Tuhan Bisa Ngomong? 5 Cara Mendengarkan Suara Tuhan

Kamu tahu nggak kalau Tuhan bisa ngomong? Tuhan bisa berkomunikasi dengan kita selayaknya bercakap-cakap dengan sesama manusia. Dia bisa menjawab pertanyaan kita. Dia bisa mengungkapkan kasih-Nya pada kita, bahkan sampai kita bisa merasakan kasih tersebut dalam seluruh keberadaan kita. Dia juga bisa mengingatkan kita. Sejak kecil, kita diajari untuk berdoa, karena doa adalah salah satu cara berkomunikasi dengan Tuhan. Namun, seringkali terjadi, saat kita berdoa, kita terus menerus berbicara, ngoceh satu arah kepada Tuhan, akhirnya kita nggak ngeh kalau Tuhan juga berusaha untuk menyampaikan sesuatu kepada kita.

“Ketika kamu berdoa, jangan menguasai semua pembicaraan! Dengarkan! Kita berlaku tidak sopan kalau ketika kita berdoa, kita berceloteh dan bergumam terus, tanpa memberikan Tuhan kesempatan untuk mengutarakan sepatah kata. Berbicaralah, TUHAN, sebab hamba-Mu ini mendengar. Jika kita terus menerus mengetuk-ngetuk dengan palu kita, bagaimana Sang Arsitek Ilahi dapat mengatakan kepada kita bagaimana kita perlu membangun?” (Uskup Agung Fulton J. Sheen)

Di dalam Perjanjian Lama, para nabi, dalam tugasnya untuk mewartakan kebenaran, mereka diizinkan untuk mendengar suara Allah, bercakap-cakap dengan Tuhan, mendapatkan pesan dan instruksi dari Tuhan, baik untuk diri mereka sendiri maupun untuk umat Tuhan. Kedatangan Yesus dalam Perjanjian Baru membuat kita semua yang telah menerima Sakramen Baptis turut serta dalam tiga misi keselamatan Yesus, yaitu sebagai imam, raja, dan juga nabi. Sebagai nabi, berarti kita juga diizinkan untuk mendengarkan suara Tuhan, bercakap-cakap dengan Tuhan, mendapatkan pesan dan instruksi dari Tuhan, baik untuk diri kita sendiri maupun untuk umat Tuhan lainnya.

Masalahnya, karena satu dan lain hal, kita nggak ngerti bagaimana caranya mendengarkan suara Tuhan. Berikut ini adalah beberapa cara yang bisa kamu coba untuk mendengarkan suara Tuhan:

1. Melalui Firman Tuhan

Alkitab disebut-sebut sebagai surat cinta Tuhan buat kita. Firman Tuhan itu hidup. Ketika kamu membaca Firman Tuhan, sangat disarankan untuk membaca dengan cara yang tepat. Pertama, kamu nggak dianjurkan untuk hanya membaca ayat-ayat yang kamu suka sepotong-sepotong, melainkan harus dalam konteks yang tepat. Kedua, kamu nggak perlu buru-buru menghabiskannya. Coba saja untuk mengambil satu perikop per hari, renungkan perikop tersebut, dan coba ambil waktu untuk bertanya dan mendengarkan apa yang ingin Tuhan katakan melalui perikop tersebut.

Yang terjadi ketika kamu membaca Firman Tuhan yang kudus dan hidup dengan cara yang tepat adalah kamu jadi tahu mana kehendak Tuhan; kamu mulai menguduskan pemikiran dan hatimu sehingga makin serupa dengan kehendak Tuhan (Rm 12:2); kamu mendapatkan konfirmasi untuk hal-hal yang selama ini kamu jalani dengan baik, juga koreksi untuk hal-hal yang masih perlu kamu perbaiki. Di masa-masa sulit, Tuhan seringkali mengingatkanmu dengan cara memunculkan ayat-ayat tertentu di dalam pikiran atau hatimu supaya kamu memperoleh penghiburan dan kekuatan untuk tetap berjalan bersama-Nya.

