Semangat Bekerja: Thank God It’s Monday!

Biasanya, orang malas mendengar kata “Senin”. Senin berarti liburan sudah selesai, waktunya untuk kembali bekerja. Sedangkan, Jumat berarti akhir pekan, bersantai, bisa melakukan hal-hal yang disukai, kesenangan, dan sebagainya, sampai-sampai muncullah frasa “Thank God It’s Friday!”—Terima kasih, Tuhan, ini hari Jumat!

Derajat dan Arti dari Sebuah Pekerjaan

Bekerja hanya untuk mencari uang?

Bekerja hanya untuk mencari uang?

Kalau mau jujur, banyak orang yang mengurangi arti pekerjaan, sehingga bekerja hanya menjadi sarana untuk mencapai tujuan akhir yang adalah uang. Titik. Pemikiran seperti ini—yang menganggap arti sebuah pekerjaan hanya sebagai sarana untuk mendapatkan uang—bisa berdampak buruk, bahkan berbahaya. Mengapa? Karena uang sebenarnya bukanlah tujuan akhir dari sebuah pekerjaan. Kalau uang menjadi satu-satunya tujuan akhir, maka orang yang bekerja akan mudah terbuai dan tergoda. Dengan segera, ia terseret untuk melakukan tindakan curang, jalan pintas, korupsi, gratifikasi, karena cara-cara ini mempercepat tujuannya, yang semata-mata hanya untuk mendapatkan uang. Kalau fokus bekerja adalah uang, maka cara untuk mendapatkan uang menjadi bisa ditawar-tawar (negotiable). Namun, kalau fokus bekerja adalah sesuatu yang lebih luhur—yang akan dibahas di bawah ini—maka uangnya yang akan menjadi negotiable.

Pekerjaan: Hadiah dari Tuhan

Adam menjaga dan mengusahakan Taman Eden

Adam menjaga dan mengusahakan Taman Eden

Sejak manusia pertama diciptakan—sebelum jatuh dalam dosa pertama—Adam mendapatkan pekerjaan pertamanya dari Tuhan (Kejadian 2:15). Adam diberikan perintah untuk mengusahakan dan memelihara taman Eden. Karena manusia diciptakan sesuai dengan gambaran Tuhan, maka kerja pun menggambarkan karakter Tuhan, yaitu Tuhan yang menciptakan bumi dengan segala isinya.

Kita diberikan kemampuan untuk berkarya, untuk “menciptakan” sesuatu seperti Tuhan, sehingga bekerja dan memiliki pekerjaan menjadi sebuah kehormatan (privilege) bagi kita semua. Sangat baiklah ketika kita bisa memproduksi sesuatu, menghasilkan sesuatu, menciptakan sesuatu yang baik, seperti Tuhan menciptakan semua karya-Nya, termasuk bumi dengan segala isinya. Dengan kata lain, bekerja dengan baik memberikan gambaran tentang pencipta kita. Inilah sebabnya mengapa pekerjaan baik yang sehari-hari kita lakukan tidak bisa dianggap enteng atau dipandang sebelah mata.

Pekerjaan: Kutukan dari Tuhan?

Setelah jatuh ke dalam dosa pertama, Tuhan berkata kepada Adam, “Maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu” (Kejadian 3:17). Sejak saat ini, pekerjaan yang dipikul oleh umat manusia mempunyai tantangan tertentu. Pekerjaan yang tadinya adalah panggilan mulia dari Tuhan untuk manusia, sekarang menjadi beban dan banyak tantangan.

Pekerjaan kita tidak selalu mudah dan menyenangkan. Pengalaman saya di pekerjaan sebelumnya, saya menghadapi sikap dan tekanan dari atasan secara tidak layak. Peristiwa itu membuat saya malas pergi ke kantor. Energi langsung hilang begitu bangun pagi, memikirkan bagaimana saya harus menghadapi atasan saya lagi. Melihat pintu kantor saja malas! Di jam-jam istirahat, saya selalu pergi ke taman di seberang kantor, yang saya sebut taman Getsemani J, tempat saya berdoa minta kekuatan. Itulah salib yang harus saya pikul ketika itu, yang memurnikan saya dalam pekerjaan, dan membuat saya dapat memancarkan lukisan Tuhan lebih baik di kemudian hari.

Yes, akan ada beban dalam pekerjaan, mungkin berat, mungkin ringan. Namun, sekalipun saat ini kita belum mengerti akan solusinya, jangan putus asa, karena Tuhan Yesus sudah mengatakan, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu,” (Matius 11:28). Dia yang akan membantu kita!

Bekerja itu Ibadah!

