Post

MENGATUR KEUANGAN PRIBADI DENGAN IMAN DAN SYUKUR

Young People, siapa di sini yang masih kesulitan mengelola keuangan pribadi? Kalau kita belum terbiasa untuk mengelola keuangan pribadi, ada baiknya kita mulai mempelajarinya. Selain untuk diri sendiri, bagus juga kalau kalian berniat untuk membina rumah tangga, supaya kondisi keuangan keluarga bisa tetap terpantau. Berikut ini beberapa tips bagi kalian yang mau belajar untuk mengelola keuangan pribadi.

1. Mencatat Pengeluaran

Setidaknya, ada dua metode pembayaran yang umum kita gunakan, yaitu tunai (termasuk debit) atau kredit. Apapun metodenya, kita perlu membiasakan diri untuk mencatat pengeluaran setidak-tidaknya selama 3 (tiga) bulan, dan dikategorikan menurut jenis kebutuhan. Pembagian kategori yang umum, misalnya untuk transportasi, makan, hobi, atau juga untuk pengeluaran tersier (hedon atau unfaedah) yang kita lakukan. Setelah itu, kamu bisa melihat persentasi dari masing-masing jenis kebutuhan tersebut, bagian mana yang paling besar.

Hal ini penting dilakukan agar kita bisa menumbuhkan kesadaran diri dalam melihat atau menyesuaikan kembali proporsi uang yang kita habiskan untuk kebutuhan pokok atau pengeluaran unfaedah dibandingkan kondisi pemasukan kita yang terbatas. Pencatatan ini tidak terlalu sulit. Kita bisa menggunakan aplikasi yang menyediakan model pencatatan keuangan harian yang sederhana dan praktis. Banyak kok aplikasi gratis yang bisa kamu unduh.

2. Menentukan Tujuan Masa Depan

Setelah kita memeriksa seluruh pengeluaran kita, selanjutnya kita perlu mencatat dan memikirkan target kita ke depannya. Mau menikah? Mau punya kendaraan pribadi? Mau punya properti? Walaupun uangnya belum tercukupi saat ini, kita perlu merencanakannya dari sekarang, karena apa yang kita capai tahun depan, 5 tahun ke depan, atau 10 tahun ke depan adalah hasil akumulasi kerja kita saat ini. Kalau mau, kamu bisa menuliskan tujuanmu dengan detail, misalnya kamu mau memiliki mobil SUV dengan harga tertentu.

3. Melakukan Penyesuaian antara Pengeluaran dan Tujuan

Setelah melihat kenyataan bagaimana kita memperlakukan keuangan kita biasanya (poin nomor 1) dan membandingkannya dengan impian kita (poin nomor 2), kita perlu melakukan penyesuaian dalam persentase (%) pengeluaran kita, berapa persen dialokasikan untuk keperluan sehari-hari, persembahan kasih, menyimpan dana darurat, dana untuk investasi, atau dana untuk kesehatan. Perlu juga melihat rencana dalam 3 atau 5 tahun ke depan, supaya kita bisa menghitung berapa dana yang perlu kita sisihkan atau simpan untuk mencapai rencana tersebut. Pedoman umumnya tentu saja untuk melakukan pengeluaran yang masih sesuai dengan pemasukanmu.

“Cukupkanlah dirimu dengan gajimu.”

 — Yesus (Luk 3:14)

Walaupun sudah ditulis di paragraf sebelumnya, tetapi perlu diingatkan bahwa menyiapkan dana darurat yang tidak tidak boleh diganggu dalam kebutuhan receh juga sangat penting. Dana darurat adalah dana yang kita sisihkan dan simpan untuk digunakan kapan saja dalam situasi darurat. Idealnya, dana darurat dimiliki sebesar 3-6 bulan gaji. Kalau kamu belum memiliki dana darurat, kamu bisa menyisihkan sekitar 10% dari pendapatan kotor. Dana darurat ini sifatnya liquid (cair), artinya dapat digunakan atau ditarik kapan saja ketika dibutuhkan. Untuk menyimpan dana darurat ini, sebaiknya gunakan rekening yang terpisah dari rekening yang biasa kamu gunakan, supaya tidak tiba-tiba habis terpakai.

4. Keuangan yang Beriman dan Bersyukur

Penting banget untuk kita berdoa dan menyerahkan keuangan kita pada penyelenggaraan Tuhan. Kita sangat terbiasa memohon berkat finansial kepada Tuhan. Namun, hal penting selain memohon berkat dari Tuhan, kita juga perlu memperlakukan keuangan kita sebagai tanda iman dan syukur kepada Tuhan. Artinya, keuangan kita juga bisa menjadi berkat bagi orang lain, karena sampai saat ini pun Tuhan masih memberikan kita cukup sesuai dengan kebutuhan kita hari ini.

Sebagai orang beriman Katolik, kita punya kewajiban untuk memperhatikan kebutuhan saudara-saudari kita. Milik kita bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk Tuhan dan sesama. Hal pertama yang sangat baik untuk kita lakukan setelah mendapatkan penghasilan adalah dengan memberikan persembahan kasih, sebagai tanda iman dan syukur atas penyelenggaraan Tuhan. Besarnya tergantung dari kita sendiri. Secara umum, panduannya adalah 10% dari penghasilan, tetapi bisa juga kurang dari itu. Bisa juga kalau kita ingin mulai dari jumlah yang sangat kecil, kemudian bertahap sampai bisa 10%. Bahkan kamu bisa saja tergerak memberi lebih. Yang penting adalah niat tulus kita untuk memberi dengan syukur dan konsisten.

Memang, ada kalanya kita berada dalam kondisi sangat pas-pasan. Pada saat seperti itu, berdiskresilah dengan hatimu mengenai urusan ini dengan Tuhan. Namun, kalau secara umum kita memang punya kecenderungan untuk hampir selalu merasa ketakutan dengan kondisi keuangan yang kita alami, kita boleh melihat ayat ini untuk belajar percaya bahwa Tuhan selalu memegang kendali atas hidup kita, atas kondisi keuangan kita: “Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan,” (Maleakhi 3:10). Dia jauh lebih murah hati ketimbang diri kita yang kikir dan selalu takut berkekurangan. Penyelenggaraan Tuhan dalam hidup kita jauh lebih besar daripada apa yang kita berikan kepada-Nya.

5. Komitmen sesuai Rencana dan Terbuka pada Tuntunan-Nya

Setelah kita menyelesaikan penyesuaian dan rencana, kita perlu menjalankan komitmen keuangan dengan setia. Semua rencana ini tidak ada artinya kalau kita tetap serampangan dalam menjalankan keuangan kita.

Selain itu, kita juga boleh membawa semua pertanyaan dan kebimbangan kita dalam keuangan melalui doa. Kalau kamu kesulitan melepaskan kebiasaan hedon, bingung bagaimana harus menaruh uangmu di investasi, atau bagaimana kamu bisa memberi lebih banyak bagi Dia, katakan semuanya kepada Tuhan. Tuhan menyukai doa yang jujur dan terbuka darimu. Mintalah Tuhan untuk membantumu bertindak bijaksana, tapi tetap murah hati, dan mempergunakan keuanganmu dalam iman dan syukur.

Tuhan memberkati!

