Tentang Doa: 3 Cara Berdoa yang Bisa Kamu Coba

Kalau berbicara tentang doa, ada pengalaman yang membekas di dalam ingatan saya. Semasa kecil, saya sering menyerbu kamar orang tua saya, ehm, karena takut tidur sendirian. Saya sering melihat dan mengamati almarhum ibu saya menjalankan “ritual” malam harinya: sikat gigi, cuci muka, cuci kaki, memakai pelembab, duduk di pinggir tempat tidur, membuat Tanda Salib, berdoa, lalu siap untuk tidur (biasanya saya gangguin dulu tapinya).

Kekonsistenannya melakukan semua itu membuat saya yang saat itu masih bocah menjadi penasaran. Saya masih ingat pertanyaan saya kepadanya, “Mi, kalau Mami berdoa, Mami ngobrol sama Tuhan? Mami bisa denger suara Tuhan?” Saya lupa apa persisnya jawaban si Mami karena tampaknya ia kesulitan menjawab pertanyaan saya. Namun, saya jadi punya keinginan untuk bisa bercakap-cakap dengan Tuhan, yang artinya saya bisa mendengar atau merasakan Tuhan berbicara langsung pada saya.

Saya rasa, kerinduan semacam ini, kerinduan untuk sungguh-sungguh berhubungan dengan Tuhan secara intim, disadari atau tidak, memang ada di dalam diri setiap kita karena Tuhanlah yang pertama-tama meletakkannya di dalam hati kita. Atau dalam kata-kata St. Yohanes dari Salib, “Jika seseorang mencari Tuhan, Tuhan Kekasihnya itu sudah terlebih dahulu mencari dia.”

Yang menjadi masalah, saya nggak ngerti gimana cara berdoa.

Lucu ya? Padahal saya lahir di keluarga Katolik, dibaptis Katolik sejak bayi, bersekolah di institusi Katolik dari sejak TK hingga universitas, pernah sekali atau dua kali mengikuti sekolah Minggu, tapi saya kira berdoa artinya cukup mengucapkan doa-doa Bapa Kami, Salam Maria, atau Kemuliaan. Done. Kalau disuruh berdoa seperti ini, saya masih pede (percaya diri), bisa ngoceh otomatis di luar kepala tanpa harus memikirkan kata-katanya. Begitu diminta berdoa spontan, waduh, tunggu dulu, butuh waktu supaya kata-kata yang keluar nggak terlalu belepotan.

Ternyata, berdoa itu bukan cuma mengucapkan kata-kata yang sudah kita hafal. Ada macam-macam bentuk atau cara berdoa yang bisa kita coba.

  1. Doa Lisan

Artinya doa yang diucapkan dengan kata-kata. Kita bisa mengucapkan doa lisan yang sudah kita kenal dan hafal, atau mengucapkan doa lisan secara spontan. Cara lain lagi, kita bisa mendoakannya dalam nyanyian.

Ada yang berpendapat kalau doa hafalan itu membosankan, sebaliknya merasa kalau doa spontan itu lebih keren karena keluar dari hati dan banyak kata-kata indah yang bisa dirangkai. Yang nggak kita sadari, doa hafalan sebenarnya bisa sangat bermanfaat kalau kita membiarkan kata-kata dalam doa tersebut yang mendidik kita.

Berlawanan dari doa spontan yang arahnya keluar dari hati menuju mulut, doa hafalan bisa bermanfaat kalau kita bisa menangkap kata-kata yang keluar dari mulut untuk dimasukkan ke dalam pikiran dan hati kita. “Apa yang diulangi oleh seseorang dengan mulutnya, biarkan ia merasakannya pada jiwanya,” kata St. Edmundus. Lagipula, dalam doa yang kita ucapkan, penting banget buat sadar kepada Siapa kita sedang berbicara, sehingga doa bukan cuma rapalan mantra yang diucapkan sambil lalu.

Bagi kamu yang baru ingin mencoba untuk berdoa, kamu bisa mulai dengan sungguh-sungguh mencoba mendoakan doa-doa seperti Bapa Kami, Salam Maria, Kemuliaan, atau doa-doa seruan singkat (ejaculatory prayer). Buku-buku doa dan ibadat harian (Brevir) juga dapat menuntunmu untuk belajar berdoa. Pada saat kamu mendoakannya, ucapkanlah dengan jelas dan perlahan-lahan sehingga telingamu bisa mendengarkan suaramu sendiri dan membiarkannya meresap ke pikiran dan hatimu.

