Susahnya Berdoa “Terjadilah Kehendak-Mu”

Mendapat kabar yang mengejutkan, Maria berkata, “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut kehendak-Mu.” Di taman Getsemani, sadar bahwa sengsara dan maut menanti-Nya, Yesus berdoa, “Janganlah terjadi menurut kehendak-Ku, tetapi menurut kehendak-Mu, ya Bapa.” Kepada para murid, Yesus mengajarkan doa yang di dalamnya memuat kata-kata, “Jadilah kehendak-Mu, di atas bumi seperti di dalam surga.”

Lebih dari dua ribu tahun sesudah itu semua, hari ini kita harus merunduk malu. Hati kita tidak sepenuhnya bisa ikut mengucapkan kata-kata itu.

Mengapa sulit berdoa “Terjadilah kehendak-Mu”? 

Sebab pertama terletak dalam pikiran kita. Entah bagaimana, kita sudah punya banyak praduga tentang Tuhan. Kehendak Tuhan sudah dianggap sebagai sesuatu yang arahnya adalah membuat hidupku lebih berat. Tuhan akan menuntut ini dan itu dariku. Banyak hal harus diubah. Hidupku akan menderita, karena yang kuinginkan tidak selalu terpenuhi.

Beberapa orang mengusulkan hal praktis. Ubahlah ucapan Thy will be done menjadi Thy love be done, dari “Terjadilah kehendak-Mu” menjadi “Terjadilah cinta-Mu.” Sudah beberapa tahun ini saya mencoba, dan efeknya luar biasa.

Perlahan-lahan, kehendak Tuhan tidak lagi saya anggap sebagai sesuatu yang membebani. Sebaliknya, dengan menempatkan semua itu dalam kerangka cinta Tuhan, hati saya menjadi lebih terbuka. Di sinilah salah satu kuncinya. Kita akan menyadari bahwa tanpa cinta Tuhan dalam diri saya, betapa malangnya saya! Jika saya menolak Tuhan yang rindu mewujudkan cinta-Nya pada saya, betapa menyedihkan hidup saya!

Sebab kedua adalah keterikatan pada keinginan untuk mengontrol segalanya. Dengan kontrol, kita merasa nyaman karena kita bisa memastikan dan memprediksi keadaaan. Akhirnya kita enggan berdoa “Terjadilah kehendak-Mu,” karena kita takut kehilangan kontrol tersebut. Jangan-jangan, segalanya menjadi serba tidak pasti.

Meskipun mengaku sebagai manusia modern, jauh di dalam lubuk hati, kita adalah konservatif sejati yang tidak ingin ada banyak kejutan baru dalam hidup ini.

Karena ingin segalanya serba pasti, kita tak lagi berdoa, “Terjadilah kehendak-Mu.” Sementara itu, sebagai manusia modern, kita tahu bahwa berinovasi berarti berjalan dalam ketidakpastian. Di sinilah terletak sebuah ironi yang sangat menggelikan. Semakin kita terjebak dalam hasrat akan kepastian—sehingga menolak berdoa “Terjadilah kehendak-Mu”—semakin kita lumpuh dan tak lagi berinovasi.

Kehendak-Nya adalah Cinta-Nya

Tak bisa diragukan, Tuhan selalu mampu menemukan cara baru untuk mencintai manusia, untuk membarui perjanjian kudus yang telah dilanggar dan untuk mengampuni dan memberi kesempatan baru. Tidak ada yang bisa menyaingi kemampuan Tuhan yang pada dasarnya adalah Ahli yang tak pernah berhenti berinovasi. Anehnya, karena terobsesi pada hasrat untuk mengontrol agar bisa bebas berinovasi, kita justru memutuskan diri dari Sang Inovator Agung itu.

Ketika kehendak Tuhan saya samakan dengan cinta Tuhan, saya justru lebih merindukannya.
Ketika kehendak Tuhan saya samakan dengan inovasi Tuhan, saya justru lebih merindukannya.

Berdoa “Terjadilah kehendak-Mu” berarti berdoa “Terjadilah cinta-Mu.” Dengan ini, kita menyediakan diri untuk sungguh dicintai Tuhan.
Berdoa “Terjadilah kehendak-Mu” berarti berdoa “Terjadilah inovasi-Mu.” Dengan ini, kita membuka diri untuk diikut sertakan dalam daya inovasi Tuhan yang tak kunjung sirna.

Jadi, jika kita memilih untuk tidak berdoa “Terjadilah kehendak-Mu” berarti kita memilih untuk tidak dicintai oleh Tuhan. Kita memilih untuk menjadi orang bodoh yang ingin segalanya pasti sehingga lumpuh dan tak lagi berinovasi.

Apa pilihanmu?

About Tano Shirani

Tano Shirani adalah lulusan program teologi Santa Clara University, California, Amerika Serikat. Sudah sejak lama, ia memiliki mimpi untuk ikut melayani orang muda melalui tulisan-tulisan rohani. Tano telah menerbitkan buku Namaku Lazarus: Merangkul Bisikan Kerahiman (Kanisius, 2016) dan Pendosa Jadi Pendoa: Gejolak Pertobatan Tujuh Pemazmur (Kanisius, 2017). Di tengah kesibukan menulis, menerjemahkan, dan menyunting berbagai tulisan, Tano juga melatih penulis-penulis rohani dalam komunitas Domus Cordis. Ia gemar melahap buku, dan sungguh percaya akan the power of words untuk mengubah dunia dan perjalanan seluruh sejarah umat manusia.





One comment on “Susahnya Berdoa “Terjadilah Kehendak-Mu”

  1. Sutikno Kentjana says:

    Artikel bagus sekali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top