Saat Kebisingan Menjadi Kebenaran

Salibkan Dia! Salibkan Dia!

Kesalahan apa yang Dia buat? Salibkan Dia! Salibkan Dia! Jika itu yang kalian mau, adililah Dia menurut hukum kalian. Salibkan Dia! Salibkan Dia! Jika kamu membebaskan Dia, kamu bukan sahabat kaisar! Lakukanlah pada Dia apa yang kamu mau. Saya tidak bertanggung jawab atas darah orang ini!

Kusut.

Simpul tak berujung. Benang tidak lagi merah. Anehnya, semua yakin sedang menggenggam erat ujung benang yang pasti tidak merah. Pilatus, Barabas, para ahli dogma, gerombolan orang banyak tak bernama. Semua sepakat untuk meniup api kebisingan. Yang ingin membebaskan akhirnya berpihak pada takut. Teriakan awal akhirnya lumpuh terserap bising tak berhulu. Yang jelas bersalah hanya diam. Diuntungkan oleh kebisingan. Rekam kejahatan diputihkan seketika. Yang membela dogma merasa menang. Terhibur janji ganjaran surga. Pilatus, Barabas, para ahli dogma. Siapa menang, siapa kalah, batas antara keduanya tak lagi murni. Yang pasti, Pilatus, Barabas, para ahli dogma, merasa aman. Bersembunyi di balik bising gerombolan orang tak bernama. Kebisingan itulah yang menang. Kebisingan itulah yang menyeringai puas. Kebisingan itulah yang berhasil mendandani diri sebagai kebenaran.

Nama dan jabatan bisa diganti.

Saat kita memilih takut untuk berpihak pada kebenaran karena ada kebisingan yang mengusik, kita menjadi Pilatus. Saat kita memilih diam memanfaatkan pertikaian, meskipun hati melihat jelas bahwa kita telah bersalah, kita menjadi Barabas. Saat kita memilih untuk menjadikan pengetahuan dogma demi rasa puas diri, meski darah manusia harus dicurahkan tanpa harga, kita menjadi para ahli dogma. Di saat-saat itulah, kita menyerukan sebuah AMIN yang lantang, dan meresmikan kebisingan menjadi kebenaran. Dengan rentetan “amin” tak terucap itu, kita membiarkan diri dipenjara oleh kebisingan yang semakin diyakini banyak orang sebagai kebenaran.

Hanya ada Satu Orang yang setia untuk tetap diam.

Ia tahu, tak ada gunanya bersuara. Ia melihat jelas, saat gerombolan tak bernama hanya ingin melihat kebisingan sebagai kebenaran, tak ada gunanya menawarkan lensa mata yang baru untuk melihat lebih jelas. Ia mendengar jerit pilu dari banyak hati yang dibutakan oleh kebisingan. Hanya ada satu cara. Dengan diam, Ia menghembuskan nafas segar pada kebenaran yang telah dicabik oleh aniaya. Dengan diam, Ia menyuarakan bahwa Ia adalah Sang Kebenaran. Dengan diam, Ia, Yesus dari Nazareth, membisikkan kidung baru yang membuat kebenaran sungguh benar.

Kisah terus berulang.

Di banyak titik sejarah peradaban. Di balik bayang gerak manusia di sudut tersembunyi. Di tengah kilau nafsu yang terpoles kesalehan. Nama bisa diganti. Warna suara bisa berbeda. Kulit, mata, dan rambut, bisa beragam. Angka bisa memuat berbagai arti. Ada di mana kita dalam seluruh kisah ini? Sungguhkah kita ikut terbuai dalam kebisingan dengan bendera kebenaran ciptaan kita sendiri?

Tak lama sesudah itu, saatnya pun tiba.

Kebisingan berubah menjadi senyap. Batu berat tergeser. Kebisingan telah membawa kematian. Saatnya bagi Sang Senyap untuk membawa kembali kehidupan. Hanya tersiksa bukti makam kosong dan kain kematian. Dalam senyap kematian lenyap. Dalam senyap kepalsuan menguap. Dalam senyap drama rekayasa iman tersingkap.

Saatnya telah tiba. Mari beri ruang luas bagi keheningan yang sungguh senyap. Bisik kebenaran akan menjadi seru sangkakala kemenangan. Mari kembali ke inti diri kita. Merayakan hening. Membangkitkan kebenaran. Menolak perangkap kebisingan.

About Tano Shirani

Tano Shirani adalah lulusan program teologi Santa Clara University, California, Amerika Serikat. Sudah sejak lama, ia memiliki mimpi untuk ikut melayani orang muda melalui tulisan-tulisan rohani. Tano telah menerbitkan buku Namaku Lazarus: Merangkul Bisikan Kerahiman (Kanisius, 2016) dan Pendosa Jadi Pendoa: Gejolak Pertobatan Tujuh Pemazmur (Kanisius, 2017). Di tengah kesibukan menulis, menerjemahkan, dan menyunting berbagai tulisan, Tano juga melatih penulis-penulis rohani dalam komunitas Domus Cordis. Ia gemar melahap buku, dan sungguh percaya akan the power of words untuk mengubah dunia dan perjalanan seluruh sejarah umat manusia.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top