  1. Doa renung atau meditasi

Kalau mendengar kata meditasi, mungkin kita kepikiran gambaran popular duduk diam bersila, lengkap dengan tangan yang terbuka di sisi atas paha, sedang berusaha mengosongkan pikiran. Sebenarnya, bukan itu yang dimaksud. Doa renung atau meditasi Kristiani adalah sebuah pencarian untuk memperoleh pemahaman yang lebih dalam supaya bisa mengerti, menyetujui, dan menjawab kehendak Tuhan. Proses ini melibatkan pikiran, imajinasi, perasaan, dan kerinduan-kerinduan. Ketika melakukan doa renung atau meditasi Kristiani, kita justru nggak mengosongkan pikiran.

Dalam doa renung, kita terbantu oleh hal-hal yang menggugah pikiran kita, seperti teks (tulisan) atau gambaran. Teks bisa berasal dari Kitab Suci (terutama Injil), bacaan harian sesuai Kalender Liturgi, tulisan-tulisan rohani dari Para Kudus, atau buku-buku Katolik yang baik. Gambaran bisa berasal dari gambar-gambar suci, ikon kudus, atau alam ciptaan karena mereka menggambarkan keindahan Tuhan.

Waktu kita berhadapan dengan hal-hal tersebut, kita bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada diri sendiri, berusaha merefleksikan: pemahaman apa yang sudah saya dapatkan, apakah pemahaman tersebut sudah tepat sesuai ajaran Gereja, perasaan apa yang saya rasakan ketika mengetahui hal tersebut, mengapa saya merasakan hal itu, apa yang Tuhan kehendaki, apa yang perlu saya lakukan?

Adanya perubahan pemahaman bisa membuat kita merasa nggak nyaman, karena seiring dengan perubahan pemahaman, kita mungkin merasa terpaksa berubah dalam sikap. Inilah sebabnya cara berdoa dengan merenung atau meditasi membutuhkan iman dan kerendahan hati, supaya kita bisa terus menerus bertobat dan memperkuat kehendak untuk mengikuti Yesus, untuk menjadi semakin serupa dengan Kristus sendiri sesuai dengan pemahaman-pemahaman baru yang kita dapatkan.

  1. Doa batin atau kontemplasi

Doa batin mengambil tempat dalam batin, yaitu hati kita. Menurut St. Teresa Avila, doa batin atau kontemplasi adalah sebuah pergaulan yang erat di antara dua orang yang berteman, menyediakan waktu untuk berdua dengan Ia yang sangat mengasihi kita. Saat kita mencintai seseorang, kita akan berusaha berkomitmen untuk menyediakan waktu baginya. Komitmen artinya bukan hanya pada saat kita sedang ingin, saat sedang ada waktu, tetapi bertekad untuk melakukannya terus menerus dan nggak menyerah walaupun mungkin doa terasa kering.

Sosok Kristus, yang kita kenal dari hasil pemahaman kita, adalah pusat dari doa batin atau kontemplasi. Dalam doa batin, kita menyadari Tuhan yang berdiam di dalam diri kita, menyadari lagi identitas kita sebagai anak Allah. Pada saat yang sama, kita juga menyadari kedosaan kita, dengan tetap memiliki harapan akan belas kasih Tuhan. Ketika kita berdiam, tanpa kata-kata, kita bisa memandang Kristus dalam batin kita, belajar untuk mendengar, belajar untuk taat. Hal ini menjadi alasan mengapa doa batin membutuhkan kejujuran dan kerendahan hati.

Seseorang yang baru mulai belajar berdoa belum tentu nyaman dengan cara berdoa seperti ini karena doa batin adalah kehadiran dalam diam. Kalau kita nggak cukup nyaman dengan seseorang, kemungkinan kita nggak terlalu nyaman untuk duduk diam bersama.

“Ketika kamu berdoa, jangan berbicara terus menerus, dengarkan! Jika kita terus mengetuk-ngetuk dengan palu kita, bagaimana Sang Arsitek Ilahi dapat memberitahu kita bagaimana kita harus membangun?”