Pendapat ini sebenarnya sangat tepat. Pekerjaan adalah sakramentali! Artinya, pekerjaan bisa menjadi suatu tanda yang mendatangkan berkat bagi orang lain. Powerful banget kan? Melalui pekerjaan kita, tidak peduli apakah kita menempati posisi tinggi, atau seorang karyawan biasa, pekerjaan kita memiliki suatu tanda yang bisa membawa berkat bagi orang lain.

Mengapa bekerja disebut ibadah? Karena selain bekerja adalah panggilan yang mendasar bagi setiap umat manusia (Laborem Exercens, no. 4), hasil dari pekerjaan kita yang berupa uang bisa digunakan untuk membawa berkat bagi keluarga, saudara, teman; bagi mereka yang bekerja untuk kita di rumah, seperti asisten rumah tangga, sopir; dan juga untuk membantu orang-orang yang berkekurangan. Dengan memberikan hasil jerih payah kita kepada orang lain, kita juga mengangkat derajat kita sebagai seorang pekerja, yakni ketika kita melihat pekerjaan kita dapat meringankan penderitaan orang lain. Di sinilah kita yang manusia diperlihatkan sebagai gambaran Tuhan, yaitu dengan karyanya menyelamatkan orang lain.

Pekerjaan diberikan agar kita bisa berbagi pada orang lain.

Pekerjaan diberikan agar kita bisa berbagi pada orang lain.

Kita bekerja bukan untuk diri sendiri, malah sebaliknya, karunia pekerjaan diberikan agar kita bisa membaginya kepada orang lain. Ini suatu karunia sosial, bukan individualisme. Kalau tujuan akhirnya adalah baik, maka proses untuk menuju ke tujuan akhirnya pun harus baik. Alias, kita harus bekerja sungguh-sungguh pada setiap tahap dan pada setiap saat. Supaya orang-orang di kantor boleh melihat kita sebagai pancaran gambar Allah.

Yang menjadi masalah adalah orang-orang yang mengaku sebagai pengikut Kristus tetapi kelakuannya, tindakannya, perkataannya tidak memancarkan gambaran Kristus di tempat kerjanya. Kalau kamu dipercayai sebagai atasan, jadilah atasan yang adil, jujur, dan sabar, seperti Kristus juga adil, jujur, dan sabar. Kalau kamu sebagai karyawan, jadilah karyawan yang disiplin, taat, dan bertanggung jawab seperti Yesus pun yang taat, disiplin, dan bertanggung jawab.

Inilah artinya sebuah pekerjaan, pekerjaan itu mengangkat derajat manusia, pekerjaan juga adalah ibadah. Dalam sebuah pekerjaan, ada berkat dan ada beban. Selain itu, kita juga harus menjaga nilai-nilai ekonomi sesuai ajaran Gereja, yaitu:

  1. Ekonomi diciptakan untuk manusia, bukan manusia untuk ekonomi.
  2. Nilai moral ekonomi secara fundamental dilihat dari bagaimana nasib orang-orang miskin dan yang rentan.
  3. Semua manusia mempunyai hak untuk mendapatkan kelayakan dalam: sandang, pangan, papan, edukasi, lingkungan, keamanan, jaminan kesehatan.
  4. Semua manusia juga harus mendapatkan jaminan akan lingkungan pekerjaan yang layak, gaji yang layak, dan pekerjaan yang produktif.

Jadi, pekerjaan itu sangat mulia dan sangatlah penting, karena pekerjaan merupakan suatu panggilan yang fundamental bagi umat manusia. Pekerjaan itu tidak bisa direduksi semata-mata untuk mencari uang sebagai tujuan akhirnya, melainkan untuk memberkati banyak orang, to bless. Dasar dari pekerjaan adalah iman, bukan uang. Pekerjaan yang didasari oleh uang semata, akan memberikan iman yang fleksibel. Banyak orang jatuh dalam korupsi karena mereka bekerja berdasarkan uang, sehingga imannya fleksibel.

Thank God it’s Monday! Sudah saatnya kita bersyukur atas pekerjaan kita.

About Ernest Basarah

Ernest Basarah aktif melayani orang muda sejak tahun 1997. Ia pernah bertanggung jawab sebagai Koordinator Muda-mudi Katolik Indonesia di Orange County, California, Amerika Serikat, lalu menjadi Head of Formation/Spiritual Ministry komunitas orang muda Indonesia di Keuskupan Los Angeles. Ernest yang pernah mengambil studi Kitab Suci selama 3 tahun di Catholic Bible Institute, Loyola Marymount University, menjadikannya seorang Certified Bible Study Facilitator di Keuskupan Los Angeles. Kalau ada waktu luang, ayah dari tiga orang anak ini bisa dicari di driving range, asyik bermain golf.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top