Ternyata gue juga telolet

DJ Marshmello

Gue masih takjub. Nggak abis mikir. Itu orang-orang yang biasa nongkrong di pinggir jalan, dari dulu udah sering minta sopir bus buat bunyiin klakson. Tiba-tiba, dorrr . . . ! “Om Telolet Om” dikenal di seluruh dunia.

Ikut bangga juga jadi orang Indonesia. Bangsa gue bisa nyumbang keceriaan untuk dunia yang sedang diobok-obok sama kekuatan gelap — yang saking gelapnya juga nggak jelas dari mana asalnya, dan ke mana geraknya.

Telolet! Gue lihat diri gue.

Itu anak-anak pegang tulisan “Om Telolet Om.” Kalo ada sopir bus yang bunyiin klakson, langsung tuh anak-anak lompat girang teriak-teriak. Sebaliknya, coba lihat, gimana kalo sopirnya cuek? Langsung ngomel-ngomel. Gue sering minta sesuatu ke Tuhan supaya gue seneng. Tuhan kasih, dan gue seneng. Udah gitu, apa gue kenal tuh sama sopir yang udah bikin gue seneng? Tuhan kasih gue seneng, tapi bentar aja, Tuhan gue lupain. Tunggu bus lain. Kalo Tuhan nggak kasih, kayak anak-anak itu, gue ngomel ke Tuhan. Yang pilih kasih lah, yang nggak adil lah, yang baperin lah, bla bla bla . . .  Ternyata gue telolet sama Tuhan.

Telolet! Gue juga kayak sopir cuek itu.

Bisa bikin orang seneng, tapi sengaja nggak mau bunyiin klakson. Lagian, kan bukan urusan gue untuk bikin orang seneng. Sebenernya gue ngiri. Kenapa mereka seneng, ngetop, jadi viral, tapi gue yang bunyiin klakson nggak dikenal. Dilupain. Namun, apa ruginya kasih gratis yang bisa bikin seneng? Apa sih susahnya kasih senyum, apa sih susahnya kasih sapaan, apa sih susahnya say hi biar temen gue seneng? Masalahnya, gue nggak seneng kalo orang seneng gara-gara gue, sementara gue sendiri tetep sedih.

Telolet! Eh, tiba-tiba gue ada di Betlehem.

Joy to the world! Nggak diminta, Tuhan buat banyak orang seneng. Nggak diminta, Tuhan bunyiin tuh telolet biar kita nggak lagi baper. Gembala yang bau tiba-tiba seneng. Malaikat-malaikat bunyiin trompet kabar sukacita, “telolet!” Bertemulah mereka sama cewek belasan tahun, yang ngaku masih perawan, tapi baru ngelahirin bayi, dan lakinya yang bukan bapaknya tuh bayi jauh lebih tua. Bingung, nggak beneran ngerti, tapi mereka rasa ada sesuatu. Seneng itu menular. Ke mana-mana mereka cerita. Makin banyak orang ikut seneng.

Telolet! Tiga orang super pinter lihat tuh bintang.

Mereka denger gema “telolet!” Minta restu dari raja pengecut. Sampai di kandang, mereka denger bunyinya makin keras, “telolet!” Bayi kecil itu diam-diam punya cerita besar untuk semua orang. Namun, coba lihat raja yang pengecut—nyebut namanya aja malesin banget. Terancam. Pura-pura baik. Untung tiga orang itu beneran super pinter. Jadilah raja itu bengong ketakutan sendirian. Raja itu kayak gue banget. Ngiri. Cemburu. Nggak seneng kalau ada yang seneng. Sebel sama yang sukses. Singkirin semua lawan biar gue aja yang ngetop. Oops, kalo ada yang kesindir, ya nasib.

Telolet! Tuhan kasih kita sukacita.

Yuk, kita bagiin sukacita itu. Nggak usah sebel kalo ada yang nggak bolehin kasih ucapan selamat natal ke kita. Teruslah bagiin sukacita ke semua orang. Nggak usah kuatir, Yesus tahu kapan dan gimana Dia bunyiin klakson buat kita, supaya kita punya semangat lagi. Jujur aja, apa elo juga sering telolet gitu?

Selamat Natal untuk semua!
Telolet telolet!

 

Jadi, kamu termasuk tipe telolet yang mana?


Inspire Facts

Om Telolet Om (dikenal juga dengan #OmTeloletOm) adalah fenomena di mana para anak-anak maupun remaja meminta supir bus untuk membunyikan klakson bus yang sudah dimodifikasi menjadi sebuah irama. Fenomena ini masuk ke ranah internet dan media sosial yang kemudian menjadi terkenal saat anak-anak remaja mengganggu akun media sosial figur publik seperti Donald Trump, Marshmello, Firebeatz, Dillon Francis, Cash Cash, maupun figur publik lainnya dengan cara membagikan fenomena “Om Telolet Om” melalui kolom komentar secara langsung. Fenomena ini kemudian ditanggapi dengan dibuatnya berbagai aransemen musik oleh para disjoki, lalu dipublikasikan melalui akun media sosial mereka dan dimainkan dalam konser massal. Salah satu konser musik yaitu Life in Color Miami mengumumkan bahwa “Om Telolet Om” adalah tema rahasia mereka.

Kata “telolet” merupakan onomatope atau tiruan bunyi dari bunyi klakson, dan kata ini juga merupakan suatu palindrom.

Disajikan oleh admin, dari Wikipedia

 

About Tano Shirani

Tano Shirani adalah lulusan program teologi Santa Clara University, California, Amerika Serikat. Sudah sejak lama, ia memiliki mimpi untuk ikut melayani orang muda melalui tulisan-tulisan rohani. Tano telah menerbitkan buku Namaku Lazarus: Merangkul Bisikan Kerahiman (Kanisius, 2016) dan Pendosa Jadi Pendoa: Gejolak Pertobatan Tujuh Pemazmur (Kanisius, 2017). Di tengah kesibukan menulis, menerjemahkan, dan menyunting berbagai tulisan, Tano juga melatih penulis-penulis rohani dalam komunitas Domus Cordis. Ia gemar melahap buku, dan sungguh percaya akan the power of words untuk mengubah dunia dan perjalanan seluruh sejarah umat manusia.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top