(Venerabilis Fulton J. Sheen)

Ekspresimu dan tujuanmu berdoa

Sebetulnya, kita bisa mengabungkan semua bentuk-bentuk doa di atas sebagai ekspresi doa kita. Misalnya, dalam cara yang disebut lectio divina, kita bisa memperkatakan Kitab Suci dan kemudian merenungkannya. Doa Rosario juga menggabungkan doa lisan dan meditasi, karena sembari kita mengucapkan kata-kata dalam doa lisan, kita juga merenungkan peristiwa-peristiwa Injil yang sudah disusun.

Tujuan akhir dari semua doa ini bukan melulu supaya doa kita dikabulkan, tetapi terutama supaya kita bisa punya relationship yang intim dengan Tuhan, supaya kita dimampukan untuk sungguh-sungguh mencintai-Nya dalam setiap keberadaan kita, untuk mengikuti Dia, dan menjadi serupa dengan-Nya.

St. Yohanes Paulus II mengatakan bahwa “perjumpaan dengan Kristus diekspresikan bukan hanya dalam memohon pertolongan tetapi juga dalam ucapan syukur, pujian, penyembahan, kontemplasi, mendengarkan, dan devosi yang bergairah, hingga hati benar-benar “jatuh cinta.” . . . Menjadi keliru untuk berpikir bahwa orang Kristiani bisa cukup puas dengan doa dangkal yang tidak dapat mengisi seluruh hidup mereka.”

Ambil langkah untuk mulai berdoa

Beberapa dari kita mungkin mengalami kesulitan memulai doa pribadi. Kita bisa memulai dengan memohon kepada Tuhan untuk menuntun kita dalam berdoa. St. Josemaria Escriva pernah berkata,

“Kamu tidak tahu gimana caranya untuk berdoa? Tempatkan dirimu di hadapan Allah, dan segera setelah kamu telah berkata, ‘Tuhan, aku tidak tahu bagaimana caranya untuk berdoa!’ kamu bisa yakin bahwa kamu telah memulainya.”

Jika kita masih merasa belum bisa berdoa pribadi, cobalah untuk berdoa dalam kelompok. Doa dalam kelompok bisa mengajarkan kita tentang doa dan tentang Tuhan. Seolah-olah kita diperkenalkan kepada Tuhan melalui orang lain, kemudian perlahan-lahan kita mulai membangun relasi sendiri dengan Tuhan.

Young people, kita nggak perlu nunggu jadi suci dan sempurna buat mulai berdoa. St. Fransiskus dari Sales mengatakan, “You learn to speak by speaking, to study by studying, to run by running, to work by working; and just so, you learn to love by loving.” Kita juga belajar untuk berdoa dengan cara berdoa. Nggak ada cara lain yang bikin kita makin berpengalaman dalam berdoa, selain melakukan doa itu sendiri. Jangan tunda lagi untuk mulai berdoa, mari mulai sekarang, selama kesempatan kita masih ada.

Semoga Tuhan memberkati kita semua.

Referensi:
Katekismus Gereja Katolik
Loyola Press
Awaken to Prayer

About Friesca Saputra

Walaupun berprofesi sebagai dokter, Friesca adalah orang muda yang sangat mencintai segala sesuatu tentang iman Katolik sejak kepulangannya ke dalam Gereja. Baginya, ilmu pengetahuan dan iman Katolik tidaklah bertentangan, sehingga "iman dan akal budi adalah seperti dua sayap di mana roh manusia naik ke kontemplasi kebenaran," ini menjadi motto hidupnya.

Sejak tahun 2012, ia bergabung dengan karya kerasulan Youth Mission for Life (YML) yang bergerak untuk membela kehidupan, serta mempromosikan KB alamiah (KBA), yang salah satu hasilnya adalah aplikasi OVULA Women Fertility. Ia juga turut berkontribusi dalam penulisan buku Renungan Harian Perempuan "Treasuring Womanhood" bersama teman-teman perempuan lain. Karyanya di dunia maya dimulai sejak ia direkrut menjadi salah satu admin page Katolik.





5 comments on Tentang Doa: 3 Cara Berdoa yang Bisa Kamu Coba

  1. Sabrina says:

    Nice article.. Thanks for sharing 🙂

    1. Friesca Saputra says:

      Thank you, Sabrina! Semoga memberkati 🙂

  2. Yunita says:

    Luarr biasaa… sangat memberkati👍
    Terimakasih🙏

  3. Roberto says:

    Inspirasi yg menggugah alam sadar untuk segera berdoa. Terimakasih sudah mengingatkan saya.

  4. Maria says:

    thank you for sharing..I need to be closer with God so I will learn to pray by praying🙏😊

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top