GASLIGHTING DAN 5 LANGKAH UNTUK MENGATASINYA

Young People, ada berita, karena physical distancing dan #dirumahaja, kejadian KDRT meningkat dua kali lipat. Sebelumnya, ada kasus tentang seseorang perempuan yang mengalami kekerasan, baik fisik, emosional, bahkan secara seksual dari pacarnya sendiri. Selama berhubungan dengan pria tersebut, perempuan ini beberapa kali memberikan protes atas tindakan abusif pacarnya itu, tetapi sang laki-laki berkali-kali balik marah, ngambek, atau balik menuduh perempuan itu, sampai sang perempuan meragukan dirinya sendiri dan realita yang ia alami.

Ketika ada suatu kenyataan yang terjadi di depan mata dan ketahui oleh kedua belah pihak, tetapi salah satu pihak—biasanya pihak yang lebih berkuasa—secara sadar atau tidak sadar berusaha memanipulasi pasangannya dengan menyangkal, memutarbalikkan fakta, atau membuatnya bingung dan ragu akan kenyataan yang terjadi, hal ini dinamakan gaslighting. Istilah gaslight mulai populer setelah ada film berjudul serupa di tahun 1944. Dalam film itu, diceritakan bahwa tokoh sang suami melakukan kekerasan psikologis dan memanipulasi istrinya hingga istrinya sendiri meragukan dirinya sendiri dan kewarasannya.

Gaslight biasanya terjadi di dalam hubungan yang tidak seimbang, yang di dalamnya terjadi usaha untuk mengontrol pihak lainnya. Pihak yang mengontrol ini biasanya selalu berpikir, entah sadar atau tidak, bahwa hanya dirinyalah yang benar, atau tindakannya bisa dibenarkan. Mereka melakukannya dengan berbohong, menyangkal kenyataan yang terjadi, mempergunakan kelemahanmu, membingungkanmu, menyematkan kenyataan yang terjadi yang sebetulnya ia lakukan kepadamu, dan sebagainya.

GASLIGHTING, KEKERASAN PSIKOLOGIS YANG TIDAK HANYA TERJADI DALAM RELASI ROMANTIS

Bukan hanya di dalam relasi romantis, gaslighting juga bisa terjadi dalam relasi pekerjaan, komunitas, pertemanan, bahkan keluarga. Gaslighting termasuk kekerasan psikologis, dan merupakan hubungan yang tidak sehat atau toksik (toxic relationship). Dengan adanya perendahan, manipulasi, dan perusakan terhadap orang lain, gaslighting menjadi bertentangan dengan kasih yang diajarkan Yesus, karena kasih adalah tindakan yang memikirkan dan mengusahakan apa yang baik bagi orang lain. Selanjutnya, karena diwarnai kebohongan dan penyangkalan, tindakan ini juga bertentangan dengan kebenaran. Lagipula, hubungan semacam ini menjadi tidak sehat karena kurang keterbukaan dan kejujuran yang merupakan bagian dari dasar yang baik pada sebuah hubungan.

Beberapa akibat yang sering terjadi karena gaslight, misalnya seseorang merasa dirinya terlalu sensitif (karena sering dikomentari demikian oleh lawan bicaranya), atau sering meminta maaf (karena lawan bicaranya selalu membuatnya merasa bersalah). Mereka juga mungkin merasa cemas akan berbuat kesalahan, hingga merasa terisolasi karena tidak bisa mencari bantuan.

BAGAIMANA MENGATASI GASLIGHTING?

Lalu, harus bagaimana jika kita adalah korban gaslight ini? Ini dia 5 langkah yang bisa dilakukan untuk mengatasinya:

1. Menyadari masalah yang terjadi.

Kita perlu menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak benar yang sedang terjadi. Kalau lawan bicara kita sudah terlalu sering meremehkan dan menolak perasaan, pikiran, atau bahkan diri kita sendiri, sadarilah bahwa itu bukanlah suatu hubungan yang sehat. Hubungan yang sehat adalah hubungan yang mampu mendengarkan, menghargai, dan menghormati lawan bicaranya untuk tujuan dan hasil yang berbuah baik (terutama tidak bertentangan dengan moral).

2. Memahami bahwa diri kita adalah manusia biasa.

Manusia secara umum terbentuk oleh tiga komponen, yaitu pikiran, perasaan, dan perilaku. Hal ini berarti pikiran dan perasaan kita merupakan hal yang valid dan manusiawi. Emosi yang kita rasakan terhadap suatu hal adalah sesuatu yang sangat wajar terjadi. Emosi tidak membuat kita menjadi bersalah, selama kita memiliki pengendalian diri dari berperilaku yang memang salah. Tidak ada satu orang pun yang memiliki hak untuk meniadakan emosi yang kita rasakan. (Saran: kalau kita belajar memahami dengan baik tentang pikiran, perasaan, dan perilaku, kita juga bisa meningkatkan penerimaan terhadap diri sendiri lho!)

3. Mencari bantuan.

Berceritalah kepada orang-orang yang bisa dipercaya, misalnya keluarga, sahabat dekat, atau teman komunitas. Jika diperlukan, kita juga bisa mencari pertolongan profesional seperti psikolog atau psikiater, sampai ke pihak berwajib, terutama jika kekerasan yang terjadi sudah masuk ke ranah hukum. Jangan takut untuk meminta bantuan, karena bantuan yang diberikan oleh orang lain hanya akan bisa terjadi ketika kita mau mengambil langkah pertamanya.

4. Mengizinkan dirimu untuk melepaskan hal yang buruk.

Tidak semua hal harus kita pertahankan. It’s okay kalau kamu putus dengan pacarmu, it’s okay untuk menjaga jarak dengan orang lain jika orang itu membahayakanmu. Kita mungkin berpikir bahwa mengasihi berarti harus menerima seseorang apa adanya, yang bisa saja betul, tetapi bukan berarti menerima segala bentuk perlakuan yang jahat dan berbahaya. Kalau kita memutuskan untuk berpisah atau menjaga jarak dari orang tersebut, kita menerima kenyataan bahwa orang tersebut sedang dalam kondisi yang amat parah, dan kita memberikan sinyal bahwa perilaku tersebut tidak baik dan tidak dapat diterima, sehingga ia bisa memperoleh kesempatan untuk memperbaikinya.

5. Tidak usah terburu-buru menerima kembali pasangan yang meminta maaf.

Mungkin kamu masih mencintai dia. Kemudian dia datang kepadamu meminta maaf setelah melakukan hal yang parah padamu. Kamu tidak perlu terburu-buru menerimanya kembali karena ada kemungkinan ia melakukan itu dengan tujuan untuk memanipulasimu, agar kamu tetap bersamanya dan menjagamu dalam kendali kontrolnya. Ia perlu waktu untuk memulihkan dirinya sendiri, berusaha membangun dirinya menjadi pribadi yang lebih baik, sebelum siap membangun sebuah hubungan lagi. Kamu juga tidak memiliki kewajiban apapun kepadanya kalau kamu belum terikat dalam relasi perkawinan.

Satu lagi, hal yang terpenting dari semuanya adalah memohon rahmat Tuhan untuk menuntun kita melewati hal ini. Terimalah bahwa semuanya benar terjadi, bahwa kita pernah menjadi korban gaslight, bahwa kita pernah jatuh cinta dengan orang yang salah, bahwa kita pernah berteman dengan orang yang salah, bahwa kita terlahir dengan orang tua yang kurang mampu mengasihi kita dengan baik, bahwa kita memiliki atasan yang semena-mena—bahwa kita melewati proses pemulihan yang tidak mudah. Pada akhirnya, biarkan Tuhan Yesus sendiri yang menyembuhkan kita dengan kasih-Nya yang membebaskan dan utuh diberikan kepada kita.

Tuhan memberkatimu.

