tentang uang, ketika masalah muncul, mereka cenderung bersikap reaktif daripada proaktif. Dan karena mereka sama sekali tidak terlalu peduli, hal ini menjadi semacam perjuangan untuk merencanakan dan mengambil tindakan—dan kemudian benar-benar menindaklanjutinya. Hal ini dapat mengakibatkan kehilangan pengembalian pajak, tagihan yang belum dibayar, dan pengabaian tabungan pensiun.

Kenali juga Kepribadian Pasanganmu

Mengenal caramu mengelola uang menjadi penting supaya kamu bisa memeriksa kebiasaanmu. Sebagai tambahan, bagus juga kalau kamu bisa mengenal kepribadian pasanganmu dalam mengelola keuangan. Kalau kamu dan pasanganmu memiliki kepribadian yang berbeda dalam mengelola keuangan, cobalah untuk memahami kepribadiannya, berkomunikasilah dengan baik, dan bekerjalah sebagai satu tim sehingga kalian bisa lebih baik lagi dalam mengatur kebutuhan dan mencapai target bersama.

Diterjemahkan secara bebas dengan sedikit perubahan dari
Verily Magazine. The Most Common Mistakes to Avoid Based on the 5 Money Personalities

Scroll to top