Serba Nanggung

Masih ingat masa sebelum ada smartphone? Ketika jumlah huruf dalam SMS dibatasi, ketika tiap kiriman dikenai biaya, ketika kamu masih bisa hafal banyak nomer telepon, ketika kamu masih terpaksa sadar sepenuhnya bahwa ada orang-orang di sekitarmu, itu semua rasanya seperti kemarin. Namun sekarang kenyataannya, kita sudah hidup di “planet” lain.

Banyak dari kita bersyukur. Karena ada gadget, menunggu tidak lagi membosankan. Macet sedikit, gadget. Antre sedikit, gadget. Tunggu romo sampai ke altar, gadget. Belum dapat giliran masuk kamar pengakuan dosa, gadget. Habis komuni, tunggu romo beresin altar, gadget.

Sungguh mengherankan bahwa yang seperti ini justru disyukuri. Bukankah ini sebenarnya sebuah tragedi besar kemanusiaan? Saat kita harus menunggu adalah saat kita mau tidak mau dihadapkan pada kenyataan diri kita. Banyak pikiran dan rencana akan bergelayutan di kepala kita. Saat seperti itu sebenarnya merupakan saat istimewa untuk melakukan processing. Untuk sort things out. Tapi, ya itu tadi, sayang sungguh sayang, kita sekarang tak lagi bisa menghadapi diri kita karena kesempatan menunggu langsung kita buat riuh dengan gadget kita.

Menunggu itu tidak enak. Saat seperti itu membawa kita di sebuah “masa antara”. Kita tiba-tiba harus berdiri di sebuah gap kosong. Kita sudah melangkah dari pintu TransJakarta, tetapi kaki kita belum menjejak di lantai halte perhentian. Sudah tidak lagi di dalam bus, tetapi belum juga ada di dalam halte. Kita sudah berangkat, tetapi belum sampai tujuan. Semua serba nanggung.

Hebatnya, setiap tahun, Gereja Katolik mengajak kita untuk bersama berdiri di gap kosong itu. Masa Adven, yang berasal dari kata bahasa Latin, ad (menuju, kepada, pada) dan venire (datang), membawa kita kembali pada rasa serba nanggung dalam hidup kita. Ini saat penting yang sudah terlalu lama kita buat runyam karena kita semakin takut menghadapi diri sendiri.

Saat menunggu adalah saat istimewa untuk hening, mendengarkan kegaduhan berbagai suara dalam benak dan hati kita. Saat menunggu adalah saat indah ketika kita kembali diajak belajar untuk mendengarkan. Saat menunggu adalah kesempatan langka yang harus kita peluk agar kita kembali bisa menjadi manusia yang utuh dan seimbang.

Maka, lakukanlah ini. Tulis besar-besar di dekatmu: “Wait. It’s time to listen.” Cuci otakmu dengan mantra pengingat itu tiap kali kamu harus menunggu. Jangan ngintip ada apa di layer gadget. Kalau kamu lakukan ini, dijamin di masa Adven ini, di masa penantian menjelang kelahiran Yesus ini, kamu akan lebih bisa mendengar apa yang selama ini ingin dibisikkan ke dalam hatimu, oleh Tuhan, oleh orang lain, oleh dirimu sendiri, oleh mimpimu yang tersembunyi.

Yesus sudah lama menunggu kapan kamu sungguh bisa sepenuh hati menunggu kedatangan-Nya secara baru dalam hidupmu. Jangan menunggu terlalu lama sampai ada saat yang tepat. Inilah saatnya kamu belajar menunggu. Yesus akan datang membawa perubahan besar yang selama ini kamu anggap tidak mungkin.

Selamat Adven!

About Tano Shirani

Tano Shirani adalah lulusan program teologi Santa Clara University, California, Amerika Serikat. Sudah sejak lama, ia memiliki mimpi untuk ikut melayani orang muda melalui tulisan-tulisan rohani. Tano telah menerbitkan buku Namaku Lazarus: Merangkul Bisikan Kerahiman (Kanisius, 2016) dan Pendosa Jadi Pendoa: Gejolak Pertobatan Tujuh Pemazmur (Kanisius, 2017). Di tengah kesibukan menulis, menerjemahkan, dan menyunting berbagai tulisan, Tano juga melatih penulis-penulis rohani dalam komunitas Domus Cordis. Ia gemar melahap buku, dan sungguh percaya akan the power of words untuk mengubah dunia dan perjalanan seluruh sejarah umat manusia.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top