Referensi lain:
https://kumparan.com/curhatan-perempuan/curhat-perempuan-yang-jadi-budak-seks-and-korban-kekerasan-seksual-selama-2-tahun-1t52PXaKNNl
https://www.vox.com/first-person/2018/12/19/18140830/gaslighting-relationships-politics-explained
https://www.healthline.com/health/gaslighting#getting-help

Apa yang Berubah dengan #dirumahaja? Memanfaatkan Waktu di Tengah Wabah Coronavirus (COVID-19)

Young People, banyak kondisi yang berubah saat wabah coronavirus (COVID-19) melanda. Biasa kita pergi kerja ke kantor setiap Senin sampai Jumat atau Sabtu, sekarang sebagian besar bekerja dari rumah, atau masuk kerja bergantian; pelajar dan mahasiswa belajar dengan mengikuti kelas online dari rumah;  kegiatan umum di tempat-tempat ibadah ditiadakan, kita harus beribadah dari rumah; dan masih banyak lagi.

Memang, karena situasi wabah coronavirus (COVID-19), banyak hal di luar kebiasaan yang terpaksa kita lakukan. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada teman-teman yang terdampak, INSPIRE mau mengajak Young People untuk melihat beberapa perubahan baik waktu kita bisa mengatur dan memanfaatkan waktu yang ada selama #dirumahaja.

1. Lebih banyak waktu untuk diri sendiri.

Banyak Young People yang mulai bosan #dirumahaja. Namun, sadarkah kita, bahwa dengan lebih banyak waktu di rumah, kita punya lebih banyak me time? Me time dapat kita manfaatkan untuk mengenal diri sendiri lebih dalam. Kita mulai menyadari hal-hal unik di dalam diri kita, seperti hal yang kita sukai (tapi belum sempat kita lakukan selama ini), yang tidak kita sukai, yang kita kuasai, yang masih perlu kita perbaiki, atau mungkin luka-luka yang selama ini tersembunyi akhirnya bisa kamu perhatikan dan obati dengan cara yang baik. Kebosanan yang kita alami pun, kalau diarahkan dengan benar, sebetulnya dapat memicu kreativitas di dalam diri kita, karena bisa memacu kita untuk berbuat baik, peduli, dan melakukan hal yang baik bagi orang lain. Jangan takut untuk berhadapan dengan diri sendiri dalam kesendirianmu saat ini, tetapi kenali, terimalah hal yang baik di dalam dirimu, dan kamu pun bisa mengajak dirimu sendiri semakin berkembang menjadi lebih baik dari hari ke hari.

“Semua penderitaan manusia berasal dari ketidakmampuannya untuk duduk diam di kamar sendirian.” (Blaise Pascal)

2. Berhemat.

Dengan kita #dirumahaja, berarti nggak ada lagi ngopi-ngopi cantik atau afternoon tea di kedai kopi, nongkrong sama teman-teman, belanja hedon (karena kebutuhan pokok mendadak lebih diutamakan saat ini). Kita secara nggak langsung dipaksa untuk bijak dalam mengeluarkan uang: apakah betul-betul perlu atau tidak.

Baca juga: Tips Mengatur Keuangan di Tengah Situasi Wabah Coronavirus (COVID-19)

3. Melakukan hal atau kegemaran (hobi) baru yang #dirumahaja

Siapa tahu kamu ternyata jadi suka memasak, bertukang, bongkar pasang alat elektronik, bermain musik, olahraga supaya otot jadi, menata ulang dekorasi kamar, merakit model kit, kerajinan tangan, belajar video editing atau animasi, tiba-tiba jadi jualan makanan, catering, bikin komik di Instagram, video animasi di Youtube, bikin video TikTok pertama, menguasai gerakan dance dari artis favoritmu, jadi YouTuber, menyelesaikan buku rohani yang sudah lama tidak dibuka, dan seabrek kegiatan yang bisa kamu lakukan. Kamu juga bisa mengikuti kelas-kelas seminar atau pelatihan online selama periode #dirumahaja.

4. Membantu orang lain.

Kalau kita mau belajar untuk peka melihat kondisi di sekitar kita, banyak orang-orang yang membutuhkan bantuan kita, misalnya para pemilik usaha mikro, kecil, menengah (UMKM), para pedagang atau penjual makanan keliling, pekerja harian, tukang ojek online, dan lain-lain.  Penghasilan mereka menurun drastis karena kita tidak keluar rumah dan berakibat pada berkurangnya transaksi jual-beli. Lihat apakah masih ada hal-hal yang bisa kamu beli melalui UMKM ini (tentu saja dengan tetap memperhatikan kebersihan dan kesehatanmu), berbagi melalui donasi, atau gerakan kasih kemanusiaan yang dibuka oleh pihak yang dapat dipertanggungjawabkan atau diverifikasi kebenarannya. Para tenaga medis yang berjuang di lapangan juga membutuhkan bantuan kita. Untuk mendukung mereka, kita bisa tetap #dirumahaja untuk mengurangi penyebaran dan penularan coronavirus (COVID-19) serta tidak menimbun alat pelindung diri (APD) hanya bagi dirimu, atau mencarikan donasi sesuai kebutuhan instansi atau rumah sakit tempat mereka bekerja. Kalau kamu menjual barang-barang kesehatan, kamu bisa menjualnya dalam batas keuntungan yang baik bagi situasi kemanusiaan.

5. Menjalin dan memperbaiki hubungan.

Waktu masih beraktivitas penuh di luar rumah, berapa banyak waktu yang kita berikan untuk orang-orang yang kita kasihi? Sekarang #dirumahaja, kita jadi punya banyak waktu bersama keluarga. Kita bisa makan siang dan malam semeja, menonton TV bersama, bermain bersama, atau berdoa bersama. Selain itu, kita juga masih bisa menghubungi teman-teman, pacar, atau gebetan kita lewat aplikasi video call. Juga ada waktu untuk menghubungi teman lama, misalnya untuk menanyakan kabar. Tidak kalah penting, selain dengan keluarga dan teman, kita juga punya waktu lebih untuk mulai menjalin dan memperbaiki hubungan dengan Tuhan. So, mulailah berdoa dan membaca Kitab Suci ya, Young People 😀

Young People, walaupun #dirumahaja mungkin bukan keinginan awal kita dan ada di luar kebiasaan sebelumnya, tetapi kalau kita jadi bisa mengatur waktu-waktu ini untuk Tuhan, orang-orang di sekitar kita, dan untuk diri sendiri, #dirumahaja bakal jauh lebih meaningful (bermakna) ketimbang menunggu kapan semua ini akan berakhir. Walaupun merupakan perubahan yang tidak disangka, #dirumahaja menjadi kesempatan yang tersedia untuk menata kembali prioritas dan relasi penting dalam hidup kita. So, Young People, manfaatkanlah waktu di tengah wabah coronavirus (COVID-19) ini, supaya bisa membawa perubahan yang baik dalam dirimu. Tuhan memberkati.

Tips Mengatur Keuangan di Tengah Situasi Wabah Coronavirus (COVID-19)

Young People, wabah coronavirus (COVID-19) yang terjadi belakangan ini, selain menyebabkan masalah kesehatan, juga menyebabkan gangguan stabilitas ekonomi. Kita terpaksa mengurangi banyak transaksi dengan orang lain demi menghindari terjadinya penularan, dan berbagai jenis usaha pun mengalami imbasnya. Para pemimpin negara dan para ekonom berusaha sekuat tenaga menjaga perekonomian agar tidak mengalami resesi (pelambatan ekonomi dalam skala nasional, bahkan dunia).

