Yuk, belajar lagi makan bersama!

Coba bayangin. Kamu mau bikin acara kumpul-kumpul perpisahan untuk temanmu. Setelah sekian big hugs, setelah sekian cipika-cipiki, kamu langsung asyik ngobrol. Cerita apa aja. Nggak jelas arahnya. Kata demi kata. Tawa demi tawa. Cerita lagi. Begitu seterusnya. Tapi, betapa garingnya ngobrol kalo nggak ada makanan dan minuman sama sekali.

Kebalikannya juga sama repotnya. Bayangin, kamu datang, langsung makan minum. Nggak ada tuh yang namanya saling tanya, saling cerita. Nggak ada tawa bersama. Satu kata pun nggak terucap. Makan doang. Ngumpul di sekitar meja, tetapi masing-masing sibuk makan dan minum sepuasnya, nggak pake ngobrol.

Jadi, mana yang kamu pilih? Cuma ngobrol doang tapi nggak makan-minum, atau cuma makan-minum doang, nggak ngobrol sama sekali? Yang cocok, dan terasa paling natural, ya kita ngumpul, kita ngobrol, kita makan dan minum.

Perjamuan Malam Terakhir

Perjamuan Malam Terakhir

Waktu Yesus mau pergi, Dia khusus makan bareng murid-murid-Nya. Ngapain aja mereka? Ngumpul, ngobrol, makan minum, sudah sering. Namun, malam itu terasa beda. Mereka tahu, malam itu bener-bener bakal jadi kesempatan terakhir mereka makan bareng Yesus. Nggak ada yang bercanda, justru lebih banyak diam. Masing-masing tenggelam dalam lamunan, pikiran, kecemasan. Mereka sudah lama kenal. Malam itu, mereka ngobrol dari hati ke hati dan nggak butuh banyak kata, karena sudah ada ikatan kuat.

Yesus bekata, “Inilah Tubuh-Ku, makanlah. Inilah Darah-Ku, minumlah. Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Aku.” Artinya, Yesus bilang, “Kalau kamu semua yang jadi pengikut-Ku ingin menghadirkan lagi pengalaman bersama-Ku, kamu harus ngumpul, makan-minum bareng, dan ngobrol tentang Aku.” Itu yang dilakukan para murid setelah Yesus pergi. Dari rumah ke rumah giliran merayakan “pemecahan roti.” Mereka ngobrol, dengerin cerita dan ajaran dari para rasul yang pernah kenal Yesus dari dekat.

Di dalam Perjamuan Terakhir itu, lahirlah dua Sakramen. Yesus berperan sebagai Sang Imam yang memimpin perjamuan makan bersama. Ngumpul bareng, ngobrol, makan dan minum yang semula biasa saja, sejak malam itu menjadi perayaan Ekaristi. Sakramen Imamat dan Sakramen Ekaristi dilahirkan bersama pada malam Perjamuan Terakhir itu.

Gimana pas kita ngumpul bareng?

Perjamuan Kudus

Banyak yang ngeluh karena Misa terasa garing. Kenapa? Kalo pas ngumpul bareng, kamu pasti nggak bakalan pasif. Kamu punya cerita dan kamu juga dengerin cerita temenmu. Begitu juga dalam Misa. Dalam liturgi sabda, kita dengerin Tuhan yang mau cerita ke kita. Kita bisa siapin juga cerita kita ke Tuhan dengan baca dulu bacaan-bacaan itu. Kita curhat ke Tuhan dalam doa. Kita juga diam, dengerin Tuhan ngomong apa. Tapi, jangan lupa, yang datang bukan cuma kita. Bayangin juga, orang-orang lain itu punya cerita apa!

Hanya kalau kita aktif ikut ngobrol bareng bersama Yesus, makan dan minum bersama yang jadi puncaknya—waktu kita makan Tubuh Kristus, minum Darah Kristus—bakal terasa lebih dalam. Kalau ikut Misa cuma dengan sikap asal-nanti-terima-Komuni, itu sama aja dengan ngumpul bareng temen-temen, tapi kamu diem aja, dan akhirnya sibuk makan-minum doang.

Di hari Kamis Putih, hari ulang tahun Sakramen Imamat dan Sakramen Ekaristi, coba deh tanya: Gimana ya caranya, supaya Misa bener-bener jadi kesempatan ngobrol dan makan bersama Yesus dan murid-murid-Nya (baca: umat) yang lain? Mungkin nggak ya, tiap kali selesai Misa, kamu bisa ngobrol dikit dengan satu kenalan baru?

About Tano Shirani

Tano Shirani adalah lulusan program teologi Santa Clara University, California, Amerika Serikat. Sudah sejak lama, ia memiliki mimpi untuk ikut melayani orang muda melalui tulisan-tulisan rohani. Tano telah menerbitkan buku Namaku Lazarus: Merangkul Bisikan Kerahiman (Kanisius, 2016) dan Pendosa Jadi Pendoa: Gejolak Pertobatan Tujuh Pemazmur (Kanisius, 2017). Di tengah kesibukan menulis, menerjemahkan, dan menyunting berbagai tulisan, Tano juga melatih penulis-penulis rohani dalam komunitas Domus Cordis. Ia gemar melahap buku, dan sungguh percaya akan the power of words untuk mengubah dunia dan perjalanan seluruh sejarah umat manusia.





2 comments on Yuk, belajar lagi makan bersama!

  1. Olan says:

    Setuju^^…, mengenang (mnghadirkn kmbli kisah2 – pngalmn2 pribadi jg tntunya) dg (brkumpul, blajar n mngajar) lwt kbiasaan yg paling disukai n mudah yaitu makan2 (mengunyah^^, ruminatio). Memohon jg rahmat2 dr Bunda Maria – dg pmikirn krn tiap pribadi tntunya pnya devosi yg brbeda2 (klerus dan awam tdk trkcuali^^) – talenta dan bakat jg, dan bila disatukn^?^ Tanda kutipnya : semper fi^^

  2. PID says:

    Kadang kita juga beranggapan bahwa Ekatisti sekedar jamuan makan sederhana, tidak ada persiapan diri, lupa mencuci tangan (tidak membersihkan diri = penuh dosa) padahal yang kuta terima adalah Tubuh dan Darah Kristus. Disamping sikap kita yang lain yang kurang pantas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top