Tips Mengatur Keuangan di Tengah Situasi Wabah Coronavirus (COVID-19)

Young People, wabah coronavirus (COVID-19) yang terjadi belakangan ini, selain menyebabkan masalah kesehatan, juga menyebabkan gangguan stabilitas ekonomi. Kita terpaksa mengurangi banyak transaksi dengan orang lain demi menghindari terjadinya penularan, dan berbagai jenis usaha pun mengalami imbasnya. Para pemimpin negara dan para ekonom berusaha sekuat tenaga menjaga perekonomian agar tidak mengalami resesi (pelambatan ekonomi dalam skala nasional, bahkan dunia).

Dalam kondisi seperti ini, apa yang bisa kita lakukan? INSPIRE mau berbagi tips yang bisa Young People lakukan dalam mengatur keuangan di tengah situasi wabah coronavirus (COVID-19) ini.

1. Membeli barang-barang yang dibutuhkan secukupnya.

Ada perbedaan antara kebutuhan (needs) dengan keinginan (wants). Kebutuhan adalah sesuatu yang tanpanya kita tidak bisa bertahan hidup. Belilah barang yang dibutuhkan dalam jumlah cukup, misalnya bahan makanan, pakaian, atau alat kesehatan seperlunya. Hindari menimbun barang-barang seperti hand sanitizer, masker, atau bahkan membeli alat pelindung diri (APD), kecuali kita instansi kesehatan atau tenaga medis. Tindakan menimbun bisa berangkat dari keegoisan dan keserakahan, yang dapat menyebabkan orang lain menjadi korban, sehingga tentu saja ini bertentangan dengan prinsip cinta kasih yang diajarkan oleh Tuhan Yesus sendiri. Ingatlah bahwa cinta adalah tindakan yang memikirkan juga kebaikan orang lain. Ukurlah kebutuhanmu dan belilah barang hanya sesuai kebutuhan.

2. Memanfaatkan Potongan Harga (Discount) atau Cashback.

Beberapa usaha memberikan potongan harga atau diskon untuk mendorong terjadinya transaksi penjualan. Kalau memang ada kebutuhanmu yang bisa dipenuhi dengan peluang ini, kamu boleh mempergunakannya. Sebagai contoh, kamu bisa memesan makanan dengan menggunakan voucher yang disediakan aplikasi ojek online (Gojek atau Grab). Namun, ingat juga untuk tidak melakukannya secara berlebihan.

3. Meningkatkan dana darurat.

Dana darurat adalah dana yang kita sisihkan dan simpan untuk digunakan kapan saja dalam situasi darurat. Idealnya, dana darurat dimiliki sebesar 3-6 bulan gaji. Kalau kamu belum memiliki dana darurat, kamu bisa menyisihkan sekitar 10% dari pendapatan kotor. Namun, ketika dalam situasi seperti wabah coronavirus (COVID-19) ini, kamu bisa meningkatkan persentasenya sampai 15% pendapatan kotor. Dana darurat ini sifatnya liquid (cair), artinya dapat digunakan atau ditarik kapan saja ketika dibutuhkan. Untuk menyimpan dana darurat ini, sebaiknya gunakan rekening yang terpisah dari rekening yang biasa kamu gunakan, supaya tidak tiba-tiba habis terpakai.

4. Menyusun kembali instrumen investasi.

Kalau kamu memiliki investasi, ini saatnya untuk melihat lagi atau menyusun kembali strategi investasimu, sesuai dengan kondisi keuangan dan tingkat risiko yang dapat kamu terima. Jangan terburu-buru untuk menjual semua atau malah membeli banyak aset. Secara umum, jangan menaruh investasi hanya di satu tempat atau satu jenis, tetapi kamu perlu melakukan apa yang disebut dengan “diversifikasi investasi”, yaitu menaruhnya di beberapa tempat untuk memecah risiko. Ada instrumen dengan risiko rendah sampai dengan menengah, seperti obligasi, deposito, reksadana pasar uang atau reksadana pendapatan tetap; ada juga intrumen dengan risiko tinggi seperti saham. Jangan taruh semua uangmu sekaligus, tetapi sisihkan juga untuk kesempatan atau momentum khusus, misalnya kalau kamu mau membeli investasi yang harganya sedang turun. Walaupun demikian, tetap berhati-hati untuk tidak membeli saham yang anjlok secara agresif, tetapi tetap mengamati dan minta saran dari beberapa orang yang sudah ahli.

5. Tetap berbagi.

Situasi seperti ini mungkin situasi yang sulit. Walaupun demikian, ingatlah bahwa kita tidak hidup seorang diri, dan Tuhan memanggil kita untuk tetap memperhatikan saudara-saudari kita yang membutuhkan. Kalau kita masih bisa “work from home” (bekerja dari rumah), kita perlu bersyukur karena banyak orang yang kehilangan pemasukan atau pendapatan akibat situasi ini, misalnya pemilik usaha mikro, kecil, menengah (UMKM), pekerja harian, tukang ojek online, dan lain-lain. Kamu bisa berbagi kepada mereka melalui berbagai macam cara, misalnya melalui pembelian untuk kebutuhanmu, donasi, atau gerakan kasih kemanusiaan yang dibuka oleh pihak yang dapat dipertanggungjawabkan atau diverifikasi kebenarannya. Kita ingat cerita janda miskin di Sarfat, yang menampung Nabi Elia di masa kekeringan. Pada dasarnya, Sarfat adalah tempat yang panas dan kering, ditambah kota itu sudah tidak mengalami hujan untuk dua tahun. Janda tersebut hanya memiliki segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Namun, dalam kesusahannya, janda miskin tersebut masih memberi makan Nabi Elia, dan kita melihat bagaimana Tuhan mencukupkan kebutuhannya dan anaknya (1Raj 17:8-24).

Demikian tips untukmu dalam mengatur keuangan di tengah situasi wabah coronavirus (COVID-19) ini. Dalam situasi yang terasa berat, ada undangan Tuhan untuk kembali mendekat kepada Tuhan dan belajar percaya pada Penyelenggaraan Ilahi-Nya. Tetap berdoa, jaga kebersihan dan kesehatan, dan jangan lupa untuk mematuhi anjuran pemerintah #dirumahaja. Tuhan memberkati.

Buat kamu yang punya tips yang bermanfaat mengenai mengatur keuangan di tengah situasi wabah coronavirus (COVID-19) ini, boleh share di comment ya.

Sumber:

https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20200326103347-33-147564/6-tips-keuangan-untuk-bertahan-saat-pandemi-corona
https://satutumbuhseribu.valbury.co.id/2020/01/10/kiat-investasi-bagi-investor-muda-saat-resesi-ekonomi/ https://www.cnbcindonesia.com/news/20200327021116-4-147812/virus-corona-pengangguran-dan-resesi/3





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top