Dalam kondisi seperti ini, apa yang bisa kita lakukan? INSPIRE mau berbagi tips yang bisa Young People lakukan dalam mengatur keuangan di tengah situasi wabah coronavirus (COVID-19) ini.

1. Membeli barang-barang yang dibutuhkan secukupnya.

Ada perbedaan antara kebutuhan (needs) dengan keinginan (wants). Kebutuhan adalah sesuatu yang tanpanya kita tidak bisa bertahan hidup. Belilah barang yang dibutuhkan dalam jumlah cukup, misalnya bahan makanan, pakaian, atau alat kesehatan seperlunya. Hindari menimbun barang-barang seperti hand sanitizer, masker, atau bahkan membeli alat pelindung diri (APD), kecuali kita instansi kesehatan atau tenaga medis. Tindakan menimbun bisa berangkat dari keegoisan dan keserakahan, yang dapat menyebabkan orang lain menjadi korban, sehingga tentu saja ini bertentangan dengan prinsip cinta kasih yang diajarkan oleh Tuhan Yesus sendiri. Ingatlah bahwa cinta adalah tindakan yang memikirkan juga kebaikan orang lain. Ukurlah kebutuhanmu dan belilah barang hanya sesuai kebutuhan.

2. Memanfaatkan Potongan Harga (Discount) atau Cashback.

Beberapa usaha memberikan potongan harga atau diskon untuk mendorong terjadinya transaksi penjualan. Kalau memang ada kebutuhanmu yang bisa dipenuhi dengan peluang ini, kamu boleh mempergunakannya. Sebagai contoh, kamu bisa memesan makanan dengan menggunakan voucher yang disediakan aplikasi ojek online (Gojek atau Grab). Namun, ingat juga untuk tidak melakukannya secara berlebihan.

3. Meningkatkan dana darurat.

Dana darurat adalah dana yang kita sisihkan dan simpan untuk digunakan kapan saja dalam situasi darurat. Idealnya, dana darurat dimiliki sebesar 3-6 bulan gaji. Kalau kamu belum memiliki dana darurat, kamu bisa menyisihkan sekitar 10% dari pendapatan kotor. Namun, ketika dalam situasi seperti wabah coronavirus (COVID-19) ini, kamu bisa meningkatkan persentasenya sampai 15% pendapatan kotor. Dana darurat ini sifatnya liquid (cair), artinya dapat digunakan atau ditarik kapan saja ketika dibutuhkan. Untuk menyimpan dana darurat ini, sebaiknya gunakan rekening yang terpisah dari rekening yang biasa kamu gunakan, supaya tidak tiba-tiba habis terpakai.

4. Menyusun kembali instrumen investasi.

Kalau kamu memiliki investasi, ini saatnya untuk melihat lagi atau menyusun kembali strategi investasimu, sesuai dengan kondisi keuangan dan tingkat risiko yang dapat kamu terima. Jangan terburu-buru untuk menjual semua atau malah membeli banyak aset. Secara umum, jangan menaruh investasi hanya di satu tempat atau satu jenis, tetapi kamu perlu melakukan apa yang disebut dengan “diversifikasi investasi”, yaitu menaruhnya di beberapa tempat untuk memecah risiko. Ada instrumen dengan risiko rendah sampai dengan menengah, seperti obligasi, deposito, reksadana pasar uang atau reksadana pendapatan tetap; ada juga intrumen dengan risiko tinggi seperti saham. Jangan taruh semua uangmu sekaligus, tetapi sisihkan juga untuk kesempatan atau momentum khusus, misalnya kalau kamu mau membeli investasi yang harganya sedang turun. Walaupun demikian, tetap berhati-hati untuk tidak membeli saham yang anjlok secara agresif, tetapi tetap mengamati dan minta saran dari beberapa orang yang sudah ahli.

5. Tetap berbagi.

Situasi seperti ini mungkin situasi yang sulit. Walaupun demikian, ingatlah bahwa kita tidak hidup seorang diri, dan Tuhan memanggil kita untuk tetap memperhatikan saudara-saudari kita yang membutuhkan. Kalau kita masih bisa “work from home” (bekerja dari rumah), kita perlu bersyukur karena banyak orang yang kehilangan pemasukan atau pendapatan akibat situasi ini, misalnya pemilik usaha mikro, kecil, menengah (UMKM), pekerja harian, tukang ojek online, dan lain-lain. Kamu bisa berbagi kepada mereka melalui berbagai macam cara, misalnya melalui pembelian untuk kebutuhanmu, donasi, atau gerakan kasih kemanusiaan yang dibuka oleh pihak yang dapat dipertanggungjawabkan atau diverifikasi kebenarannya. Kita ingat cerita janda miskin di Sarfat, yang menampung Nabi Elia di masa kekeringan. Pada dasarnya, Sarfat adalah tempat yang panas dan kering, ditambah kota itu sudah tidak mengalami hujan untuk dua tahun. Janda tersebut hanya memiliki segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Namun, dalam kesusahannya, janda miskin tersebut masih memberi makan Nabi Elia, dan kita melihat bagaimana Tuhan mencukupkan kebutuhannya dan anaknya (1Raj 17:8-24).

Demikian tips untukmu dalam mengatur keuangan di tengah situasi wabah coronavirus (COVID-19) ini. Dalam situasi yang terasa berat, ada undangan Tuhan untuk kembali mendekat kepada Tuhan dan belajar percaya pada Penyelenggaraan Ilahi-Nya. Tetap berdoa, jaga kebersihan dan kesehatan, dan jangan lupa untuk mematuhi anjuran pemerintah #dirumahaja. Tuhan memberkati.

Buat kamu yang punya tips yang bermanfaat mengenai mengatur keuangan di tengah situasi wabah coronavirus (COVID-19) ini, boleh share di comment ya.

Sumber:

https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20200326103347-33-147564/6-tips-keuangan-untuk-bertahan-saat-pandemi-corona
https://satutumbuhseribu.valbury.co.id/2020/01/10/kiat-investasi-bagi-investor-muda-saat-resesi-ekonomi/ https://www.cnbcindonesia.com/news/20200327021116-4-147812/virus-corona-pengangguran-dan-resesi/3

Maunya Tuhan yang mana sih? Simak cara praktis berdasarkan metode diskresi St. Ignasius Loyola

Kita selalu mau hal yang terbaik dalam hidup kita. Kita juga tahu bahwa Tuhan lebih tahu soal yang terbaik. Masalahnya, kita suka bingung mendengar suara Tuhan, dan kita ingin mendapatkan tanda-tanda nyata, apakah itu ke kiri atau kekanan, sebelum kita melangkah. Kenyataannya tidak semudah yang kita harapkan. Dalam situasi seperti ini, iman kita berperan penting.

Beriman artinya mengetahui bahwa jika kita sudah berusaha yang terbaik untuk mengikuti kehendak Tuhan, dalam situasi apapun, Tuhan masih memegang kendali atas hidup kita, sehingga ketika kita mau melangkah, kita bisa melangkah dengan lega. Kita percaya kepada prinsip pentingnya, yaitu Tuhan yang menyertai kita, walaupun langkahnya belum terlihat jelas. Ibarat seseorang yang berpergian ke kota yang belum pernah dikunjungi sebelumnya dengan membawa sebuah peta. Kota itu sudah dipastikan ada, tetapi ini adalah kali pertama orang itu berkunjung dengan menggunakan peta tersebut. Ada rasa deg-degan, “Nyampe nggak yah?” Atau merasa, “Ini jalannya bener atau salah?” St. Paulus berkata, “… sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat,” (2 Korintus 5:7).