2. Melalui kesadaran

Ada banyak peristiwa yang kita alami dari sejak bangun pagi sampai malam hari. Ada peristiwa yang sekadar rutinitas, ada juga peristiwa yang spesial dan “wow”, yang membuat kita mengingatnya sepanjang masa—misalnya, kita diajak kencan oleh orang yang kita suka—pastilah kita berbunga-bunga! Peristiwa yang terjadi sepanjang hari hanya akan jadi peristiwa yang numpang lewat kalau kita nggak ambil waktu untuk menyadari lagi tentang hal yang sudah terjadi, baik hal yang nggak mengenakkan, maupun yang menyenangkan.

Sebagai contoh, suatu kali kita merasa tersentil karena perkataan seseorang. Kita menganggap orang tersebut menyebalkan, atau hari itu kita sedang sial. Padahal, bisa jadi Tuhan mau mengatakan sesuatu melalui peristiwa itu. Mungkin saja ada luka di dalam hati kita yang ternyata belum sembuh, yang perlu disadari dan dikenali. Mungkin saja momen itu membawa diri kita ke peristiwa masa lalu, saat kita terluka karena perkataan yang sama. Bisa jadi sentilan tersebut adalah cara Tuhan berbicara pada kita bahwa ada hal yang perlu dibereskan di bagian itu. Kalau kita nggak “sadar”, sulit untuk membereskan atau menyembuhkannya.

Untuk bisa menyadarinya memang gampang-gampang sulit, karena seringkali kita sudah terbiasa melakukan sesuatu sehingga semua tanggapan yang kita keluarkan terhadap situasi dan kejadian merupakan sesuatu yang otomatis kita lakukan seperti biasa. Tantangannya adalah untuk melakukan segala sesuatu—kapan dan di mana pun—dengan kesadaran penuh. Kamu bisa memulainya dari hal sederhana seperti menyadari bahwa kamu sedang bernafas, sadar sedang mengerjakan tugas, sadar sedang berjalan, dan lain-lain. Hal ini akan membuat kita lebih peka pada apa yang Tuhan mau katakan pada diri kita. Memang perlu latihan apalagi mengingat banyak distraksi yang terjadi, tetapi menyadari hal-hal ini worth to try. Cara lainnya adalah dengan bertanya kepada Tuhan secara sadar, “Tuhan, apa yang ingin Engkau ingin katakan kepadaku melalui peristiwa yang aku alami?”

3. Melalui keindahan alam semesta

Tuhan bersuara melalui alam semesta beserta segala isinya (Mzm 19:1, Ay 38-41, Rm 1:20). Saya termasuk orang yang seringkali mendengar Tuhan berbicara melalui alam semesta beserta segala isinya. Apalagi kalau melihat pemandangan alam, langit beserta bintang-bintang, rasanya secara otomatis mendengar suara Tuhan. Betapa Tuhan kita adalah pencipta yang luar biasa. Dia adalah seniman yang hebat. Kalau kamu benar-benar merenungkan, memikirkan, dan membayangkan kehebatan alam semesta ini, harusnya kamu akan terkejut ketika akhirnya kamu mendengar Tuhan berteriak kepadamu dengan sangat keras, bahwa Dia sungguh mengasihimu!

“Karena Allah adalah Sang Pencipta dan karena alam ciptaan mencerminkan dan menyingkapkan Sang Pencipta, dan karena Allah adalah kasih, semua ciptaan bagaimana pun juga akan mencerminkan dan menyingkapkan kasih.” (Peter Kreeft)

Dalam sebuah pengelihatan, Tuhan berkata kepada St. Teresa dari Avila, “Aku akan menciptakan seluruh alam semesta lagi hanya untuk mendengar bahwa engkau mengasihi Aku.” Dalam segala keromantisan, alam semesta ini menjadi karya kreatif cinta Tuhan, untuk terus berseru kepada kita berulang-ulang, “Aku mencintaimu!” Tuhan menyatakan bahwa Ia sudah mencintai kita—bahkan sebelum sore (yang sudah nonton, pasti tahu ini film apa)—dan kita nggak perlu menunggu karena Ia sudah terlebih dahulu mendekati kita. Dalam segala kelimpahan cinta-Nya, Ia pun datang mendekati kita, menjadi salah satu dari karya ciptaan, untuk membiarkan tangan-Nya terentang di atas kayu salib, menyerukan kepada kita, “Lihat, sebesar inilah cinta-Ku kepadamu!”