Belajar dari pengalaman-pengalaman Santo Ignatius Loyola mengenai diskresi (dalam bahasa Inggris, “discernment”), yaitu usaha untuk mengenali kehendak Tuhan melalui gerak-gerik batin kita, ada beberapa hal-hal praktis yang bisa kita rangkum dan praktikkan, supaya kita bisa menjadi manusia terbaik sesuai dengan panggilan kita masing-masing. Yuk, simak poin-poin di bawah ini yang akan membantu kita berjalan dalam kehendak Tuhan.

1. Keterbukaan

Waktu kita berdoa kepada Tuhan agar Ia menunjukkan yang terbaik, kita harus punya sikap terbuka dan tidak ada syarat. Artinya kita mungkin menginginkan suatu hal, tetapi kita tetap memilih untuk rela berganti pilihan ketika Tuhan menginginkan hal tersebut dikerjakan secara berbeda di dalam hidup kita. Sebagai contoh, jika kita berdoa untuk mendapatkan pekerjaan yang terbaik, walaupun kita mungkin berdoa agar diterima di dalam kota, kita perlu terbuka akan kemungkinan diterima di luar kota.

2. Keberanian

Seringkali kita takut untuk membuat pilihan tertentu karena tidak tahu apa yang akan terjadi di ujung jalan sana. Karena takut, kita membuat banyak syarat yang harus Tuhan penuhi. Kita perlu melepas kendali kehidupan kita, dan membiarkan Tuhan yang memegang kendali. Masalahnya, kadang kita selalu ingin memegang stir. Di sinilah kita harus berani melepaskannya, dan memberikannya kepada Tuhan.

3. Kemurahan hati

Untuk mengikuti kehendak Tuhan, kita membutuhkan kemurahan hati. Mungkin ada yang dikorbankan, tetapi itu semua harus dilakukan kalau kita mau dituntun Tuhan untuk menjadi yang terbaik. Sebagai contoh, kadang kita perlu memberikan waktu, tenaga, uang, ketika Tuhan memanggil kita untuk melayani anak-anak-Nya yang berkekurangan.

4. Kebebasan

Jiwa kita harus bebas untuk memilih.  Kadang, kita condong untuk memilih hal-hal tertentu, bukan dengan bebas karena tulus menginginkan hal tersebut, melainkan karena ada keterikatan atau ketakutan-ketakutan di belakang kita. Sebagai contoh, kita memilih pekerjaan karena alasan yang terutama gaji yang lebih besar, bukan karena kita memang menyukai pekerjaan tersebut, sebagai akibat dari ketakutan finansial yang sering membayangi kita.

St. Ignasius Loyola memberikan contoh tentang 3 tipe orang dalam mengambil keputusan:

  1. Orang yang terlalu banyak pertimbangan, akhirnya tidak atau telat memutuskan, karena sibuk dengan hal-hal yang lain selain dari Tuhan.
  2. Orang yang sibuk melakukan berbagai macam hal, tetapi hal yang terpenting luput dari perhatiannya atau tidak berani dikerjakan. Dikerjakan kalau mudah saja dan tidak banyak tantangan.
  3. Orang yang benar-benar bebas yang berani memutuskan sesuai kehendak Tuhan, biarpun itu bukan sesuai rencana dia awal mulanya. Jadilah orang yang seperti ini.

5. Rajin berdoa

Tak kenal maka tak sayang.  Kalau seseorang jarang berdoa, ia akan mengalami kesulitan untuk mengenal karakter Tuhan dan sifat-sifat-Nya. Sama halnya jika kamu jarang ngobrol dengan temanmu, kamu tidak akan bisa dekat dengan dia. Dengan semakin sering berdoa, seseorang akan mengenali sifat-sifat Tuhan dan kehendak-Nya yang Ia inginkan untuk kita jalani.

6. Tujuan

Ketika kita berdoa kepada Tuhan untuk memohon sesuatu, kita perlu tujuan yang jelas, sesuai dengan panggilan kita. Panggilan kita yang terutama adalah untuk mengenal dan mencintai Tuhan dengan segenap pikiran, hati, jiwa, dan kekuatan kita, dan mengasihi sesama seperti Tuhan telah mengasihi kita. Semuanya dalam hidup kita berputar pada prinsip ini. Jadi, ketika mendoakan sesuatu, kita perlu melihat apakah yang kita doakan sesuai dengan tujuan ini atau tidak. Sebagai contoh, kalau berdoa supaya menang lotre, kita harus berpikir, apakah hal itu untuk Tuhan dan sesama, atau bukan? Kalau hanya untuk diri kita sendiri, maka hal ini sudah jelas tidak sesuai dengan panggilan kita yang utama. 

7. Prioritas

Beberapa orang bingung dengan prioritas hidupnya karena masih belum mengerti akan tujuan hidupnya, seperti di poin nomor 6. Sebagai contoh, kadang orang suka berkata, “Nanti kalau sudah kaya dan sukses, baru saya mau melayani dan menyumbang banyak orang-orang miskin.” Orang ini tidak sadar bahwa prioritas pertama hidupnya adalah kaya dan kedua adalah amal, pelayanan, dan Tuhan. Padahal, kalau kita melihat poin no. 6 di atas, prioritas pertama adalah Tuhan, bukan diri sendiri menjadi kaya.  Jadi, prioritasnya harus diubah. Kita bisa beramal sambil bekerja untuk sukses, sehingga Tuhan selalu ada di nomor satu dalam segala sesuatu yang kita kerjakan.

Catatan akhir

Proses diskresi digunakan bukan untuk memilih good (baik) vs evil (jahat), tetapi untuk memilih mana yang good (baik) dan mana yang God (Tuhan), artinya dari antara dua pilihan yang baik itu, yang mana yang Tuhan kehendaki.

Namun, keberhasilan dari proses diskresi pertama-tama bukanlah mendapatkan jawaban pasti mengenai hal yang harus kita pilih. Terkadang, dalam prosesnya, kita menemukan bahwa kita masih memiliki banyak sekali keterikatan di dalam hidup, yang membuat kita tidak bebas untuk memilih. Jika kita menemukan hal-hal tersebut, kita bisa belajar untuk melepaskannya dengan bantuan rahmat Tuhan. Maka, diskresi berhasil ketika kita bisa membuat pilihan-pilihan yang menjadi respon cinta kita terhadap Tuhan, ketika diri kita bisa menjadi lebih dekat dengan Tuhan.

Silakan mencoba!

AskINSPIRE: Pacar Minta Ciuman

Ada pertanyaan yang masuk ke INSPIRE:

Bagaimana pendapatnya jika ada seorang laki-laki yang merasa sakit hati ketika pasangannya yang perempuan tidak mengizinkan ciuman di antara mereka? Perempuan itu sudah berkomitmen untuk tidak melakukan ciuman sejak dulu, dan komitmen tersebut juga sudah dikomunikasikan kepada pihak laki-laki. Pada akhirnya, perempuan itu memenuhi permintaan itu untuk menghilangkan rasa sakit hati prianya. Apakah laki-laki itu benar-benar mencintai perempuan itu? Karena ia sudah membuat wanita itu melanggar komitmennya sendiri demi dirinya.

Hi! Thanks untuk pertanyaanmu. Ada beberapa hal yang perlu dipahami terkait pertanyaanmu.

Memahami laki-laki dan hasrat terdalamnya.

Laki-laki yang merasa sakit hati karena keinginannya tidak dituruti itu mungkin saja ia merasa “powerless”, atau tidak berdaya, karena apa yang ia mau, tidak diperoleh. Mungkin saja egonya tersentil. Hal ini disebabkan karena, secara alamiah, hasrat terdalam di dalam hati laki-laki adalah untuk merasa mampu, berdaya, dan bisa mencapai sesuatu. Oleh karena itu, di dalam setiap hati laki-laki, ada sebuah “pertempuran” yang ingin ia menangkan. Jadi, wajar saja, laki-laki tidak suka untuk merasa kalah, tidak mampu, dan tidak berdaya.

Panggilan Tuhan untuk laki-laki.

Tuhan memanggil laki-laki untuk bertempur pada sebuah pertempuran untuk memperjuangkan apa yang benar, baik, dan indah. Sayangnya, dalam kasus ini, laki-laki tersebut bertempur untuk pertempuran yang keliru. Apa yang ia perjuangkan adalah hal yang bertentangan dengan apa yang benar, baik, dan indah. Kalau melihat dari kasus ini, secara nyata, pelanggaran sebuah komitmen untuk mencapai hal yang baik adalah sebuah hal yang tidak baik. Mungkin saja di awalnya, pasangan ini menganggap, bahwa “tidak berciuman” merupakan salah satu cara yang mereka sepakati untuk membantu menjaga kemurnian hubungannya, untuk mencegah kejatuhan pada dosa seksual yang lebih serius.

Apa motivasi dan maksud di balik ciuman yang dilakukan?

Dalam hal ini, sebenarnya, bukan ciumannya yang salah, tetapi apa maksud yang ada di balik ciuman itu. Kalau ciumannya adalah kecupan sayang secara singkat dan bertujuan untuk memberikan kasih tanpa ada udang di balik bakmi, itu harusnya tidak apa-apa. Dan kita tahu, bahwa kasih itu tidak pernah memaksa, dan tidak pernah tergesa-gesa. Jadi, kalau itu adalah ciuman yang bermotifkan kasih, harusnya kalau nggak diijinkan karena menjaga komitmen, ya harusnya cowoknya “woles aje, cyn.” Namun, kalau ada reaksi marah, bisa saja motif ciumannya berbeda, dan kemungkinan besar bermotifkan pemuasan diri, alias lust.

Membedakan antara love (cinta) dan lust (nafsu).

Lust sendiri bukanlah love. Lust adalah bentuk pemuasan hasrat seksual dengan cara yang abusive. Istilah abusive mungkin berlebihan, tetapi maksud yang dapat saya katakan, abusive itu berarti menggunakan sesuatu untuk pemuasan diri, tanpa mempedulikan dampak kerugian yang ditimbulkan bagi diri sendiri / orang lain / lingkungan sekitar. Dan lust ini merupakah salah satu dari 7 dosa maut.

Jadi, panggilan sebagai laki-laki adalah untuk memenangkan pertempuran yang benar, baik, dan indah. Bukankah lebih mulia untuk “mati” dalam pertempuran yang “worth our life”? Dan salah satu hal yang benar, baik, dan indah, adalah pertempuran untuk menjaga martabat seorang perempuan, yang memang pada dasarnya memberikan gambaran akan keindahan Tuhan. Oleh karena itu, sebagai laki-laki sejati, kita perlu memilih pertempuran yang worth our life, bukan pertempuran yang konyol, karena nanti malah jadi mati konyol.

Dan sebagai perempuan, panggilannya salah satunya adalah untuk menyingkapkan keindahan Tuhan yang sempurna, dan “diselamatkan” oleh laki-laki yang memperjuangkan martabat diri perempuan itu. Oleh karena itu, jangan mudah menyerah (give in) untuk hal yang akan merusak martabat dan keindahanmu yang sempurna dari Tuhan. Bukankah kemurnian itu indah, dan merupakan hal yang baik dan benar dan layak untuk diperjuangkan, hingga suatu saat nanti dapat diberikan kepada dia yang layak menerima hidupmu yang kamu berikan kepadanya?

Bagaimana kalau sudah pernah kebablasan? Apakah saya menjadi sudah tidak murni? Rahmat Tuhan selalu cukup untuk mengampuni dosa, dan memulihkan nilai kemurnian kita, asalkan kita bertobat dan berkomitmen untuk menjaga kemurnian ke depannya, karena setiap orang kudus (alias santo dan santa) punya masa lalu, dan setiap orang berdosa juga punya masa depan.

Kalau kamu punya pertanyaan yang ingin kamu tanyakan ke INSPIRE,
silakan email ke info@letsinspire.co
#AskINSPIRE

Neymar

Semua mata tertuju ke layar TV. Terlihat seorang pemain tergeletak. Orang-orang berjalan mendekat. Tiba-tiba sang pemain yang tergeletak itu terlihat tersentak-sentak, badan melengkung, berguling-guling. Serentak keluar makian-makian dari semua yang ada di sekitar saya. Dari mulut saya pun langsung mengalir keluar sederet nama binatang. Oh…

Tak lama sesudah itu, media sosial dibanjiri oleh lelucon sindiran. Banyak orang muak dengan kepalsuan Neymar. Ia seorang pemain yang baik, tetapi kelicikannya dalam bergaya seolah telah tersakiti secara mistik itu membuat banyak orang menertawakannya. Oh…

Di tengah tawa saat menyaksikan video, gambar, meme, tentang ulah Neymar itu, tiba-tiba saya terhenyak. Orang benci dengan kepalsuan semacam itu. Orang benci dengan kecurangan seperti itu. Orang terusik karena dengan kelihaian bermain drama seperti itu Neymar bisa memanipulasi keadaan sehingga wasit menjatuhkan hukuman bagi pihak yang tidak bersalah, dan sang pemain drama justru mendapat hadiah. Tegasnya, rasa keadilan banyak orang langsung tercabik-cabik. Sungguh tidaklah adil bahwa yang “berpura-pura menjadi korban” mendapat hadiah, sedangkan yang tidak bersalah justru mendapat hukuman.

Memainkan peran sebagai korban?

Jujur saja, memanipulasi keadaan dengan berpura-pura menjadi korban bukan hanya dilakukan oleh Neymar. Bukan hanya dilakukan oleh banyak pemain sepakbola yang memang telah dilatih untuk melakukan dive yang bisa terlihat alami. Bermain sebagai korban adalah strategi yang banyak digunakan orang. Ketika kesadaran ini muncul, saya tidak lagi melihat seorang Neymar yang sedang asyik berguling-guling dengan ekspresi menahan sakit luar biasa. Saya melihat diri saya sendiri dalam drama Neymar itu.

Bukankah demi keuntungan diri, kadang kita sengaja secara mahir berpura-pura menjadi korban? Kita menjerit iba karena telah dizalimi. Simpati dan bantuan pun datang mengalir. Bukankah untuk lari dari tanggung jawab, kadang kita mencoba melemparkan kesalahan pada pihak lain? Dengan itu kita terbebaskan dari hukuman atau konsekuensi tindakan kita. Ya, dalam skala yang berbeda-beda, dalam bentuk lapangan rumput yang berbeda-beda, dalam pertandingan yang berbeda-beda, kita kadang menjadi Neymar, atau bahkan lebih buruk.

Saya teringat akan peringatan Musa kepada bangsa Israel sebelum masuk ke Tanah Terjanji. Mungkin sudah bisa ditebak, bahwa mereka akan mudah tergoda untuk “bermain sebagai korban” (play victim). Dengan itu mereka bisa berdalih. Jika mereka tidak bisa setia kepada Tuhan, itu karena mereka telah menjadi korban keadaan.