4. Melalui keheningan

Santa Teresa dari Kalkuta ada mengatakan, “Tuhan berbicara melalui keheningan hati.” Seiring dengan berkembangnya teknologi, segala sesuatu dituntut untuk berjalan cepat dan seketika. Dunia bisa menjadi sangat berisik, tanpa waktu untuk berhenti dan menunggu. Keheningan menjadi sesuatu yang sulit ditemukan. Padahal, Tuhan seringkali berbicara atau menyatakan sesuatu di dalam keheningan.

Lalu firman-Nya: “Keluarlah dan berdiri di atas gunung itu di hadapan TUHAN!” Maka TUHAN lalu! Angin besar dan kuat, yang membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu, mendahului TUHAN. Tetapi tidak ada TUHAN dalam angin itu. Dan sesudah angin itu datanglah gempa. Tetapi tidak ada TUHAN dalam gempa itu. Dan sesudah gempa itu datanglah api. Tetapi tidak ada TUHAN dalam api itu. Dan sesudah api itu datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa. Segera sesudah Elia mendengarnya, ia menyelubungi mukanya dengan jubahnya, lalu pergi ke luar dan berdiri di pintu gua itu. Maka datanglah suara kepadanya yang berbunyi: “Apakah kerjamu di sini, hai Elia?” (1 Raja-raja 19:11-13)

Walaupun Tuhan bisa membuat kita mendengar suara-Nya langsung di telinga kita, tetapi seringkali Ia berbicara di dalam kedalaman hati kita, melalui gerakan-gerakan hati kita, melalui sesuatu yang timbul di dalam kedalaman hati kita. Bisa jadi, suara-Nya jadi sulit terdengar karena kita kesulitan untuk berada dalam hening.

Keheningan menghantarkan diri kita pada Tuhan. Keheningan membuat kita menghadapi diri kita sendiri. Keheningan membantu kita lebih jelas melihat segala sesuatu yang terjadi.

Untuk merasakan keheningan, teman-teman bisa mencoba mengambil waktu hening selama beberapa menit, setiap pagi saat bangun tidur atau sebelum tidur; atau mencoba untuk nggak menyalakan musik atau radio ketika di dalam perjalanan; atau dengan mengikuti retret silentium, memberikan waktu kita untuk diam, nggak berbicara dengan orang lain, tetapi berusaha berdialog dengan Tuhan.

5. Melalui orang lain di sekitar kita

Teman-teman atau lingkungan kita juga bisa menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk berkomunikasi dengan kita. Teman-teman atau lingkungan kita sehari-hari mengingatkan kita untuk bertumbuh menjadi orang yang lebih baik lagi dari hari ke hari. Tuhan bisa berbicara melalui teguran dari mereka, sapaan penuh kasih, atau pun hanya dengan keberadaan mereka.

Itulah sebab bahwa penting bagi kita untuk mempertimbangkan lagi kondisi lingkungan pertumbuhan dan perkembangan kita. Apakah lingkungan kita adalah lingkungan yang membangun, ataukah justru malah memberikan pengaruh yang kurang baik? Hal-hal seperti apa yang di-post di media sosial teman-teman kita—sesuatu yang konstruktif, atau negatif? Akun media sosial seperti apa yang kita follow? Puji Tuhan, kalau kita punya lingkungan yang mendukung.