Maka, kepada mereka Musa menegaskan bahwa perintah Tuhan itu tidak sulit, tidak terlalu jauh, tidak di atas langit, tidak di seberang laut. Mereka tidak bisa berdalih bahwa tidak ada yang bisa mengambilnya dari tempat yang jauh tak terjangkau itu. Ini yang akhirnya ditegaskan: “Tetapi firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan” (Keluaran 30:14).

Singkatnya, Musa mengingatkan mereka untuk tidak “bermain sebagai korban.” Jangan mencari-cari alasan dengan berujar, “Kami tidak mampu setia karena kami tidak mendapat informasi yang jelas, karena tidak ada guru yang mendampingi kami, karena Kitab Suci sulit dipahami, karena aturannya terlalu rumit, bla bla bla…”

Jangan menyalahkan siapa pun atau apa pun ketika kamu berada dalam keadaan terpojok! Jangan katakan, “Semua terjadi begitu saja di luar kendali saya,” tetapi akui dengan jujur, “Ya, saya telah memilih untuk melakukannya.” Jangan katakan, “Saya telah dijebak,” tetapi katakan, “Saya ikut andil dalam kesalahan ini.”

Kalau kamu jujur mendengarkan apa yang ada di hatimu, kamu pasti mampu hidup sebagai orang baik, tetap memilih yang baik, tetap setia pada ajaran Tuhan. Jika kamu terus jujur mendengarkan bisikan kebaikan dari Yesus, kamu bisa mengubah dunia. Di hadapan Tuhan, jangan berharap kamu bisa bersandiwara seperti Neymar!

AskINSPIRE: Bagaimana Berhenti Pornografi tanpa Supresi (Ditekan/Dikekang)?

Ada pertanyaan yang masuk ke INSPIRE:

Terima kasih, Kak, atas video dan penjelasannya yang sangat bermanfaat sekali. Zaman sekarang, pornografi sudah menjadi jerat yang mematikan sekali untuk generasi ini. Saya juga seorang pecandu yang sedang berusaha lepas dari pergumulan ini, dan video Kakak membuat saya yakin bahwa saya bisa melaluinya. Namun, yang ingin saya tanyakan, Kakak bilang bahwa untuk berhenti nonton porno itu bukan disupresi (ditekan/dikekang). Jadi, kalau nggak disupresi, lalu bagaimana cara untuk berhenti?

Hi! Thanks untuk feedback baik darimu.

Untuk menjawab pertanyaanmu, sebetulnya dibutuhkan sesi yang lumayan panjang dan sedikit lebih mendalam. Saya coba jawab secara singkat:

1. Mesupresi berarti mengekang tindakan, padahal ada keinginan untuk mengkonsumsi pornografi.

Kalau kita supresi, suatu saat kita keinginan tersebut bisa meledak, atau malah keluar dalam bentuk adiksi yang lain. Jadi, sebetulnya sasaran kita bukanlah supresi, melainkan bagaimana kita bisa membebaskan hati kita dari keinginan untuk mengkonsumsi pornografi.

Langkah pertama yang bisa kita lakukan ketika keinginan itu muncul adalah dengan mempersembahkannya kepada Tuhan, yang bisa dilakukan dengan cara sesederhana berkata, “Tuhan, saat ini keinginan untuk mengkonsumsi pornografi muncul di dalam diriku. Aku mempersembahkan keinginan itu kepada-Mu. Terimalah, kasihanilah, dan bantulah aku ya, Tuhan!” Tuhan akan menerima persembahanmu itu dan menggantikannya dengan rahmat yang cukup bagimu.

2. Sikap hati yang tidak ingin mengkonsumsi pornografi itu pada dasarnya adalah sikap hati yang tidak menginginkan pemenuhan pemuasan diri.

Pemuasan diri yang seperti apa? Pemuasan diri melalui penyalahgunaan seks, atau juga tindakan-tindakan lain.

3. Dengan demikian, diperlukan pembentukan sikap hati yang benar.

Ada banyak cara yang bisa dilakukan, salah satunya adalah melatih pengendalian diri. Pengendalian diri, atau self-mastery itulah esensi dari berpantang atau berpuasa. Berpantang dan berpuasa, bahkan selepas masa puasa. Dan nggak harus puasa pornografi saja, bisa juga memilih puasa dari hal yang kita sangat inginkan, misalnya puasa gadget, puasa ngemil, puasa merokok, dan sebagainya. Tujuannya adalah untuk melatih pengendalian diri dan pengendalian keinginan.

Selain itu, untuk membentuk sikap hati supaya semakin baik, kita harus belajar dari hal-hal yang baik pula: semakin seringlah berdoa (Rosario sangat membantu lho), bacalah Kitab Suci, pahami ajaran Gereja Katolik yang benar mengenai seksualitas (kamu bisa cek teologitubuh.com), seringlah memeriksa batin dan menerima Sakramen Tobat, serta Sakramen Ekaristi. Mungkin kamu tidak menyadarinya, tetapi semakin sering kamu bersentuhan dengan hal-hal ini, kamu sebenarnya sedang membentuk hatimu supaya menjadi semakin murni.

4. Cara “pemuasan diri.”

Mengenai pemuasan diri, ada 3 (tiga) hal yang kita pikir kalau kita miliki atau peroleh, kita akan semakin puas, tetapi kenyataannya malah kita merasa semakin haus. Apa saja hal itu? Pada dasarnya adalah kekuasaan atau kekayaan, kehormatan, dan kenikmatan (coba lihat di 1Yoh 2:16).

Kalau hal tersebut di atas itu palsu, hal apa yang benar-benar bisa membuat manusia merasa puas? Yaitu yang berhubungan dengan mencintai dan dicintai dengan otentik. Jadi, kamu perlu berusaha mencari makna cinta yang sejati supaya bisa benar-benar happy.

(Kamu bisa menemukan topik-topik mengenai happiness atau topik terkait di Channel INSPIRE)

5. Menelusuri akar masalahnya.

Cara telusuri, apakah kamu pernah mengalami luka atau penolakan di masa lalu. Pengalaman saya sendiri, kecanduan pornografi saya dimulai ketika saya pernah mengalami perundungan (bullying), sehingga saya merasa nggak akan ada cewek yang mau sama saya. Karena kejadian itu, saya merasa seakan-akan cewek di balik pixel layar komputer itu menerima dan nggak akan pernah menolak saya. Padahal, semua itu adalah ilusi. Jadi, yang sebenarnya saya cari adalah pengalaman untuk diterima (the experience of being accepted), dan sungguh-sungguh dikasihi (truly loved), bukan pornografinya.

So, coba telusuri pengalaman masa lalu, dan coba berdamai dengan hal tersebut.

Kalau kamu punya pertanyaan yang ingin kamu tanyakan ke INSPIRE,
silakan email ke info@letsinspire.co
#AskINSPIRE

Menyesal Tidak Punya Makanan, Lalu Bertobat?

Ini kisah si anak bungsu dalam perumpamaan tentang anak yang hilang (Lukas 15:11-32). Sesudah dihabiskannya semua miliknya, ada bencana kelaparan. Ingin minta sisa makanan babi, tetapi tidak ada yang memberi. Lalu mendapat pencerahan. “Kalau gini caranya, mending gue pulang ke rumah bokap deh. Di sana pasti ada makanan. Gue gak bakalan kelaparan gini.