Dalam usaha untuk bertumbuh, kita juga membutuhkan teman-teman mempunyai niat yang sama supaya mereka bisa menjadi sparring partner, rekan latihan kita (Ams 27:17). Inilah pentingnya berkomunitas. Atau kamu memerlukan kegiatan yang menawarkan pola pikir dan alasan baru untuk menginspirasi pertumbuhanmu (Rm 12:2). Melalui kegiatan Inspire Young People, setiap Sabtu pertama di Sanggar Prathivi, Jakarta Pusat, kamu bisa mendengarkan talk dan berdiskusi seputar isu orang muda dari sisi ajaran Gereja Katolik. Melalui talk seperti ini, Tuhan pun berbicara banyak pada kita yang mau mendengarkan.

Tuhan tidak terbatas dalam cara-Nya untuk berkomunikasi denganmu!

Masih banyak lagi sih cara mendengarkan suara Tuhan. Tuhan memiliki cara tersendiri untuk berbicara kepadamu, melalui cara yang kamu banget! Dia adalah Tuhan yang kreatif, dan Dia tahu bagaimana caranya berkomunikasi dengan kita, yang punya keunikan masing-masing.

Karena Dia yang menciptakanmu, maka Dia akan mengetahui cara paling ampuh, yang bisa membuatmu mendengar suara-Nya. Bisa jadi, Dia berbicara kepadamu melalui post-post di media sosial. Yang penting, kamu perlu mau, rela, untuk merendahkan diri dan membuka hatimu kepada-Nya. Kamu bisa mencoba untuk berdoa begini kepada-Nya, “Tuhan, berbicaralah kepadaku dengan cara yang aku banget, buatlah aku mengetahui bahwa Engkaulah yang sedang berbicara kepadaku.”

Jangan ragu juga untuk bertanya kepada mereka yang lebih senior dan berpengalaman dalam iman kalau kamu memiliki kesulitan dalam usahamu lebih dekat kepada Tuhan (boleh juga kalau mau bertanya melalui INSPIRE di info@letsinspire.co ya, sertakan subjek #AskINSPIRE, nanti kontributor kami akan menjawab pertanyaanmu). Melalui berbagai pengalaman, teman-teman akan menemukan cara yang tepat di mana Tuhan berbicara khusus pada teman sekalian. Selamat mencoba. Jangan mudah menyerah untuk membangun hubunganmu lebih dekat dengan Tuhan. Yakin deh, hidup kamu nggak akan sama lagi!

“Kebanyakan hal yang benar dari hubungan insani juga benar untuk hubungan kita dengan Allah. Hubungan manusiawi seperti persahabatan dan perkawinan membutuhkan waktu, perhatian, dan kepedulian sehingga bisa terus berlanjut dan bertumbuh. Begitu juga hubungan kita dengan Tuhan. Kita telah dipanggil kepada persatuan dengan-Nya tetapi kita perlu menanggapi. Saat kita berpaling kepada Tuhan dalam pertobatan atau penyadaran yang lebih dalam, selain berpaling dari dosa yang disengaja—yang merusak jiwa, menghalangi hubungan dan menghina Dia yang telah mengurbankan hidup-Nya bagi kita—kita perlu dengan positif membangun hubungan tersebut dengan cara menaruh perhatian kepada Dia yang mengasihi kita. Doa, pada dasarnya sesederhana menaruh perhatian kepada Allah.” (Ralph Martin)

Gambar dari Anson Frame.





3 comments on Tuhan Bisa Ngomong? 5 Cara Mendengarkan Suara Tuhan

  1. Widiya Apriyani says:

    Terima kasih lets inspire, stelah membacanya sy menyadari betapa Tuhan mencintai sy, manusia yg penuh dosa ini😊. Semoga Tuhan sllu memberkati setiap orang yg berada dibalik tulisan2 lets inspire.

    1. INSPIRE says:

      Terima kasih banyak, Widiya! Mohon doanya untuk kami ya 🙂 Tuhan memberkatimu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top