Anak ini menyesali sudah pergi dari rumah bapaknya, bukan karena ia ingat akan cinta bapaknya, bukan karena rindu pada kampung halamannya, bukan karena ingin bertemu kakaknya. Ia menyesal, karena gara-gara pergi dari rumah bapaknya, sekarang ia tidak punya makanan untuk membuatnya bertahan hidup.

Kisah ini memberi kabar gembira untuk saya. Seperti si bapak yang baik dalam perumpamaan itu, demikianlah Allah Bapa. Ia tidak memusingkan apakah penyesalan saya itu didasarkan pada sesuatu yang luhur, mulia, dalam, atau indah. Apapun penyesalan saya, jika itu membuat saya berbalik kepada Bapa Yang Maharahim itu, tidak akan ada ujian seleksi masuk di pintu gerbang. Tidak ada ujian kelayakan untuk bisa diampuni. Cukup bahwa saya sadar bahwa apa yang saya butuhkan sekarang, yang tidak bisa saya peroleh dengan usaha saya sendiri, hanya bisa diberikan oleh Bapa yang menanti saya di rumah.

Gara-gara merahasiakan dosa, kamu tidak lagi bisa tidur nyenyak. It’s ok kalau kamu menyesali dosamu karena kamu udah lama pengen banget bisa tidur nyenyak. It’s ok berkata dalam doamu, “Bapa, aku menyesal atas dosaku yang udah bikin aku nggak bisa tidur nyenyak. Aku mengakuinya supaya aku bisa tidur nyenyak lagi.” Gara-gara kamu menyimpan dendam kamu jadi punya macam-macam sakit psikosomatis. It’s ok kalau kamu menyesali dosamu karena kamu pengen bisa sehat lagi. It’s ok berkata dalam doamu, “Bapa, aku menyesal karena gara-gara aku menyimpan dendam, aku jadi sakit macem-macem gini. Aku mengakuinya, dan aku melepaskan dendamku, supaya aku bisa pulih lagi.”

Jangan menunggu sebuah pencerahan istimewa, seolah harus ada “tanda ajaib” dari langit, baru kamu menyesal dan bertobat. Selidikilah, apa yang telah hilang, dan kamu merindukannya untuk bisa memperolehnya kembali, dan hanya Bapa yang bisa memberikannya kepadamu.

Meskipun demikian, yang penting adalah kesungguhan batin sesudah itu. Si anak bungsu ingin bisa makan, maka ia pulang ke rumah bapaknya. Dambaannya hanyalah cukup makan. Karena tidak ingin kelaparan lagi, ia berencana untuk tetap di rumah bapaknya itu. Kalau perlu, ia bekerja sebagai salah satu karyawannya. Si anak bungsu tidak berpikir, “OK deh, sekarang gue pulang, daripada gue mati kelaparan. Entar kalau udah gak ada bencana lagi, gue bakalan pergi lagi.

Inilah inti penting dalam penyesalan si anak bungsu. Ia bertekad untuk tidak pergi lagi dari rumah bapaknya. Ini juga yang harus ada dalam penyesalan kita. Keinginan untuk memperoleh kembali yang hilang dan yang hanya bisa diberikan oleh Bapa harus disertai dengan tekad untuk tidak lagi sengaja menghilangkannya.

“Aku sungguh merasakan betapa pedihnya kehilangan itu, dan aku bertekad, dengan bantuan rahmat Tuhan, untuk tidak membiarkan diriku kehilangan itu lagi.” Itulah penyesalan. Jadi, it’s ok menyesal karena kamu sekarang tidak punya makanan, asalkan kamu juga bertekad untuk tidak lagi cari makan di tempat di mana sedang ada bencana kelaparan.

Apakah Dosaku Membuat Doaku Nggak Dijawab?

Kehebohan zaman now. Haruskah dilarang menggunakan headset yang menyumbat kedua telinga ketika berkendara? Menurut hak tiap orang, sebenarnya boleh-boleh saja. Namun, menurut pertimbangan keamanan si pengemudi, si pengendara, dan orang-orang lain di sekitar, hal ini bisa menjadi sangat berbahaya. Kalau kedua telinga dibisingkan oleh suara dari gawai, pengendara bisa nggak mendengar klakson, atau teriakan, atau peringatan.

Tertutup oleh bising.

Meskipun saya bukan pengguna headset—karena saya lebih senang berkontak dengan suara apa pun yang ada di sekitar saya—kehebohan itu mengingatkan sikap hati saya. Betapa seringnya saya menuduh bahwa Allah diam saja, padahal Ia sudah berusaha berbicara, tetapi kedua telinga saya diserap oleh sekian banyak bising kehidupan. Bukan Allah yang nggak berbicara, tetapi sayalah yang nggak mendengar suara-Nya.

Dua ayat kembali bergema: “. . . Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Roma 5:8), dan “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita” (1Yohanes 4:10). Tegasnya, dosa kita nggak pernah mengurangi kemampuan Allah untuk memberikan cinta-Nya kepada kita, tetapi pasti mengurangi kemampuan kita untuk menerima cinta-Nya.

Seperti headset itulah dosa kita. Allah berbicara, Allah menjawab doa kita, Allah ingin memberikan yang baik kepada kita, tetapi telinga batin kita tersumbat oleh hal-hal lain yang membuai kita.

Yang bisa kamu lakukan kalau doamu nggak dijawab.

So, kalau kamu merasa Allah nggak menjawab doamu, langkah pertama adalah memeriksa diri secara jujur. Ada kemungkinan Allah sudah menjawab doamu, tetapi dosamu membuatmu tuli, buta, tertutup.

Langkah kedua adalah memeriksa isi doamu. Satu ayat lagi: “Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu nggak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu” (Yakobus 4:3). Jika dalam doamu itu kamu menyampaikan permohonan hanya demi kepentinganmu sendiri dan bahkan mungkin akan merugikan orang lain, ubahlah permohonan doamu.

Kadang ada situasi yang nggak mudah. Ada berita bahwa kantormu akan memecat banyak pegawai. Kamu segera berdoa, agar kamu nggak termasuk yang dipecat. Artinya, biarlah orang lain saja yang dipecat. Pusing kan? Nah, dalam situasi seperti ini yang penting kamu tulus dalam doamu. Selanjutnya, itu tugas Allah untuk memutuskan apa yang ingin Ia berikan kepadamu.

Namun demikian, bisa jadi masih ada langkah ketiga yang harus kamu ambil. Kamu sudah melepas dosa, seperti headset tadi, yang menyumbat telinga batinmu, dan doamu nggak berpusat pada kepentingan diri, tetapi doamu nggak juga dijawab. Kalau ini yang terjadi, mungkin memang Allah bermaksud melatih otot imanmu untuk semakin kuat dan bersedia bertahan dalam kesabaran. Jadi, langkah ketiga adalah: terus berdoa, terus berserah, terus memohon.

Setelah ini, kamu akan semakin mampu mendengar, melihat, dan menerima, dan karenanya doamu menjadi perjalanan iman. Pengalamanmu akan Allah menjadi sangat personal. Pada akhirnya, entah doamu dijawab sesuai keinginan, atau berbeda, atau bahkan berlawanan sama sekali, pengalaman personal akan Allah itu menjadi bekal berharga.

Kamu berdosa atau nggak, kamu berdoa atau nggak, Allah selalu mencintaimu. Dosamu nggak menyebabkan doamu tak dijawab, tetapi dosamu membuatmu nggak mampu menerima jawaban Allah atas doamu. Seperti headset tadi, dosa membuatmu tuli.

Scroll to top